Jual Diri? Boleh, Tapi Hanya kepada Allah

Oleh : H.Tate Qomarudin

“Dari Abu Malik Al-Asy’ari r.a. dia mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Bersuci itu separuh keimanan, (ucapan) Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan, (ucapan) Subhanallah (Mahasuci Allah) dan Alhamdulillah memenuhi antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah pembuktian, sabar adalah sinar, Al-Qur’an adalah argumen yang mendukung atau melawanmu. Setiap manusia pergi (bergerak) lalu menjual dirinya. Ada yang memerdekakannya atau membinasakannya.’” (H.R. Muslim)

iklan donasi pustaka2

***

Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang linglung alias bingung dalam hidupnya? Orang yang merasa tidak mengerti apa yang harus dia lakukan dan ke mana dia menuju dalam hidup, orang yang merasa hampa, orang yang merasa diri dan kehidupannya tidak punya makna. Pernahkah Anda mengalaminya?

Orang yang memiliki persoalan kejiwaan seperti itu biasanya hidupnya resah dan gelisah, tidak mampu memaknai kehidupan, apalagi menjaga kehidupan. Baik kehidupan orang lain maupun kehidupan dirinya. Akibatnya, dia bisa dengan mudah menghilangkan nyawa orang lain atau mengakhiri hidupnya sendiri.

Semua pakar yang menganalisis faktor-faktor atau motivasi yang mendorong seseorang melakukan bunuh diri sepakat bahwa impitan masalah ekonomi merupakan salah satu faktor penting. Pesoalannya, benarkah hal tersebut semata-mata karena impitan ekonomi? Jika hanya itu, niscaya angka kasus bunuh diri akan melambung di negara-negara miskin. Sebaliknya, di negara-negara dengan tingkat kemajuan ekonomi yang tinggi angka itu akan kecil.

Fakta yang terjadi sebaliknya. Justru, di negara raksasa ekonomi, angka kasus bunuh diri amat tinggi. Sebuah laporan menyebutkan bahwa Korea Selatan menempati peringkat tertinggi kasus bunuh diri di dunia. Pada 2009, jumlah kasus bunuh diri di negeri ginseng itu mencapai 14.579 yang menunjukkan peningkatan 18,8 persen dari 12.270 kasus pada 2008. Ini berarti tingkat bunuh diri 2009 adalah 29,9 persen untuk setiap 100.000 orang. Total populasi Korea Selatan adalah 49 juta jiwa lebih.

Angka ini bahkan lebih tinggi dari yang dirilis dalam OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development atau Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi) Factbook 2010. Data OECD Factbook 2010 menunjukkan 21,5 persen kasus bunuh diri dari setiap 100.000 orang. Dari data ini saja, Korea menduduki peringkat tertinggi kasus bunuh diri dari 31 negara OECD. Jepang menduduki tempat kedua dengan 19,1 persen kasus bunuh diri dari setiap 100.000 orang.

Menurut laporan kepolisian, paling banyak penyebab kasus bunuh diri adalah masalah psikologis atau psikiatris dengan 28,28 persen, diikuti masalah fisik atau penyakit dengan 21,88 persen, dan terakhir masalah ekonomi dengan 16,17 persen. (Sumber: cathnewsindonesia.com)

Contoh lebih detail dari angka-angka itu adalah Daul Kim, perempuan top model asal Korea Selatan. Saat kariernya terus menanjak, Ia justru memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri pada 20 November 2009. Dia ditemukan tewas gantung diri di apartemennya di Paris, Prancis.

Pada 18 April 2011, model Korea, Kim Yuri, juga meninggal dengan cara bunuh diri. Ketika ditemukan, tubuh model asal Korea tersebut sudah terkontaminasi racun sehingga jiwanya tidak dapat lagi ditolong meski sempat dilarikan ke rumah sakit Samsung-dong, Seoul Medical Center. Belum lama ini, media Korea melaporkan bahwa pada 27 Mei 2011, mantan anggota grup musik SG Wannabe, Chae Dong Ha memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan menggantung dirinya di rumahnya di Bulkwang-dong. (Sumber: showbiz.vivanews.com)

Tentu saja, kasus bunuh diri kerap terjadi di berbagai negara di dunia. Namun, Korea Selatan diambil sebagai contoh karena hampir semua orang sepakat bahwa negara tersebut saat ini menjadi raksasa ekonomi. Dapat dipastikan tingkat kesejahteraan materi masyarakatnya amat baik. Namun, ternyata untuk menggapai kebahagiaan, jiwa manusia tidak terbeli oleh apa pun dan tidak bisa dijual kepada siapa pun. Jiwa kita hanya terbeli dengan harga yang amat tinggi manakala dijual kepada Allah. Hanya Allah yang dapat membayar mahal jiwa kita dan sekaligus memuliakan serta membahagiakannya. Dengan demikian, kita akan merasakan makna kehidupan dan kehidupan bermakna.

