Keutamaan Berserah Diri kepada Allah

Oleh Abdurrahim Dani Suganda*

Manusia adalah makhluk yang serba lemah. Sungguh sangat tidak pantas bila ada orang yang menyombongkan diri dengan mengatakan tidak butuh pertolongan Allah. Berserah diri kepada Allah baik dalam keadaan lapang maupun sempit merupakan jalan menuju keselamatan. Inilah kemudian yang lebih kita kenal dengan istilah tawakal atau menyerahkan diri atas semua urusan hanya kepada Allah Swt.

promooktober

Dengan demikian tawakal bisa kita pahami sebagai upaya menyerahkan diri dan semua urusan hanya kepada Allah dalam mengambil segala macam manfaat dan menolak segala macam mudarat. Tawakal atau berserah diri adalah salah satu jenis ibadah yang diperintahkan oleh Allah Swt. dan merupakan ibadah hati yang tidak bisa diketahui orang lain. Berserah diri kepada Allah merupakan salah satu ciri khusus yang dimiliki orang-orang yang beriman. Terdapat rahasia penting dan kenikmatan jika kita berserah diri kepada Allah. Berserah diri kepada Allah maknanya adalah menyandarkan dirinya dan takdirnya dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Mukmin yang memiliki keimanan yang mendalam akan mampu melihat kekuasaan Allah, dan dekat dengan-Nya. Dalam Al-Qur’a,n Allah Swt. telah perintahkan kepada kita untuk senantiasa berserah diri.

Kepada Allah-lah kalian bertawakal jika kalian benar-benar orang yang beriman” (Q.S. Al-Maidah: 23)

Allah telah menciptakan semua makhluk, binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa, masing-masing dengan tujuannya sendiri-sendiri dan takdir­nya sendiri-sendiri. Matahari, bulan, lautan, danau, pohon, bunga, seekor semut kecil, sehelai daun yang jatuh, debu yang ada di bangku, batu yang menyebabkan kita tersandung, takdirnya telah ditetapkan oleh Allah jutaan tahun yang lalu. Takdir segala sesuatu telah tersimpan dalam sebuah kitab yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai ‘Lauhul-Mahfuzh’.

Tidak ada suatu bencana pun yang me­nimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami mencipta­kannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Q.S. Al-Hadid: 22-23).

Orang-orang yang beriman meyakini tak­dir ini dan mereka mengetahui bahwa takdir yang diciptakan oleh Allah adalah yang ter­baik bagi mereka. Itulah sebabnya setiap detik dalam kehidupan mereka, mereka selalu berserah diri kepada Allah. Dengan kata lain, mereka mengetahui bahwa Allah mencipta­kan semua peristiwa ini sesuai dengan tujuan ilahiyah, dan terdapat kebaikan dalam apa saja yang diciptakan oleh Allah. Misalnya, terserang penyakit yang berbahaya, menghadapi musuh yang kejam, menghadapi tuduhan palsu padahal ia tidak bersalah, atau mengha­dapi peristiwa yang sangat mengerikan, semua ini tidak mengubah keimanan orang yang beriman, juga tidak menimbulkan rasa takut da­lam hati mereka. Mereka menyambut dengan rela apa saja yang telah diciptakan Allah untuk mereka.

Mengapa Harus Tawakkal?

Ada sebagian orang memegang konsep Qadariyyah yakni kelompok yang menolak takdir Allah Swt. dan berkeyakinan bahwa manusia memiliki kemampuan sendiri yang tidak terkait dengan kekuasaan dan kehendak Allah Swt. Tentu konsep seperti ini adalah konsep yang batil, contohnya seperti yang diucapkan oleh Qarun dengan keangkuhannya,

“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku” (Q.S. Al-Qashash: 78)

Ia (Qarun) menganggap bahwa harta kekayaannya didapat karena keahlian dan usaha kerasnya tanpa ada “campur tangan” dari Allah Swt. sehingga ia tidak butuh bertawakal. Tawakal di samping sebagai perintah Allah Swt. juga merupakan perkara yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Bagaimana itu? Marilah kita berlaku jujur terhadap diri kita, yaitu bahwa kita diciptakan oleh Allah Swt. atau lahir ke dunia ini dalam keadaan lemah di atas kelemahan. Saat itu apa yang kita rasakan hanya dengan ekspresi menangis saja. Lapar menangis, dingin menangis, sakit menangis dan sebagainya. Apakah kita bisa berbuat dengan kelemahan itu tanpa bantuan dari Allah Swt? Jawabnya tentu saja tidak. Oleh karena itu, bila berbuat sebagai sarana untuk mendapatkan yang diinginkan tidak akan bisa dilakukan melainkan dengan bantuan Allah, bagaimana lagi bisa memetik hasil sebagai tujuan dari usaha tersebut tanpa bantuan dari Allah Swt. Coba kita perhatikan firman Allah,

Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah kemudian menjadikan kalian sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian dia menjadikan kalian sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakinya dan Dialah Yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa” (Q.S. Ar-Rum: 54).

