Selamatkan Keluarga dari Fitnah Ad-Dajjal, Ini Caranya (Bagian 2)

Beriman dan bertauhid di dalam Islam bukanlah berarti sekedar melafalkan dua kalimat syahadat. Melalui hadits di atas, Nabi shalallahu’alaihiwasallam mensyaratkan bahwa seseorang hendaknya mengetahui, mengilmui, memahami bahwa substansi bertauhid adalah mengetahui benar-benar bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah. Janganlah seseorang yang bersyahadat memperlakukan kalimat tauhid sebagai sebuah doktrin atau dogma yang dia terima tanpa memahami maknanya.

Dan termasuk memahami makna kalimat tauhid adalah sampai mengerti bahwa beriman di dalam Islam bukanlah suatu perkara yang bersifat statis. Setiap muslim bisa saja mengalami iman yang pasang-surut, naik-turun bahkan bisa sampai batal. Oleh karena itu si muslim juga harus memiliki ilmu mengenai nawaaqidhul iman (pembatal-pembatal iman). Apalagi jika si muslim menyadari bahwa ancaman utama terhadap dirinya yang hidup di era fitnah akhir zaman ialah ancaman riddah (kemurtadan). Sebagaimana yang Nabi shalallahu’alaihiwasallam telah prediksikan di dalam hadits berikut:

promooktober

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

“Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang masih dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di sore harinya. Di sore hari seseorang masih dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di pagi harinya. Dia (rela) menjual din-nya (agamanya) demi barang (mendapatkan) kenikmatan dunia.” (HR Muslim – Shahih)

Konsekuensi lain dari mengikrarkan kalimat tauhid ialah keharusan untuk meng-kufuri thaghut di samping beriman kepada Allah. Artinya, tidak sah iman seseorang kecuali setelah menyatakan kekufurannya terhadap thaghut. Sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat berikut:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Al Baqarah 256)

Al-Urwatul Wutsqo (buhul tali yang kuat) maknanya adalah kalimat tauhid لا إِله إِلا اللـه . Tafsir ayat di atas adalah “Barangsiapa yang menyatakan beriman kepada Allah tetapi tidak kufur terhadap segala yang diibadahi selain Allah (thaghut) berarti ia belum sepenuhnya berpegang teguh kepada Al-Urwatul Wutsqo dan pernyataan syahadatnya tidak bermanfaat baginya dan tidak mampu menyelamatkannya dari api neraka.”

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan ingkar terhadap penghambaan kepada selain Allah, maka terpeliharalah hartanya, darahnya dan hisabnya terserah Allah.” (HR Muslim – Shahih)

Musuh utama da’wah tauhid para Nabi dan Rasul Allah ‘alaihimus-salaam adalah para thaghut di zaman dan wilayahnya masing-masing. Para thaghut itu berupa penguasa yang diajak untuk tunduk kepada aturan dan hukum Allah namun mereka berlaku sombong sehingga mengingkari ajakan da’wah tauhid para utusan Allah.

Nabiyullah Nuh ‘alaihis salam berhadapan dengan thaghut berupa pemuka kaumnya. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berhadapan dengan thaghut berupa penguasa bernama Raja Namrud. Nabi Musa ‘alaihis salam berhadapan dengan thaghut fenomenal penguasa Mesir Fir’aun yang sampai berani mendeklarasikan dirinya sebagai Rabb, mirip seperti yang kelak akan dideklarasikan pula oleh Ad-Dajjal. Nabi Muhammad shalallahu’alaihiwasallam menghadapi thaghut berupa pemuka Quraisy seperti Abu Lahab dan Abu Jahal beserta kawan-kawannya.

Oleh karenanya, sebagai seorang muslim yang hidup di era penuh fitnah di akhir zaman menjelang keluarnya Ad-Dajjal, maka ber-tauhid dengan shiddiq dan istiqomah merupakan sebuah kewajiban. Dan keharusan menjadi muwahhid (ahli tauhid) yang shiddiq dan istiqomah harus dibentuk semenjak sebelum Ad-Dajjal keluar. Sebab Nabi Muhammad shalallahu’alaihiwasallam menjamin bahwa barangsiapa yang dapat selamat menghadapi rangkaian fitnah sebelum keluarnya fitnah Ad-Dajjal, maka ia akan selamat pula menghadapi fitnah Ad-Dajjal sesudahnya. Demikian pula sebaliknya, barangsiapa yang gagal menghadapi rangkaian fitnah sebelum Ad-Dajjal, niscaya dia akan gagal menghadapi fitnah Ad-Dajjal sesudahnya.

ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Ad-Dajjal disebut-sebut di dekat Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam lalu beliau bersabda: “Sungguh fitnah sebagian dari kalian lebih aku takutkan dari fitnahnya Ad-Dajjal. Dan tidak ada seseorang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Ad-Dajjal melainkan pasti selamat pula darinya (fitnah Ad-Dajjal) setelahnya. Dan tidak ada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali untuk (menjemput) fitnah Ad-Dajjal.” (HR Ahmad – Shahih)

Di dalam hadits di atas Nabi shalallahu’alaihiwasallam mengatakan bahwa “Sungguh fitnah sebagian dari kalian lebih aku takutkan dari fitnahnya Ad-Dajjal”. Apakah fitnah yang lebih ditakutkan oleh Nabi shalallahu’alaihiwasallam melebihi fitnah Ad-Dajjal? Padahal jelas-jelas Nabi shalallahu’alaihiwasallam menyebut fitnah Ad-Dajjal sebagai fitnah yang paling dahsyat.

Hal ini pernah ditanyakan oleh seorang sahabat yaitu Abu Dzarr Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu.

لَغَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُنِي عَلَى أُمَّتِي قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذَا الَّذِي غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُكَ عَلَى أُمَّتِكَ قَالَ أَئِمَّةً مُضِلِّينَ

Abu Dzar berkata, “Aku berjalan bersama Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam, kemudian beliau bersabda: “Selain Ad-Dajjal, ada yang lebih aku takuti atas ummatku,” Nabi shalallahu’alaihiwasallam mengucapkannya tiga kali, maka aku (Abu Dzar) bertanya, “Wahai Rasulullah, yang engkau takuti atas umatmu selain Ad-Dajjal itu apa?” Nabi shalallahu’alaihiwasallam menjawab: “Para a’immah mudhilliin (para pemimpin yang menyesatkan).” (HR Ahmad – Shahih)

Pantas bilamana Allah sampai menggambarkan di dalam Kitab-Nya penyesalan yang begitu mendalam pada suatu kaum yang sewaktu di dunia begitu saja menyerahkan wala’ (loyalitas) dan tho’ah (kepatuhan) kepada para pemimpin dan pembesar yang menyesatkan mereka. Para pemimpin dan pembesar yang tidak mengajak kepada mentaati Allah dan Rasul-Nya.

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولا وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلا رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

“Pada hari ketika muka mereka (ahli neraka) dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andai kata (di dunia) kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”.(QS. Al-Ahzab: 66-68)

Sungguh di era fitnah akhir zaman menjelang keluarnya Ad-Dajjal dunia dipenuhi oleh para pemimpin menyesatkan yang seolah menjadi mukaddimah sebelum keluarnya puncak pemimpin yang paling menyesatkan ummat manusia, yaitu Ad-Dajjal. Mereka akan memimpin tanpa petunjuk Allah. Mereka mencampakkan Kitabullah dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Mereka memimpin dengan petunjuk syetan. Merekalah para thaghut. Umat yang mematuhi mereka akan celaka. Sedangkan umat yang mengingkari mereka bakal selamat. Demikian pesan Nabi Muhammad shalallahu’alaihiwasallam.
سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ
Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam bersabda: “Akan muncul pemimpin-pemimpin yang kalian kenal, tetapi kalian tidak menyetujuinya. Orang yang membencinya akan terbebaskan (dari tanggungan dosa). Orang yang tidak menyetujuinya akan selamat. Orang yang rela dan mematuhinya tidak terbebaskan (dari tanggungan dosa).” (HR Muslim – Shahih)

Bagaimana mereka tidak disebut para pemimpin menyesatkan sedangkan mereka tidak memimpin kaumnya dengan petunjuk dan wahyu dari Allah? Mereka pada hakekatnya tidak mengikuti petunjuk sehingga umat yang mereka pimpinpun menjadi tidak mengikuti petunjuk. Mereka adalah pemimpin yang menyesatkan, sehingga umatpun menjadi sesat. Celakanya umat baru akan sadar ketika segala sesuatunya sudah terlambat. Sehingga yang ada hanyalah penyesalan yang tiada berguna. Wa na’udzubillahi min dzaalika…

وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِنْ مَحِيصٍ

“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah (rakyat kebanyakan) kepada orang-orang yang sombong (penguasa kebanyakan): “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri”. (QS Ibrahim 21)

Berarti Nabi Muhammad shalallahu’alaihiwasallam memperingatkan ummat ini agar mewaspadai para pemimpin menyesatkan yang merupakan fitnah yang lebih Nabi shalallahu’alaihiwasallam takuti menimpa ummatnya dari fitnah Ad-Dajjal. Dan fitnah tersebut akan datang sebelum atau menjelang keluarnya fitnah Ad-Dajjal.

Artinya, jika seseorang sudah gagal menghadapi fitnah a’immah mudhilliin (para pemimpin yang menyesatkan), bagaimana lagi dia akan selamat menghadapi fitnah Ad-Dajjal yang merupakan pemimpin (thaghut) yang paling dahsyat dalam menyesatkan manusia?

Wallahu’alambish-showwaab.
Penulis : Ust. Ihsan Tandjung

Sumber : www. bolehjadikiamatsudahdekat.com

 

(Visited 36 times, 1 visits today)

REKOMENDASI