Selamatkan Keluarga dari Fitnah Ad-Dajjal, Ini Caranya (Bagian 1)

Bagian 1 : Memiliki Iman & Tauhid yang Shiddiq dan Istiqomah

Secara garis besar kita bisa mengatakan bahwa ada dua macam solusi yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad shalallahu’alaihiwasallam untuk menyelamatkan ummat Islam dari fitnah Ad-Dajjal. Solusi pertama bersifat fundamental dan tidak boleh tidak mesti dimiliki oleh setiap muslim untuk menghadapi fitnah Ad-Dajjal. Bila solusi pertama ini absen, maka dia tidak akan sanggup menghadapi aneka tipu-daya Ad-Dajjal.

promooktober1

Solusi pertama adalah hadirnya iman-tauhid yang murni dan konsekuen di dalam diri si muslim. Bila solusi pertama ini tidak dimiliki seseorang niscaya dia akan gagal mendeteksi/membaca tulisan “kafir” yang tertera di antara kedua mata Ad-Dajjal. Bahkan boleh jadi orang tersebut justeru akan kagum dan beriman kepada Ad-Dajjal, menganggapnya sebagai Rabb..! Bila demikian keadaannya, berarti dia sudah menanggalkan iman-islamnya. Dia sudah terkena nawaaqidhul-iman (pembatal keimanan) alias murtad. Wa na’udzubillahi min dzaalika.

Adapan solusi kedua merupakan berbagai kiat, bisa berupa doa maupun aneka ’amal-perbuatan yang dianjurkan Nabi Muhammad shalallahu’alaihiwasallam sebagai penyempurna solusi pertama.

1. Memiliki Iman & Tauhid yang Shiddiq dan Istiqomah

Solusi pertama berdasarkan pesan Nabi Muhammad shalallahu’alaihiwasallam di dalam sebuah hadits berikut:

إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيكُمْ فَأَنَا حَجِيجُهُ دُونَكُمْ وَإِنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيكُمْ فَامْرُؤٌ حَجِيجُ نَفْسِهِ وَاللَّهُ خَلِيفَتِي عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jika dia (Ad-Dajjal) telah muncul di antara kalian sedang aku masih bersama kalian, maka cukuplah aku menjadi pembela (yang melindungi) kalian dari ancamannya, namun bila dia muncul sedang aku telah tiada, maka setiap individu menjadi pembela (yang melindungi) dirinya sendiri, dan Allah adalah Khalifah-ku atas setiap muslim.” (HR Muslim – Shahih)

Nabi shalallahu’alaihiwasallam menjamin keselamatan para sahabat dari fitnah Ad-Dajjal di masa Nabi shalallahu’alaihiwasallam masih hidup di tengah mereka. Nabi shalallahu’alaihiwasallam berjanji akan menjadi hajij (pembela) yang melindungi kaum muslimin dari ancaman Ad-Dajjal bila fitnah paling dahsyat itu keluar di masa Nabi shalallahu’alaihiwasallam masih hidup. Namun bagi umat Islam yang berhadapan dengan Ad-Dajjal sesudah wafatnya Nabi Muhammmad shalallahu’alaihiwasallam, maka Nabi shalallahu’alaihiwasallam memberikan arahan khusus. Nabi shalallahu’alaihiwasallam berpesan: “ … namun bila dia muncul sedang aku telah tiada, maka setiap individu menjadi pembela (yang melindungi) dirinya sendiri, dan Allah adalah Khalifah-ku atas setiap muslim.”

Arahan khusus Nabi shalallahu’alaihiwasallam adalah agar setiap individu muslim menjadi pembela atas dirinya sendiri dan Allah adalah Khalifah (Pengganti) Nabi shalallahu’alaihiwasallam atas setiap muslim. Berarti Nabi shalallahu’alaihiwasallam memerintahkan setiap muslim agar mengokohkan hubungan iman-tauhidnya dengan Pengganti Nabi shalallahu’alaihiwasallam yaitu Allah subhaanahu wa ta’aala. Kadar setiap individu muslim untuk dapat menjadi pembela atas dirinya sendiri sangat tergantung kepada seberapa kuat ikatan iman dan tauhidnya dengan Allah subhaanahu wa ta’aala.

Maka menjelang dan saat keluarnya Ad-Dajjal setiap muslim mesti memastikan bahwa iman dan tauhidnya bukan sebatas hadir di dalam dirinya, tetapi hadir dengan shiddiq (benar) dan istiqomah (konsisten). Jangan sampai seorang yang mengaku muslim di zaman itu menyangka bahwa sekedar malafalkan ucapan kalimat tauhid لا إِله إِلا اللـه sudah mencukupi untuk menghadapi berbagai fitnah sebelum dan pada saat keluarnya fitnah Ad-Dajjal. Oleh karenanya ketika Allah memerintahkan umat untuk ber-tauhid maka perintahnya diawali dengan kalimat agar mengetahui, memahami, meng-ilmui, mengkaji dan merenungkan makna dari kalimat tauhid لا إِله إِلا اللـه.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ

“Maka ketahuilah (ilmuilah, kajilah, renngkanlah), bahwa sesungguhnya tidak ada ilah (Yang Hak) selain daripada Allah.” (QS. Muhammad : 19)

Di dalam sebuah hadits Nabi Muhammad saw berkata:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang mati sedangkan ia telah mengetahui benar-benar bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah, maka ia dijamin masuk jannah”. (HR Muslim – Shahih)

Penulis : Ust. Ihsan Tandjung

Bersambung ke artikel kedua

Sumber : www. bolehjadikiamatsudahdekat.com

(Visited 6 times, 1 visits today)

REKOMENDASI