Wahai Muslimah, Islam Telah Memuliakanmu Maka Jangan Hinakan Diri

 

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, perempuan bisa menikmati hak-haknya sebagai seorang manusia dengan jaminan dan perlindungan hukum-hukum Islam. Aneka ketidakadilan dan “perbudakan” yang dilakukan kaum laki- laki terhadap wanita dihapuskan. Beragam keistimewaan dan hak asasi pun kembali disematkan dalam tata kehidupan mereka sehingga kaum wanita dapat berpartisipasi di berbagai lapangan kehidupan, bahu-membahu bersama kaum pria membangun sebuah kehidupan yang lebih baik.

donasi perpustakaan masjid

Meskipun demikian, semua ini tentu hanyalah angan-angan yang sulit terwujud apabila tidak ada “campur tangan” dan “dukungan” Allah Swt. dan Rasul-Nya melalui perantaraan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. dalam mengubah nasib kaum wanita. Terlebih lagi pandangan sistem jahiliah terhadap kaum wanita sangat ekstrem nilai keburukannya, hampir tidak ada celah untuk mengubahnya karena sudah berurat dan berakar dalam pandangan orang-orang yang hidup pada masa itu.

Ketika masyarakat zaman jahiliah hampir di seluruh kebudayaan memandang wanita sebagai makhluk terkutuk karena digunakan oleh iblis untuk menyebarkan pikiran-pikiran jahat dan perangkap bagi kaum laki-laki. Akibatnya, kaum wanita disamakan dengan hewan yang diciptakan dalam bentuk manusia. Risalah Islam datang untuk mengoreksi semua tuduhan palsu tersebut. Alih-alih ikut menistakan, Al-Qur’an malah menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang setara karena keduanya berasal dari sumber atau esensi yang sama. Allah Swt. telah menegaskan,

Hai, manusia! Sesungguhnya, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di sisi Allah ialah orang paling bertakwa. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. “ (Q.S. Al Hujurat: 13)

Dalam ayat tersebut Allah Swt. telah tegaskan bahwa kemuliaan seorang manusia bukan diukur dari sisi fisiknya, apakah dia seorang lelaki atau perempuan, melainkan kemuliaan tersebut diukur dari sifat takwa yang dimilikinya. Sifat takwa tersebut memungkinkan semua orang memilikinya, sehingga derajat antara pria dan wanita sama di hadapan Allah Swt. Dalam ayat lain Allah Swt. juga tegaskan ,

Hai, manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya. Dari keduanya, Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (Q.S. An-Nisa : 1)

Pesan yang sama terungkap pula dalam ayat, “Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya agar dia merasa senang kepadanya.” (Q.S. Al-Araf : 189)

Ketika Islam mengukur kemuliaan perempuan dari ketakwaannya, maka penampilan fisik perempuan bukanlah patokan. Apalagi kecantikan adalah bagian dari qadha’ (ketetapan) Allah Swt. yang setiap manusia hanya bisa pasrah menerimanya.  Jika hal ini menjadi tolok ukur, berarti Allah Swt. tidak adil karena telah memberikan kecantikan pada sebagian perempuan, sementara sebagian yang lain tidak.  Ketidakadilan tentu mustahil bagi Allah Swt.  Rasulullah Saw. menguatkan hal ini dengan sabdanya:

Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa/fisik dan harta kalian, tetapi Allah memandang hati dan amal kalian” (H.R. Muslim).

Islam telah memuliakan perempuan dengan tugas pokok menjadi ibu serta pengatur dan penjaga bahtera rumah tangga.  Mereka pun mulia karena peran utama tersebut juga ditunjang dengan beberapa peran dalam kehidupan melalui ketentuan syariah yang berlaku bagi laki-laki dan perempuan.

