Memahami Kekuatan Al-Qur’an Sebagai Senjata Dakwah

Oleh Ku Wie Han*

Sebagaimana kita ketahui Al-Qur’an adalah pedoman hidup manusia dalam arti yang sebenarnya dan luas. Di dalamnya telah mencakup dan mengatur tentang kehidupan dari sejak belum lahir hingga menjelang ajal, dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, semua diaturnya dengan sempurna. Inilah salah satu “keajaiban “ Al-Qur’an jika dibanding dengan kitab atau aturan yang dibuat manusia.

promooktober

Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 185).

Petunjuk dalam hal ini termasuk dalam berdakwah dan menyebarkan kalimat tauhid kepada orang lain (kafir). Di dalam Al-Qur’an surat Al-Furqon [25] ayat 30-32, Allah Swt. berfirman yang artinya, “Berkatalah Rasul: “Ya Rabb ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an sesuatu yang tidak di acuhkan”. Demikianlah, kami jadikan bagi tiap-tiap nabi musuh dari orang-orang yang berbuat dosa. Dan cukuplah Rabbmu menjadi pemberi petunjuk dan penoIong. Berkatalah orang-orang kafir “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja. Demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacakannya kelompok demi kelompok” (Q.S. Al-Furqan [25]: 30-32 ).

Dalam ayat ini Allah gambarkan sikap-sikap manusia penentang Al-Qur’an. Allah gambarkan bagaimana mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai benda yang ditinggalkan padahal Allah menurunkan Al-Quran kepada hambanya untuk memberi peringatan, untuk membuka mata dan membimbing mereka. Mereka tinggalkan Al-Quran karena tidak mau memasang telinga untuk mendengarkannya. Mereka tinggalkan Al-Qur’an karena tidak mau mentadabbur ayat-ayatnya untuk mengetahui kebenaran. Mereka tinggalkan Al-Qur’an sebagai undang-undang kehidupannya padahal Al-Quran diturunkan untuk menjadi sistem hidup (minhajul hayah) mereka yang akan membimbing mereka ke jalan lurus.

Sebenarnya, Allah Mahatahu apa yang telah dan akan terjadi tapi ini sekadar doa dan pengaduan seorang utusan untuk menunjukan bahwa dia benar-benar telah mengemban risalah, tapi kaumnyalah yang tidak mau mengikuti petunjuknya. Fenomena ini tak hanya terjadi dan dihadapi Rasulullah saja, tapi di setiap zaman di mana ada penegak kebenaran, akan selalu dijumpai manusia-manusia penentang kebenaran. Itulah sunnah Allah bagi para nabi-Nya. Dan itu pula sunnah-Nya bagi mereka-mereka yang mengikuti jejak dan pewaris nabi-Nya. Ada beberapa hikmah di balik sunnah Allah ini.

Munculnya orang-orang berdosa para penentang dakwah membuat bangunan dakwah menjadi kokoh dan kuat, amal dakwah menjadi serius dan butuh jihad sesuai dengan tabiatnya. Perjuangan para pengembang dakwah dalam menghadapi musuh-musuhnya dapat membedakan mana dakwah yang benar dan mana dakwah yang asal-asalan.

Perjuangan itulah yang bisa menjadi penyaring mana dai yang sungguhan dan mana dai palsu, dengan perjuangan inilah dai-dai palsu tadi bisa disisihkan. Sehingga shaf-shaf dakwah dan strukturnya benar-benar steril dari unsur-unsur selundupan dan tinggallah mereka-mereka yang bersih, beriman kuat dan tak menghendaki harta dunia yang merusak.

Seandainya jalan dakwah itu mudah, melewati kebun-kebun bunga. Tak ada duri dan batu sandungan, tak ada musuh-musuh yang menentangnya atau orang keras kepala yang mendustakannya, niscaya semua orang-oiang akan sanggup untuk mengembangkan dakwah dan akan bercampur antara dakwah yang hak dan bathil, sehingga semua akan dalam kekacauan dan fitnah. Dengan munculnya lawan dan musuh dakwah itulah perjuangan dan jihad untuk membela dakwah menjadi harus, sakit, dan pengorbanan menjadi umpannya.