Ayat di atas sangat jelas sebagai bantahan terhadap konsep Qadariyyah yang memiliki kesombongan terhadap kekuatan yang ada pada dirinya dan ingin melepaskan diri dari Allah Swt. Oleh karena itu, untuk apa kita menyerahkan diri dan urusan kita kepada kemampuan diri sendiri, padahal manusia adalah makhluk lemah yang tidak berdaya? Qarun dengan kemampuannya menumpuk harta yang diberikan Allah Swt. dan menyandarkan semua wujud keberhasilannya kepada ilmunya. Pada akhirnya harus menelan kepahitan hidup yang di saat itu ia tidak bisa menyelamatkan diri sendiri dan tidak bisa kembali berbahagia dengan hartanya. Bukankah pengetahuan kita terbatas?

“Dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit” (QS.Al-Isra’: 85).

Semua ini menggambarkan kepada kita bahwa kita akan selalu membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak akan mungkin meski sekejap mata untuk terlepas dari Allah Subhanahu wa Ta’ala . Terlebih lagi kita berasal dari sifat kelemahan dan tidak mengetahui apa-apa.

Tawakal diiringi dengan usaha

Namun demikian, tawakal atau berserah diri kepada Allah bukan berarti tanpa ada ikhtiar (usaha) dan hanya menunggu keajaiban datang kepadanya. Tawakal yang tidak diiringi dengan usaha termasuk kekurangan dan kejelekan agama seseorang. Sebagaimana kita ketahui bahwa tawakal tidak bisa lepas dari iman dan Islam seperti penjelasan di atas. Allah Swt. telah memerintah kepada hamba-Nya untuk senantiasa berikhtiar (bekerja) atau mencari jalan keluar atas kesulitan hidup,

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. At-Taubah: 105)

Ikhtiar atau usaha yang kita lakukan pada dasarnya adalah upaya untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih lagi. Jika hanya berpangku tangan atau pasrah saja menunggu keajaiban datang dari langit, maka sikap demikian bukanlah sikap seorang muslim sejati. Allah sendiri telah tegaskan dengan firman-Nya,

Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”… (QS.Ar-Ra’ad: 11).

Sekecil apa pun usaha kita harus dilakukan sebagai wujud ikhtiar. Seorang bayi yang kelaparan tidak mungkin diberi makan (disusui) jika ia tidak menangis. Begitu pun saat pakaiannya basah karena BAB atau BAK, orangtuanya tidak akan peduli jika sang bayi tidak ada ikhtiar dengan menangis. Begitulah seterusnya, kepasrahan atau berserah diri tidak hanya dimaknai dengan pasrah pasif tanpa ada usaha. Dalil yang menunjukkan bahwa tawakal (berserah diri) itu harus dibarengi dengan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari sahabat ‘Umar Ibnul Khathtab:

Bila kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal niscaya Allah akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana dia memberikan rizki kepada burung; pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang dalam keadaan kenyang.”

Demikian juga apa yang telah diucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim . Ibnu Taimiyyah menyampaikan, “Meninggalkan sebab-sebab (usaha dalam bertawakkal) termasuk corengan terhadap syariat-Nya dan menyandarkan diri kepada sebab-sebab itu termasuk kesyirikan kepada Allah.’ Ibnul Qayyim mengatakan: ‘Termasuk sebesar-besar kejahatan dalam agama adalah meninggalkan sebab (usaha) dan menyangka bahwa yang demikian itu termasuk meniadakan tawakkal”.

Sementara Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin mengatakan: “Barangsiapa yang meninggalkan sebab/usaha (dalam tawakkal) maka tawakkalnya belum lurus. Akan tetapi termasuk dari kesempurnaan tawakkal adalah tidak condong kepada sebab-sebab itu, memutuskan keterkaitan hati dari sebab-sebab itu.” Kemudian setelah itu beliau mengatakan: “Dan tidak akan tegak dan bernilai dalam menjalani usaha itu melainkan harus di atas tawakkal.”

Itulah sebabnya tawakal (berserah diri) yang dilakukan secara sempurna oleh orang-orang beriman dengan kegembiraan. Orang-orang yang menghadapi semuanya ini dengan sabar dan bertawakal kepada Allah atas takdir yang telah Dia ciptakan, mereka akan dicintai dan diridai Allah. Mereka akan memeroleh surga yang kekal abadi. Itulah sebabnya orang-orang yang beriman memperoleh kenikmatan, ketenangan, dan kegembiraan dalam kehidupan mereka karena bertawakal kepada-Nya. Inilah nikmat dan rahasia yang dijelaskan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.

“Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah mencintai orang yang bertawakal”. (Q.S. Ali-‘Imran: 159)

Semoga Allah Swt. menghimpun kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mempunyai sikap tawakal (berserah diri) yang benar dan sempurna sehingga kita menjadi bagian golongan hamba yang dicintai-Nya.Wallahu’alam. [ ]

 

Ust.Dani 1

*Penulis adalah :

– Nara sumber Tadabbur Al-Qur’an MQTV dan tiap hari rabu jam 4 sore & (Maghrib Mengaji MQFM),

– Nara sumber Ta’lim Rutin Tadabbur Al-Qur’an di Masjid Agung Trans Studio Bandung tiap Sabtu sore jam 15.30.

 

Editor: Iman

Editor Bahasa: Desi

Ilustrasi foto: wikimedia common

(Visited 48 times, 1 visits today)

REKOMENDASI