Islam juga telah memuliakan perempuan dengan menjamin hak-haknya sebagai manusia. Islam menjamin hak perempuan untuk dilindungi kehormatan, akal, harta, jiwa, agama dan keamanannya. Islam juga menjamin hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.   Perempuan juga dijamin hak berpolitiknya oleh syariah Islam.

Pertama: jaminan terhadap kehormatan.  Melalui hukum-hukum yang menyangkut pergaulan antarlawan jenis, Islam telah menjaga perempuan agar kehormatannya terlindungi. Islam mewajibkan perempuan untuk menutup aurat, mengenakan jilbab dan kerudung ketika keluar rumah, menundukkan pandangan, tidak ber-tabarruj (berdandan berlebihan), tidak berkhalwat, bersafar lebih dari sehari-semalam harus disertai mahram, dan lain-lain.  Semua hukum-hukum tersebut sejatinya bukanlah untuk mengekang kebebasan perempuan.  Bahkan sebaliknya, dengan aturan tersebut perempuan dimuliakan karena dapat beraktivitas tanpa ada ancaman.

Dalam hukum-hukum tentang pernikahan, pelanggaran kehormatan, kekerasan domestik dan penganiayaan terhadap istri adalah perkara-perkara yang dilarang oleh Islam. Bahkan untuk menjaga kehormatan perempuan, Islam juga mengharamkan beberapa jenis pekerjaan yang mengeksploitasi keperempuanan, misalnya bintang film, model iklan, penari, penyanyi dan lain-lain.

Kedua: jaminan kesejahteraan.  Ketika perempuan mendapatkan tugas utama sebagai ibu serta pengatur dan penyelamat bahtera rumah tangga, maka perempuan tidak dibebani tugas untuk bekerja menghidupi dirinya sendiri. Tugas tersebut dibebankan kepada lelaki—suaminya, ayahnya ataupun saudaranya.

Namun demikian, perempuan tetap boleh bekerja dan memainkan peran lain dalam kehidupan bermasyarakat, selain peran dalam keluarga seperti yang telah disebut di atas.  Keberadaan dokter, guru, perawat, hakim, polisi perempuan adalah beberapa profesi yang dapat ditekuni perempuan dan sangat penting bagi keberlangsungan masyarakat.

Ketiga: jaminan untuk memperoleh pendidikan.  Dalam Islam menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang, laki-laki maupun perempuan. Bahkan sangat penting bagi perempuan Muslimah untuk memiliki pendidikan Islami setinggi mungkin. Merekalah yang nantinya akan menjadi sumber pengetahuan pertama bagi anak-anaknya. Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari agamanya, apapun profesinya. Rasul Saw. telah berwasiat seperti dalam bersabda,

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah)

Dari hadis ini sangat jelas bahwa kewajiban menuntut ilmu atau belajar itu bukan dominasi kaum lelaki saja melainkan seorang wanita pun mempunyai hak yang sama. Dengan demikian seorang wanita boleh menuntut ilmu setinggi-tingginya kemudian mengamalkan atau mendakwahkan ilmunya tersebut kepada orang lain seperti menjadi guru atau menulis buku.

Keempat: jaminan dalam beribadah. Memang ada beberapa ibadah yang dalam keadaan tertentu (fitrahnya) tidak bisa dikerjakan seorang wanita, misal saat datang bulan (haid) ia tidak bisa shalat, puasa, dan yang lainnya. Demikian juga saat ia mengandung dan menyusui ia pun bisa tidak mengerjakan puasa. Namun demikian secara umum dalam ibadah seorang wanita mempunyai hak yang sama dengan kaum lelaki. Begitu pun dengan pahala dan surga atas amal shaleh yang ia kerjakan. Dalam hal ini Rasulullah Saw. menyatakan:

Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (H.R. Ahmad).

Namun meski Islam telah memuliakan kaum wanita, masih saja ada sebagian yang menghinakan dirinya sendiri dengan beberapa perilaku yang dilarang bahkan dilaknat oleh Allah Swt. Perilaku ini yang disadari atau diketahui bahwa itu dilarang, namun ada yang belum tahu. Beberapa contoh amalan atau perilaku yang merendahkan derajat wanita oleh wanita itu sendiri antara lain:

  1. Membuka aurat dimuka umum.

Hukum menutup aurat ini sudah sangat jelas. Sementara salah satu hikmah Allah Swt. perintahkan kaum wanita untuk menutup auratnya adalah untuk menjaga diri, tidak diganggu, dan mudah dikenali,

Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Hal itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali dan supaya tidak diganggu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S.Al-Ahzab: 59)

“…Janganlah menampakkan auratnya, kecuali yang biasa terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan auratnya, kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan sesama Islam, hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki tua yang tidak mempunyai keinginan terhadap perempuan, atau anak-anak yang belum mengerti aurat perempuan… (Q.S. An-Nur: 31)

Namun, saat ini dapat kita saksikan banyak wanita dewasa yang terang-terangan dan sadar berani pamer aurat kepada orang lain. Pamer tubuh dan aurat kepada orang lain bahkan dimuka umum bisa dikategorikan sebagai perbuatan maksiat yang mengundang murka Allah Swt.

“….Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)

  1. Wanita pembuat tato dan yang minta dibuatkan tato

Zaman sekarang rasanya tato bukan lagi dominasi para mafia atau preman, bahkan banyak wanita yang membuat tato di sekujur tubuhnya tanpa mengetahui bahwa Islam melarang hal ini dan bahkan Allah sangat keras melaknat perbuatan yang sebenarnya amat merusak tubuh ini. Tato biasanya banyak ditemui pada laki-laki. Namun, itu pun tetap sesuatu yang terlarang untuk dikerjakan. Dalam hadis pun dijelaskan bahwa yang terlaknat adalah para perempuan yang bertato. Adapun makna laknat adalah jauh dari rahmat Allah. Dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut, perempuan yang meminta disambungkan rambutnya, begitu pula perempuan yang membuat tato dan yang meminta dibuatkan tato.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

  1. Wanita yang tidak mensyukuri kebaikan suaminya

Bagi wanita yang telah menikah dan menemukan pasangan hidupnya maka selayaknya ia bersyukur kepada Allah karena segala amal shalehnya terhadap suaminya akan dinilai sebagai ibadah. Namun, kehidupan rumah tangga tentu tidak seindah dan semanis yang dibayangkan sebelumnya. Terkadang ada hal yang tidak dapat dihindarkan yang bisa membuat sedih bahkan kecewa. Namun demikian, sebagai seorang istri yang berusaha untuk shaleh hendaknya ia senantiasa bersyukur atas apa yang telah suami berikan. Jangan sekali-kali tidak bersyukur atas apa yang telah suami usahakan dengan jerih payahnya karena hal itu akan mengundang murka Allah Swt.,

Thalhah bin Ubaidillah ra. mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Wanita yang berkata kepada suaminya, “Aku tidak melihat kebaikanmu sama sekali, melainkan Allah Swt. memutuskan-rahmatnya kepadanya pada hari kiamat “. Rasulullah Saw. juga bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mau memandang wanita (istri) yang tidak mau bersyukur kepada suaminya, padahal dia masih membutuhkannya,”

Demikianlah Islam telah memuliakan dan menempatkan harkat serta martabat seorang wanita pada posisi mulia dan terhormat. Selayaknya anugerah Allah ini kita syukuri, jaga, dan pertahankan hingga kelak kita berjumpa dengan-Nya. Jangan sampai godaan dunia yang sifatnya sementara mampu melenakan hingga menjerumuskan pada posisi yang menghinakan. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan kepada kita. Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga, pegiat dakwah dan penulis buku.

Editor: Iman

Editor Bahasa: Desi

Ilustrasi foto: Norman

 

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

(Visited 21 times, 1 visits today)

REKOMENDASI