Padahal tak akan sanggup untuk melakukan hal itu kecuali para pemilik dakwah yang haq, orang-orang mukmin yang serius, yang mengutamakan dakwah dan perjuangan daripada santai dan bermalas-malasan bahkan atas hidup dan nyawanya, apabila dakwah menuntutnya untuk syahid demi membelanya. Sekali lagi, hanya dengan inilah bisa dibedakan mana dakwah yang haq dan mana yang bathil/mana yang kuat mana yang lemah.

Perjuangan pahit menghadapi musuh-musuh dakwah inilah yang membersihkan shaf dakwah dari kotorannya, dan akan melenggang dengan pendukung-pendukungnya yang tsabat (kokoh ) munculnya musuh-musuh dakwah dalam sejarah merupakan hal yang thobi’i karena dakwah haq datang untuk mengobati kerusakan yang terjadi pada masyarakat manusia, baik berupa kerusakan hati, kerusakan undang-udang, kerusakan sistem dan lain-lain. Sementara di belakang semua kerusakan ini, berdiri kekuatan yang sengaja menyebarkan kerusakan untuk keuntungan yang mereka dapatkan dari kegiatan tadi.

Kekuatan-kekuatan ini beserta orang-orang yang berhasil mereka pengaruhi merasa tenang dan damai dalam sistemnya. Mereka inilah orang yang pertama kali tersinggung ketika datang dakwah kebenaran yang bakal menyingkap topeng-topengnya, membongkar rumah-rumah persembunyiannya, dan memisahkan mereka dan kesenangan semu yang selama ini mereka nikmati.

Al-Qur’an datang untuk mentarbiyyah (mendidik) ummat, membangun masyarakat dan meluruskan undang-undangnya. Tarbiyyah membutuhkan waktu dan memerlukan keterpengaruhan dan interaksi dengan kata-kata selanjutnya, tarbiyyah membutuhkan gerak dan laku yang menerjemahkan keterpengaruhan dan interaksi tadi dalam realita kehidupan. Sedangkan tabiat jiwa manusia tak akan berubah total dalam waktu sehari saja. Dan memang tak akan mampu untuk itu.

Jiwa manusia akan terpengaruh sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu dia akan meningkatkan secara bertahap. Semakin hari semakin kuat berinteraksi sehingga suatu hari dia akan sanggup berubah total. Menerima manhaj (metode) baru, tatanan hidup baru dengan penuh kerelaan dan sanggup memikul semua beban dengan tanpa keluhan. Al-Qur’an datang membawa manhaj hidup yang sempurna sekaligus membawa manhaj tarbiyyah yang sesuai dengan fithrah dan watak manusia berarti Al-Qur’an harus turun secara bertahap sesuai dengan kebutuhan manusia.

Al-Qur’an  datang  untuk  menjadi  tuntunan  hidup  untuk  manusia  bukan  kitab pengetahuan yang datang untuk dibaca dan dinikmati belaka, tetapi Al-Qur’an turun untuk di amalkan huruf perhuruf, kata demi kata, kewajiban menyusul kewajiban. Benar dengan manhaj  inilah Al-Qur’an berhasil mengolah jiwa manusia pada abad-abad awal turunannya. Al-Quran berhasil membentuk generasi tersebut benar-benar menjadi generasi Qur’an, karena merekalah Al-Qur’an hidup dan berjalan. Adapun   kini   setelah   manusia-manusia   lengah,   lalai   dari   manhaj   hidupnya, menjadikan  Al-Qur’an hanya  sebagai  buku  kebudayaan, di baca  untuk  sekadar menikmati, dilagukan, diperlombakan, atau hanya sekadar didengungkan kepada orang mati atau bahkan untuk jadi mantera atau sekadar dipelajari hukum-hukumnya, untuk pengetahuan semata-mata atau bahkan diskusi, maka mereka tidak akan menghasilkan apa-apa, mereka tak mampu mengangkat derajat hidupnya karena mereka telah keluar dari metode (manhaj) Qur’ani.

Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir, dan berjuanglah terhadap mereka dengan Qur’an dengan (semangat) perjuangan yang besar.” (Q.S. Al-Furqon [25]: 52). Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah Ketua Umum Yayasan Ukhuwwah Muallaf Indonesia dan pegiat dakwah

Editor: Iman
Editor Bahasa: Agung

Ilustrasi foto: Norman

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

 

 

 

 

(Visited 8 times, 1 visits today)

REKOMENDASI