Lindungi Anak dari Ancaman Virus LGBT, Ini Caranya

anaksoleh, anak yatim

Propaganda yang dilakukan komunitas LGBT (Lesbian, Gay/Homo, Biseksual, dan Transgender) semakin hari kian massif dan mengkhawatirkan. Melalui jejaring sosial, komunitas ini menyebarkan sejumlah gambar maupun video berisi adegan tidak senonoh. Yang menyedihkan, perilaku menyimpang tersebut kini tak lagi menyasar kalangan dewasa, tetapi juga mengincar anak-anak yang notabene masih berada di usia sekolah, bahkan hingga usia sekolah dasar. Jika penyebaran virus LGBT ini terus dibiarkan, cepat atau lambat akan terjadi lost generation dan “musnahnya” peradaban manusia. Na’udzubillah!

Virus LGBT sudah ada di Indonesia sejak tahun 1982, dan mulai menyerang kalangan intelektualitas khususnya mahasiswa. Mereka beranggapan mahasiswa adalah masyarakat akademis yang bisa diajak dialog, harapannya mereka nantinya bisa memengaruhi masyarakat awam agar bisa menerima kaum non heteroseksual. Akhirnya, pada Oktober 2009 MAPANZA Unair mengadakan seminar berkedok AIDS dan NAPZA dengan mengundang pemuda homo yang ditunjuk GAYa Nusantara sebagai salah satu pembicara. Bahkan, pada 15 Mei 2013 lalu Fakultas Ilmu Budaya Unair dipilih untuk lokasi Pembukaan Peringatan International Day Against Homophobia & Transphobia (IDAHOT) 2013. Dua tahun berikutnya, tepatnya 5-7 Juni 2015 kembali FISIP Unair menggelar festival film bertema homoseksual, biseksual, dan transgender. Yang paling anyar dan menghebohkan adalah munculnya lembaga konseling Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di Universitas Indonesia (UI). (Hidayatullah.com/27/01/2016).

promooktober1

Fakta menunjukkan, negara ini lumpuh dalam upaya perlindungan masyarakat dari budaya yang merusak. Terbukti dengan meningkatnya jumlah pelaku dan menjamurnya jaringan pendukung LGBT. Aktivis hak-hak lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) Dede Oetomo menyebut jumlah gay di Indonesia ada ratusan ribu orang. Bahkan ada yang memperkirakan 3 persen dari penduduk Indonesia adalah kaum LGBT. Data itu dia peroleh dari rilis Kementerian Kesehatan di tahun 2006. Jumlah gay saat itu 760 ribuan orang, sementara waria 28 ribu orang. Menurut perkiraan para ahli dan badan PBB, dengan memperhitungkan jumlah lelaki dewasa, jumlah LSL di Indonesia pada 2011 diperkirakan lebih dari tiga juta orang, padahal pada 2009 angkanya 800 ribu orang. Dalam laporannya kepada UNDP dan USAID 2014 mereka mengklaim telah memiliki jaringan 119 organisasi pendukung LGBT di Indonesia. (Republika.co.id, 02/4/2013). Inilah bukti lumpuhnya peran negara dalam membendung budaya merusak yang membonceng ide kebebasan dan HAM.

Ketika negara mengabaikan perlindungan moral anak bangsa, keluarga adalah satu-satunya benteng terakhir untuk menyelamatkan generasi dari perilaku seks menyimpang ini. Orangtua adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam menjaga dan mengarahkan akhlak putra putrinya. Orangtua hendaknya tidak mencukupkan diri dengan pendidikan akidah, ibadah, dan akhlak saja, tapi perlu juga untuk memberikan pendidikan yang lain, salah satunya pendidikan seks, bahkan sejak usia dini. Bukan tidak mungkin, maraknya perilaku LGBT ini salah satu faktornya adalah kesalahan dan ketidaktahuan orangtua dalam mengarahkan kecenderungan orientasi seksual anak, yang pada akhirnya berakibat pada penyimpangan sekual saat anak dewasa.

Di antara pokok-pokok pendidikan seks yang perlu diterapkan dan diajarkan orangtua kepada anak sejak dini adalah:

1. Mengenalkan batasan aurat

Aurat adalah bagian dari anggota tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada siapapun, kecuali mahramnya. Islam menjelaskan bahwa aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, sedangkan aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Dengan alasan apapun (kecuali yang dibenarkan syara) aurat ini tidak boleh diperlihatkan apalagi dipertontonkan atas nama seni dan hiburan. Untuk menghindari kejahatan seksual yang mungkin menimpa anak, orangtua harus memperkenalkan bagian tubuh penting yang dimiliki anak (alat vital). Orangtua harus mampu mengemukakan pada anak agar dapat menjaga dan memeliharanya dari gangguan siapapun. Orangtua menggambarkan pada anak bahwa alat vital dan bagian tubuh lainnya yang sensitif merupakan aurat yang harus dijaga dan ditutup rapat. Tidak boleh satu orang pun yang boleh melihat apalagi meraba alat tersebut karena akan menimbulkan bahaya besar bagi dirinya. Anak diajarkan agar jangan membiarkan bagian tubuhnya seperti bibir, dada, paha, dan kemaluannya dipegang dan diraba orang lain. Apabila hal ini terjadi, maka anak diminta menghindar atau melawan untuk keselamatan dirinya.

2. Menanamkan rasa malu

Rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak, walaupun masih kecil bertelanjang di depan orang lain, misalnya ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Membiasakan menanamkan rasa malu akan membantu anak dalam menjaga dan memelihara kehormatannya. Anak yang sudah mulai memahami hal ini, tidak akan BAB dan BAK di tempat terbuka, menukar pakaian di hadapan orang lain, dan sebagainya. Sekalipun berada dalam rumah, anak perempuan dan laki-laki hendaknya tetap memakai pakaian yang sopan. Hindari memakaikan underwear saja kepada anak laki-laki, ataupun rok mini, tank top dan sejenisnya kepada anak perempuan. Ini sebagai antisipasi terjadinya kejahatan seksual dari kalangan keluarga terdekat.

3. Menanamkan jiwa maskulinitas dan jiwa feminitas

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 25 times, 1 visits today)

REKOMENDASI