Faktor Ini Bisa Picu Konflik Rumah Tangga, Berikut Cara Menghindarinya (Bag.1)

Oleh: Hj. Lenny Umar *

Konflik antara suami dan istri adalah faktor peretak rumah tangga yang akan membuat sirna harapan mereka untuk mencapai rumah tangga yang sakinah, warahmah dan mawadah. Faktor penyebab yang paling memungkinkan terjadinya konflik antara suami dan istri.

Pertama, kondisi ekonomi rumah tangga.

Keadaan ekonomi rumah tangga dinilai sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya perselisihan antara suami istri. Kebutuhan yang mendesak tetapi pendapatan yang pas-pasan acapkali menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga.Dalam rumah tangga Islam, baik suami maupun isteri jauh dari sikap mengeluh dan putus asa dalam kondisi apa pun. Tak terkecuali dalam menghadapi kehidupan ekonomi yang pas-pasan. Isteri sebagai pengelola keuangan keluarga memang perlu mengatur pengeluaran dan pendapatan secermat mungkin.

Dengan hati lapang dan sabar, isteri senantiasa menjalani kewajibannya tanpa memiliki rasa kesal dan benci terhadap pendapatan suami. Walaupun  dirasa pas-pasan, sikap isteri senantiasa mesra dan penuh kasih sayang dalam melayani suami dan anak-anaknya. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tapi kekayaan adalah yang ada di hati” (HR. Bukhari Muslim)

Salah satu hakikat sabar dalam bahtera rumah tangga adalah menghilangkan keluh kesah pada saat tidak enaknya menghadapi segala kekurangan. Tidak ada keluh kesah selain pada Allah Swt. isteri tipe ini selalu mensyukuri keadaan ekonominya dalam setiap doanya. Sebab ia tahu bahwa Allah berfirman,

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7)

Dalam sikap dan perilaku sabar dan bersyukur yang ditunjukkan isteri, semestinya suami harus semakin termotivasi untuk mencari rejeki. Dalam dirinya muncul semangat untuk lebih menjadi giat dan memaksimalkan ikhtiar untuk menjemput rezeki dar-Nya. Maka suami isteri harus berupaya istiqomah. Allah berfirman,

“Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” (Al-Jin : 16)

Selanjutnya berinfak dan bershadaqah. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada satu haripun yang berlalu kecuali ada dua malaikat yang turun, satu malaikat berkata, Ya Allah, berilah kepada orang yang berinfak di hari ini ganti untuknya. Dan malaikat yang lainnya berkata, Ya Allah berikanlah kerugian kepada orang yang tidak berinfak di hari ini.” (HR. Bukhari Muslim).

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,“Sesungguhnya shodaqoh itu tidak pernah mengurangi harta.” (HR. Bukhari Muslim). Dan berbuat baik kepada orang-orang yang lemah. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw., bersabda, “Tidaklah kalian itu mendapatkan rizky dan mendapatkan pertolongan kecuali kalau Bukhari).

Kedua, perselingkuhan dan penyelewengan.

Kasus ini sering dianggap sebagai faktor penyebab terjadinya konflik berkepanjangan. Jangankan sudah terjadi perselingkuhan, baru sebatas dugaan dan indikasi yang belum jelas pun kurang-kurangnya dapat memicu terjadinya konflik yang serius. Sebab hal ini menyangkut soal hati dan kepercayaan. Dalam al-Quran dan Hadist Sahih Bukhari Muslim tentang selingkuh berkaitan dengan keterangan seputar zina. Dalam Islam, perbuatan mendekati zina dilarang apalagi sampai zina sungguh sangat dilarang  oleh Allah, sesuai dengan firman Allah,

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Q.S. Al Isra  32)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Tidak halal darah seorang muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin)’.” (H.R Bukhari dan Muslim).

Kedua keterangan tersebut menegaskan bahwa perbuatan selingkuh, baik selingkuh mata, selingkuh perasaan dan hati bahkan selingkuh yang mengarah kepada perbuatan zina merupakan perbuatan tercela. Sebab mana mungkin rumah tangga akan dipenuhi dengan kasih sayang, ketenangan dan kebahagiaan yang diramatai Allah Swt, apabila satu dari pasangan suami isteri telah menodainya dengan perbuatan selingkuh seperti itu.

Konflik yang berdasarkan masalah selingkuh atau menyeleweng acap kali berujung kepada perceraian. Sedikit sekali yang dapat bertahan karena sebab ini. rasa ketidak percayai, rasa dendam, rasa takut dibohongi dan sterusnya akan selalu membayang-bayangi salah satu pihak apabila pasangannya pernah melakukan perselingkuhan.

Oleh sebab itu, suami maupun isteri harus bernar-benar taat kepada Allah Swt. sehingga iman dan taqwanya akan menjadi benteng dari perbuatan terhina itu. Selain itu, suami isteri harus senantiasa berkomunikasi untuk menguatkan tali hati dan kedekatan agar senantiasa diliputi rasa kasih sayang yang tidak semu.

Keluarga sakinah, warahmah dan mawadah itu di dalamnya tidak saling mendustai, tidak ada cinta semu, tidak pernah menutup-nutupi sesuatu hal dan senantiasa takut kepada Allah Swt karea Dia adalah maha Melihat dan Mendengar. [ Bersambung…….]

 

Lenny Umar

*Penulis adalah ibu rumah tangga, pegiat dakwah dan penulis buku.

Red: Ahmad

Editor: Iman

(Visited 7 times, 1 visits today)

REKOMENDASI