El-‘Ibad Islamic Clothing, Kaos Dakwah Penyebar Kebaikan

Akhir tahun 2014 adalah titik tolak dari sebuah usaha kaos islami yang bernuansa dakwah mulai dirintis. Adalah seorang pria bernama Mursalin Ahmad Syauqi yang mencoba menembus persaingan yang telah dirintis orang-orang sebelumnya. Berbekal dari pengalaman sebagai karyawan di sebuah distro, ditambah keprihatinannya melihat anak-anak muda memakai kaos dengan motif dan kata-kata yang tak jelas maknanya. Bahkan mungkin kata-kata asing yang berarti tak senonoh atau menyebarkan paham-paham sesat. “Inilah kondisi yang membuat saya harus berinovasi dan mengembangkan kreasi yang ada untuk menghadirkan kaos yang islami dan bernuansa dakwah di dalamnya,” ujar Mursalin dalam sebuah kesempatan menguraikan awal bisnis yang kini menjadi pilihannya.

Tidak hanya itu, menurut pemiliknya, langkah yang diambilnya adalah salah satu bentuk perlawanan kepada Kaum SEPILIS (Sekular, Pluralisme, dan Liberalis), di mana mereka bisa jadi menggunakan media kaos untuk menyebarkan paham-pahamnya. Karena itulah kaos dakwah ini muncul setidaknya guna menetralisir paham-paham tersebut di kalangan anak muda. Perang desain pun tak bisa dilepaskan dari persaingan ini, karenanya pria yang pernah bersekolah di PPI 1 jalan Pajagalan, Kota Bandung ini mencoba mendesain kaos yang diproduksinya dengan memasukkan nilai-nilai dalam kreasi desainnya. Selain itu, hal seperti ini menurutnya sebagai bentuk usaha menunjukkan eksistensi di jagat persaingan bisnis kaos yang selama ini ada. Mursalin tak memungkiri banyak pula ide-ide pemilik distro, baik yang posisif maupun yang negatif dimainkan dalam bisnis ini. Di sinilah ia mencoba mengimbanginya. “Dalam bisnis ini saya belum apa-apa tetapi mudah-mudahan saya bisa merwarnai bisnis yang ada dengan nilai-nilai keislaman,” terangnya.

promooktober1

Maka dengan hadirnya El-‘Ibad Islamic Clothing ini diharapkan bukan hanya sekadar menjadi alternatif saja bahkan diharapkan mampu mengedukasi serta menjadi solusi atas problematika fashion yang sedikitnya telah ikut andil dalam mengubah pola pikir dan karakter generasi muda kita akhir-akhir ini, juga diharapkan bisa mengcounter gempuran pesan-pesan pemikiran liberal, simbol zionis, iluminati juga paham sesat lainnya, yang seringkali disusupkan melalui media desain kaos. Itulah yang pertama kali melatarbelakangi produk kaos ini dihadirkan. Tetapi saat menerjuni bisnis ini tidak lantas mendapatkan keuntungan yang langsung diterima, melainkan harus jatuh bangun. Bahkan mesti jatuh sakit yang mengharuskan istirahat beberapa bulan, dan usaha ini pun dihentikan untuk sementara kurang lebih selama empat bulan, dan cobaan tidak berhenti sampai di sana, ketika merangkak mencoba memulai bisnis ini dari nol lagi, uang modal malah “dibawa lari” sama tukang produksi yang sampai saat ini pun belum ada kabar, tapi Alhamdulillah Allah Tabaraka wa Ta’ala memberikan jalan keluar dari arah yang tidak pernah disangka-sangka. Dari proses jatuh bangun itulah lelaki ini belajar banyak hal dan mendapatkan hikmah yang luar biasa. “Ujian yang menimpa saya bisa jadi Allah memberikan kesempatan bagi saya untuk belajar dan dari titik itulah bisnis ini perlahan tapi pasti mulai berkembang,” ujar suami dari Rosi Rosdiana, S.Pd. ini.

Menariknya, bisnis ini dimulai dengan modal enam juta rupiah serta soal pemasaran mengikuti kebiasaan yang ada. Yang jadi pilihan saat itu adalah melalui sistem online dengan menggunakan Facebook dan Instagram. Tentu saja saat itu produksi pun masih terbatas. Namun, karena ikhtiar yang baik dan doa yang selalu dipanjatkan, perlahan tapi pasti konsumen mulai datang dan publik mulai mengenal jenis kaos dakwah yang satu ini. Seiring perkembangan yang terjadi, Mursalin kemudian memutuskan untuk mengembangkn sistem penjualan melalui sistem keagenan. Saat ini sudah memiliki agen di Tasikmalaya, Karawang, Semarang,  juga Batam dan rencana akan dikembangkan ke seluruh pelosok tanah air. Bahkan permintaan dari Malaysia dan Timur Tengah pun sudah ada. Hal ini menunjukkan jika bisnis yang dijalankannya ini sudah merambah ke pasaran global karena kemudahan internet. “Merambah pasar global adalah cita-cita saya. Ya semua itu tentunya harus disapkan segala sesuatunya dari sekarang. Insya Allah saya sedang merintisnya,” kata pria yang juga aktif mengajar di sebuah madrasah di Kota Bandung.