Rasulullah Saw. menyatakan dalam hadits yang disebutkan tadi bahwa setiap manusia pasti menjual dirinya. Ada yang memerdekannya atau membinasakannya. Sabda Rasul itu menegaskan bahwa setiap manusia tanpa kecuali pasti akan bergerak, bertransaksi, dan menjual diri. Apakah kemudian dia bahagia atau sengsara, bergantung kepada siapa dirinya dijual. Jika dijual kepada Allah, beruntunglah bisnisnya. Sebaliknya, jika dijual kepada selain Allah, rugilah dia dan hancurlah kehidupannya.

Jadi, berdasarkan hadis Rasul itu, dalam kamus kehidupan tidak ada orang yang diam dan tidak menjual dirinya kepada siapa pun. Tidak ada! Jika tidak dijual kepada Allah pasti dijual kepada selain Allah. Selain Allah itu bisa manusia, harta, jabatan, popularitas, atau tujuan duniawi lainnya.

Allah Swt. menghendaki dan mendorong kita (semua manusia) agar menjual diri kepada-Nya. Perhatikan firman-Nya berikut ini.

Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin.” (Q.S. Ash-Shaff [61]:10-13)

Bagaimana bisnis yang menguntungkan itu? Jawabannya ada dalam ayat tersebut. Ada banyak keuntungan yang pasti Allah berikan kepada orang yang menjual dirinya kepada Allah yakni: (1) diselamatkan dari siksa yang pedih; (2) mendapat pengampunan Allah; (3) dimasukkan ke surga; dan  (4) pertolongan Allah serta kemenangan yang dekat.

Jelaslah dari ayat itu bahwa keuntungan yang akan Allah bayarkan kepada orang yang menjual dirinya kepada Allah bukan hanya kelak di akhirat. Akan tetapi, sebelum hari akhirat itu tiba, Allah juga pasti memberikan keuntungan kepada siapa pun yang bertransaksi dengannya, yakni pertolongan Allah dan kemenangan. Tentu saja makna pertolongan Allah dan kemenangan ini sangat luas, bisa pertolongan dan kemenangan yang dirasakan oleh komunitas (jamaah) atau oleh personal. Di antara kemenangan dan pertolongan itu bentuknya adalah rasa damai dan tenteram, rasa bermakna karena memiliki tujuan hidup yang jelas, kepastian melangkahkan kaki dalam arena kehidupan dalam situasi dan kondisi.

Dalam bertransaksi, Allah Swt. telah memberikan kepada kita jiwa (anfus) dan harta (amwal). Luar biasa! Modal untuk bertransaksi itu pun diberikan oleh Allah kepada kita. Apa bentuk transaksinya? Bentuknya adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwa. Jihad adalah segala upaya sungguh-sungguh untuk mengharumkan dan mencemerlangkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Jihad itu membangun, memberdayakan, dan memuliakan, bukan menghancurkan dan menistakan.

Sudah begitu baik Allah kepada kita. Dia sudah memberi modal yang sangat berharga, yakni jiwa dan harta. Dia juga sudah siapkan model transaksi dan menjanjikan akan membayar dengan harga yang tidak dapat dibayar oleh pihak mana pun, yaitu surga. Jadi, tidak ada yang harus kita lakukan selain membuat produk terindah dalam hidup, yakni beriman dan berjihad di jalan Allah. Dan, bagian dari keimanan itu dirinci dalam hadis yang sebelumnya kita bahas, yaitu bersuci, berzikir dengan mengucap Alhamdulillah, subhanallah, mendirikan shalat, bersedekah, sabar, dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Jiwa dan harta kita akan habis dan hilang pada akhirnya. Jika kita tidak menjualnya kepada Allah, pasti dijual kepada selain Allah. Jadi, mari menjual diri kepada Allah, pasti kita bermakna dan bahagia di dunia serta akhitat. Wallaahu a’lam.

Editor Bahasa: Santy

(Visited 27 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment