Faktor Ini Bisa Picu Konflik Rumah Tangga, Berikut Cara Menghindarinya (Bag.2)

Oleh: Hj. Lenny Umar *

Selain karena faktor ekonomi keluarga dan juga adanya perselingkuhan (penyelewengan) juga bisa berasal dari faktor anak dan adanya campur urusan pihak keluarga. Faktor ekonomi dan perselingkuhan sudah kita uraikan sebelumnya, berikut penjelasan akan faktor anak dan campur urusan keluarga besar yang dapat menimbulkan konflik rumah tangga.

promooktober

Ketiga, anak.

Anak memang sering menjadi penyebab terjadinya konflik suami dan istri. Sebagian besar menilai bahwa tingkah laku dan kenakalan anak memang mendasari setiap kasus perselisihan mereka. Adapun yang bertanggung jawab penuh terhadap perilaku si anak adalah orang tua sebagaimana dalam hadits Rasulullah Saw.,

Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya lah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (H.R.Bukhari).

Hadits lain menyatakan, “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah”. Maka tergantung kedua orang tuanya, hendak membentuk anak-anak seperti apa. Apabila anak thaleh (salah) dan selalu menyusahkan bersegeralah menyadari bahwa suami atau isteri yang menjadi orangtua mereka telah melalaikan pengasuhan dan pendidikan secara Islami. Sebab anak yang shaleh lahir dari orang tua yang shaleh juga.

Islam mengajarkan kepada kita bahwa sesungguhnya anak itu adalah amanah Allah Swt. yang harus dibina, dipelihara dan di didik secara seksama dan sempurna. Setiap orang tua tentunya ingin agar anaknya menjadi insan kamil yang berguna bagi agama, bangsa dan negara.

Oleh sebab itu, orangtua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Mereka harus diajarkan akidah, tauhid, berakhlak dan beribadah sejak dini. Sebab sangat sulit mendidik anak yang sudah berusia remaja dan dewasa. Apabila sudah terlanjur anak selalu menjadi sosok yang menyusahkan. Suami maupun isteri tidak perlu saling menyalahkan.

Isteri dan suami harus cepat-cepat sadar akan kekurangan dan kekhilapan dan segera memperbaiki keadaan. Senantiasa meminta petunjuk dan pertolongan kepada Allah Swt. Agar anak-anak menjadi perhiasan kehidupan dunia yang akan menyenangkan hati. Sebagaimana firmanNya, “Harta benda dan anak-anak itu sebagai perhiasan hidup di dunia” (Q.S. Al Kahfi ayat 46), dan dalam firman-Nya lain, “Wahai Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami (agar) istri kami dan anak cucu kami sebagai penyejuk pandangan mata” (Q.S. Al-Furqon ayat 74).

Keempat, pihak keluarga lain.

Pihak keluarga lain juga dinilai sebagai pemicu terjadinya konflik antara suami dan istri. Mertua dan anggota keluarga lain sering menjadi penyebab terjadinya perselisihan antara suami dan istri. Kemungkinan yang paling besar bisa terjadi terutama bila mereka hidup dalam satu atap (mertua dan keluarga utamanya).

Saudara, orangtua atau pihak lain boleh jadi bias menjadi pemicu konflik rumah tangga. Pada dasarnya, dalam menjalankan tugas-tugasnya dan memecahkan konflik rumah tanggga, suami istri hendaknya selalu mengambil jalan musyawarah untuk mencapai solusi terbaik bagi seluruh anggota keluarga.

Apa dan dari mana pun timbulnya masalah, bukanlah perkara yang terlalu harus dipersoalkan. Justru cara dan pendekatan yang baiklah yang perlu dilakukan untuk mencari jalan penyelesaian. Islam mengajarkan kelembutan dan ketenangan dalam menyelesaikan masalah, bukan dengan menggunakan emosi dan perasaan belaka.

Kedudukan suami dalam keluarga pun sesuai dengan fitrahnya dan tanggung jawabnya, adalah kepala dan pemimpin keluarga, maka harus bertanggung jawab atas baik buruknya keluarga. Imam rumah tangga harus mampu bersikap bijak dan adil, tidak semena-mena dalam memberikan keputusan. Begitu juga peran dan tanggung jawab isteri.

Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Tahrim ayat 6 yang artinya,”hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Dengan kata lain, suami isteri harus mampu menjaga diri sendiri dan keluarganya dari perbuatan keji dan mungkar yang dibenci Allah, dan senantiasa melakukan amalan baik dan saling menasehati dalam hal kebaikan.

Komitmen menikah dan mengarungi bahtera rumah tangga perlu berlandaskan semata-mata bertujuan ibadah kepada Allah Swt. sehingga disadari betapa hidup menjadi suami isteri dalam jalinan keluarga adalah perjalanan yang sama-sama dilewati dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“. (QS At-Taubah: 71).

Untuk mewujudkan semua itu kuncinya adalah suami dan isteri harus tafahum (saling memahami), ta’awun berarti saling menolong, dan takaful (penyeimbang) dalam segala hal dan dalam kondisi apa pun yang sekiranya keduanya tetap dalam ketaatan kepada Allah Swt. Wallahu’alam [ ]

*Penulis adalah ibu rumah tangga, pegiat dakwah dan penulis buku.

 

Lenny Umar

 

Red: Ahmad

Editor: Iman

Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

(Visited 14 times, 1 visits today)

REKOMENDASI