El-‘Ibad Islamic Clothing dipilih sebagai merek kaos yang dibuatnya. Makna dari El-‘Ibad itu adalah hamba-hamba/para hamba, yang sengaja dipilih untuk mengingatkan bahwa sesungguhnya kita di dunia ini hanyalah sekumpulan hamba-hamba Allah, dan jangan sampai lupa diri akan tugas utama kita sebagai hamba-Nya di dunia yaitu hanya untuk beribadah, maka dalam hal berpakaian pun harusnya bernilai ibadah. Kata Mursalin, target utamanya adalah anak-anak muda secara umum, tapi sekalipun demikian pada awalnya sebenarnya ada respon pula datang dari kalangan santri atau aktivis masjid saja sehingga kalangan ini pun menjadi prioritas untuk pemasaran kaos dakwah ini. Tetapi seiring berjalannya waktu, peminat dan penikmat kaos islami ini pun datang dari berbagai usia juga berbagai profesi mulai dari anggota TNI, Polisi, bahkan anak punk sekalipun pernah ada yang order, dan hal ini diakuinya menjadi langkah awal proses hijrahnya trend fashion kita ke arah yang lebih positif dan islami. Moto el-‘Ibad Islamic Clothing adalah “Dakwah is simple, just wear it”. Bisnis kaos ini sengaja saya jalankan selain mendapatkan keuntungan secara materi juga ingin memberi manfaat bagi banyak orang dan dari sana insya Allah saya akan mendapatkan berkah,” ujar lelaki yang lahir di Tasikmalaya 5 Mei 1984 ini.

Dalam urusan omzet, menurut Mursalin rata-rata per bulan baru mencapai 20 juta dengan keuntungan bersih sekitar 30-40 %. Tetapi masih katanya, dari hari ke hari mepelihatkan progres yang cukup lumayan. Karena permintaan pasar ia pun tak hanya memproduksi kaos, tetapi saat ini pun membuat jaket juga termasuk sweater dan kemko (kemeja koko). Bahkan target ke depannya bisa menyediakan semua jenis busana muslim komplit, pokoknya layaknya distro tapi islami dan tetap yang utama harus ada unsur dakwahnya. “Pokoknya bisnis jalan dakwah juga tetap harus jalan,” ujarnya yang juga tergabung dalam sebuah komunitas yang bernama ICU (Islamic Clothing United).

Sistem penjualan yang dilakukan saat ini masih fokus di online, tapi kalau sekali-kali ada konsumen yang datang langsung ke rumah maka untuk sementara ini disulap jadi workshop kecil-kecilan. Kelebihan produknya saat ini diantaranya dari segi kualitas bahan kaos dan sablon setara dengan jenis bahan dan jenis sablon yang lagi tren digunakan brand-brand distro lokal ternama saat ini tentu saja dengan harga yang tetap jauh dibawah distro lokal. Begitupun dari segi desain tetap terus mengikuti jenis desain yang lagi tren saat ini tetapi dikemas dengan nilai dakwah dan sesuatu yang bisa mengedukasi. Adapun pelayanan kepada konsumen pihaknya memperlakukan konsumen sebagai saudara seiman, sehingga silaturahim senantiasa tetap dijaga sekalipun mereka hanya order sekali ataupun bahkan hanya tanya-tanya saja. “Hal itu justru seringkali berakhir dengan sharing tentang masalah agama, bisnis ataupun saling memberikan motivasi, dan itu sangat efektif bahkan sekarang saya serasa mempunyai banyak saudara dari berbagai kalangan, profesi, dan pulau yang berbeda.” Tegasnya.

Dari setiap keuntungan yang didapat Mursalin justru mengusahakan untuk diputarkan lagi menjadi modal. Hal itu dilakukannya karena dari awal sudah ada tekad untuk tidak menggunakan sepeser pun uang riba untuk dijadikan modal. Maka tak mengherankan modalnya pas-pasan. Namun, seiring usaha ini mulai merangkak, maka ajakan kerjasama dan tawaran modal tanpa riba mulai mengalir berdatangan, tetapi setelah tawaran buat modal banyak mengalir sekarang kendalanya justru terletak pada SDM yang terbatas. Untuk mengatasi kendala-kendala itu semua tentu yang paling penting memperbanyak doa, lalu memaksimalkan ikhtiar salah satunya adalah sekarang sedang proses pengembangan SDM dan pencarian rekanan kerja yang kira-kira saat ini sedang paling dibutuhkan, selanjutnya bertawakkal, serahkan saja hasilnya kepada Allah. “Barangkali inilah kiat yang dilakukan saya untuk mengatasi kendala usaha yang terjadi,” tambah Mursalin.

Tahun 2016 ini Mursalin menargetkan bisa menyediakan semua kebutuhan pakaian muslim. Menurutnya ia tidak hanya fokus di kaos saja, tetapi berharap dapat membuka agen seluruh kota di Indonesia untuk memberi kemudahan kepada konsumen. Dalam proses perintisan ini tentu masih terlalu banyak impian yang belum tercapai dalam hal pengembangan usaha, diantaranya bisa merekrut dan membuka lapangan kerja, sehingga bisa lebih terasa manfaatnya bagi banyak orang. Mursalin berharap pengembangan usaha kaos dakwah ini semakin mendapat respon positif dari masyarakat khususnya dari anak-anak muda.

Selain mengembangkan sistem agen juga, untuk ke depannya dirinya masih mempunyai mimpi lain untuk mengembangkan jaringan usaha dengan cara memanfaatkan relasi mesjid, artinya ia ingin mengajak kepada para aktivis mesjid untuk menjadi agen di daerahnya masing-masing tanpa harus mengeluarkan modal sedikit pun. “Dengan demikian secara tidak langsung bisa ikut membantu perekonomian mesjid di masing-masing daerah. Mudah-mudahan Allah memberi kelancaran, kemudahan dan keberkahan atas usaha yang tengah saya rintis ini, serta kehadiran kaos dakwah bisa berkontribusi banyak dalam dunia dakwah kreatif.” Pungkasnya menutup perbincangan belum lama ini.***

Penulis : DEFFY RUSPIYANDY

Editor Bahasa: Agung

(Visited 16 times, 1 visits today)

REKOMENDASI