Kewajiban Muslim dalam Hadapi Ujian (Bagian III)

Oleh H. Tate Qomaruddin *

Melanjutkan tulisan yang pertama dan kedua berikut adalah ujian lainnya yang dihadapai seorang mukmin dalam beribadah, beramal saleh, menegakkan kebenaran, dan menyebarkan kebajikan.

promooktober

Berdayakan Keimanan
Rasulullah Saw. bersabda,“Bersegeralah beramal sebelum datang ujian-ujian datang bagaikan gulita malam. Seseorang di pagi hari beriman dan di sore hari menjadi kafir serta di sore hari beriman dan di pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan secuil dunia.” (H.R. Muslim)

Sesungguhnya dunia ini manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya. Maka hendaknya dia memperhatikan bagaimana seharusnya dia bekerja. Maka berhati-hatilah menghadapi dunia dan berhati-hatilah menghadapi wanita. Karena sesungguhnya awal bencana pada Bani Israel adalah urusan wanita.” (H.R. Muslim)

Hadis pertama menggambarkan adanya orang yang begitu ringkih (lemah) keimanannya dan begitu rapuh ikatannya dengan agama Islam. Bayangkan, pagi-pagi masih beriman, sore hari sudah kufur. Atau sebaliknya, sore hari beriman pagi hari menjadi kafir. Dan itu terjadi karena dia menjual keimanan dengan sekerat kesenangan dunia. Hal ini bukanlah sesuatu yang tidak pernah terjadi. Mungkin hal itu terjadi pada orang yang kita kenal atau bahkan orang yang dekat dengan kita. Hantaman kepahitan dan kesulitan hidup juga dapat menjadi ancaman bagi orang beriman.

Di sinilah pentingnya kita senantiasa memberdayakan keimanan. Makna kata memberdayakan di sini adalah melakukan sesuatau yang membuat iman (yang telah bersemayam dalam jiwa) bekerja dalam diri, jiwa, dan kesadaran kita. Para sahabat Nabi yang mendapat julukan generasi terbaik saja menganggap penting upaya saling memperkokoh dan memberdayakan keimanan. Kepada sesamanya, Mu’adz bin Jabal mengatakan, “Duduklah bersama kami untuk beriman sejenak.” (H.R. Bukhari)

Para ulama menjelaskan makna hadis tersebut di atas sebagai “Duduklah bersama kami untuk meningkatkan keimanan.” Diriwayatkan pula bahwa Abdullah bin Rawahah mengatakan kepada temannya kalimat yang sama seperti yang diucapkan Mu’adz tersebut di atas. Temannya itu mengatakan, “Bukankah kita ini telah beriman?” Abdullah menjawab, “Benar. Kita berdzikir kepada Allah dan dengan demikian meningkatlah iman kita.” (H.R. Al-Baihaqi)

Tentang fluktuasi (bertambah dan berkurangnya) iman, Allah Swt. berfirman,
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)…” (Q.S. Al-Fath [48]: 4)

Jadi, kalau kita tahu bahwa iman dapat mengalami peningkatan dan penurunan, maka kita wajib melakukan penyegaran dan pengokohan akidah (ta’shil ‘aqady). Dengan cara itu, kita memberdayakan keimanan, terlebih di saat-saat menghadapi ujian. Jangan sampai terjadi, di saat banyak persoalan menghimpit dan ujian mendera, kita justru melakukan kemusyrikan dengan cara meminta pertolongan kepada selain Allah dan melepas ikatan dari Allah Swt.

Ada banyak langkah untuk memberdayakan keimanan itu, antara lain pertama, merapat kepada Allah Swt. Saat ujian menghadang, merapatlah kepada yang menurunkan ujian tersebut. Ingatlah, sebesar apa pun ujian dan persoalan yang kita hadapi, hal itu akan terlihat kecil bila berhadapan dengan kebesaran Allah Swt. Sertakanlah Allah dalam menyelesaikan segala ujian dan tantangan kehidupan. Tidak ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh Yang Maha Mengetahui. Janganlah kita bersikap sombong dengan mengaggap diri mampu menyelesaikan segala persoalan. Merapatlah kepada-Nya dengan banyak mengingat-Nya.

Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertemu dengan sekelompok (musuh) maka berteguhhatilah kalian dan berzikirlah banyak-banyak agar kalian berbahagia.” (Q.S. Al-Anfaal [8]: 45)

Ayat tersebut di atas memerintahkan kepada kita untuk banyak berdzikir saat berhadapan dengan benturan, ujian, dan tantangan. Makna dzikrullah (mengingat Allah) tentu bukanlah sekadar mengomat-ngamitkan mulut menyebut nama-nama Allah meski tentu saja hal itu pun bagian dari dzikrullah. Aktivitas lidah dan mulut (dalam berzikir secara lisan) itu baru akan bermakna dzikir yang sesungguhnya manakala hati dan jiwa mampu menghadirkan Allah dalam setiap kesempatan dan ruang, dalam segala situasi dan suasana. Dengan kata lain, dzikrullah harus membuahkan muraqabatullah (kesadaran bahwa Allah Swt. selalu menyertai dan mengawasi) dan itulah salah satu esensi akidah Islam.

Betapa sering Allah mengingatkan kita tentang kesertaan-Nya pada kita. Itu semua merupakan penegasan bahwa keyakinan akan kehadiran dan kesertaan Allah tersebut menjadi fondasi bagi hadirnya ketabahan dalam menghadapai berbagai ujian, persoalan, penderitaan, dan kesulitan dalam perjuangan.

Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman…” (Q.S. Al-Anfaal [8]: 12)

Orang yang merasakan kehadiran dan kesertaan Allah (ma’iyyatullah) dalam setiap detak dan detik kehidupan akan menyikapi ujian dan situasi buruk secara bijak dan tepat. Lihatlah bagaimana Rasulullah Saw. mengingatkan Abu Bakar (semoga Allah meridoinya) yang merasa cemas saat berada di dalam Gua Tsur. Dilukiskan dalam sebuah hadis, saat Rasulullah Saw. dan Abu Bakar berada di dalam gua, Abu bakar melihat ke atas mulut gua seraya berkata, “Ya Rasulullah, seandainya mereka (orang-orang kafir) itu menundukkan kepalanya (melihat ke bawah) pasti mereka akan melihat kita.” Rasulullah Saw. menjawab, “Wahai Abu Bakar, bagaimana menurut persangkaanmu tentang dua orang yang ditemani oleh Allah sebagai yang ketiga.”

* Penulis dan pegiat dakwah 

(bersambung…)

 

Editor Bahasa: Agung

(Visited 16 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment