Demi Hal Besar Jangan Lalu Abaikan Amalan Kecil

oleh Tate Qomaruddin, Lc*

Ada sebagian orang yang enggan mengerjakan amal atau perbuatan sederhana dan lebih memilih pekerjaan besar. Mereka berpedoman pada kata bijak, “berani bermimpi besar “ atau “lakukan hal besar maka yang kecil akan mengikuti”. Prinsip ini tidak sepenuhnya salah jika dimaksudkan untuk menghadirkan motivasi diri untuk melakukan perbuatan yang lebih besar.

promooktober1

Namun, dalam Islam kita tidak boleh menyepelekan amal-amal kecil yang dianggap tidak membawa dampak besar. Kita meyakini sekecil apa pun amalan yang kita lakukan, Allah Swt. akan membalasnya baik maupun buruk terlebih amalan saleh. Rasulullah Saw. telah mengingatkan kepada umatnya untuk tidak menyepelekan hal baik,

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تُعْطِىَ صِلَةَ الْحَبْلِ وَلَوْ أَنَ تُعْطِىَ شِسْعَ النَّعْلِ وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِى إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِى وَلَوْ أَنْ تُنَحِّىَ الشَّىْءَ مِنْ طَرِيقِ النَّاسِ يُؤْذِيهِمْ وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ وَوَجْهُكَ إِلَيْهِ مُنْطَلِقٌ وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ فَتُسَلِّمَ عَلَيْهِ وَلَوْ أَنْ تُؤْنِسَ الْوُحْشَانَ فِى الأَرْضِ وَإِنْ سَبَّكَ رَجُلٌ بِشَىْءٍ يَعْلَمُهُ فِيكَ وَأَنْتَ تَعْلَمُ فِيهِ نَحْوَهُ فَلاَ تَسُبَّهُ فَيَكُونَ أَجْرُهُ لَكَ وَوِزْرُهُ عَلَيْهِ وَمَا سَرَّ أُذُنَكَ أَنْ تَسْمَعَهُ فَاعْمَلْ بِهِ وَمَا سَاءَ أُذُنَكَ أَنْ تَسْمَعَهُ فَاجْتَنِبْهُ ».(رواه أحمد)

Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah sekali-kali kamu merendahkan al-ma’ruf (kebaikan)  sekecil apa pun walaupun engkau hanya memberikan tali penyambung; walaupun engkau hanya memberikan tali sandal; walaupun engkau hanya menuangkan air dari embermu ke bejana orang yang sedang mengambil air; walaupun engkau hanya menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan; walaupun engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah ceria; walaupun engkau hanya menemui saudaramu seraya mengucapkan salam padanya; walaupun engkau hanya menjinakkan binatang liar di muka bumi.

Dan jika seseorang mencelamu dengan sesuatu yang dia ketahui sedangkan engkau mengetahui keburukannya maka janganlah engkau balas mencelanya, maka jadilah pahalanya untukmu dan dosanya untuk dia. Dan apa yang engkau senang bila mendengarnya maka lakukanlah, dan apa yang engkau tidak senang bila mendengarnya maka jauhilah” (H.R. Ahmad).

Keseluruhan ajaran Islam bertujuan mewujudkan hal-hal besar yang bermanfaat bagi kehidupan. Hal-hal tersebut di antaranya membangun peradaban Islam, menegakkan khilafah Islamiyyah, menghadirkan perdamaian dunia, dan menegakkan syariat Islam.  Tidak ada yang salah dengan cita-cita besar itu. Semuanya sesuai dengan ayat-ayat Alquran maupun hadis Rasulullah Saw. di antaranya,

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (Q.S. An-Nur [24]: 55).

Ayat tersebut berbicara tentang bentuk kemenangan yang akan diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Rasulullah Saw. pun menegaskan dalam sebuah hadisnya,

Demi Allah, Dia akan menyempurnakan urusan ini (memenangkan Islam) hingga seorang pengendara berjalan dari Shan’a ke Hadramaut dalam keadaan tidak takut apa pun selain Allah dan takut srigala menerkam kambingnya. Akan tetapi kalian memang terburu-buru” (H.R. Bukhari).

Selain contoh-contoh “besar” yang telah disebutkan tadi, Rasulullah Saw. pun mengingatkan tentang hal-hal “kecil”. Beliau mewanti-wanti dengan kalimatnya, “Janganlah sekali-kali kamu merendahkan al-ma’ruf (kebaikan) sekecil apa pun.” Kata al-ma’ruf didefinisikan oleh Al-Jurjani dalam kitab At-Ta’rifat dengan “Kullu maa yahsunu fi as-syari (segala sesuatu yang baik menurut syariat).” Bahkan, untuk memperjelas peringatannya, beliau sampai menyebut beberapa hal yang tidak boleh dianggap kecil dan tidak penting.

Pertama, Islam melarang kita merasa lemah dan tidak berdaya, terlebih hal itu ditampilkan kepada manusia lain. Kesalehan tidaklah ditandai dengan semata-mata mudah meneteskan air mata, pakaian seadanya, bahkan tampak lusuh –padahal dia sanggup melakukan yang lebih baik dari itu, berjalan agak membungkuk dengan pandangan yang kuyu, wajahnya murung, dan jarang tersenyum. Hal itu bukanlah tanda kedalaman iman dan kesalehan, itu hanyalah tanda kelemahan dan pesimisme.

Merasa kecil dan tak berdaya di hadapan Allah adalah bagian dari aqidah Islam. Tetapi bukan dengan cara-cara seperti itu. Umar bin Khattab pernah menghardik orang yang tampak lemah. Rasulullah Saw. sendiri orang yang selalu tampak gagah, segar, rapi, dan –yang terpenting—selalu optimis.

Kedua, punya cita-cita besar bukan berarti boleh mengabaikan amal-amal sederhana. Islam adalah satu kesatuan. Bagian-bagiannya tidak dapat dipisahkan. Orang yang bercita-cita tinggi dan beromong besar tetapi mengabaikan hal-hal kecil, patut dicurigai bahwa dirinya tidak akan mampu mengerjakan hal-hal besar dan menyelesaikan persoalan-persoalan besar.

Di antara hal yang sering menjadi korban dan dianggap kecil adalah akhlak. Ada orang yang selalu bicara tentang perkara-perkara ideal yang melangit, tetapi  sangat abai terhadap akhlak karena menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Apa akibatnya? Dia berjuang untuk “menegakkan Islam” dengan cara meruntuhkan Islam dari sisi akhlak, berbicara tentang cita-cita mempersatukan umat Islam sambil mencela dan memojokkan orang Islam lain yang berbeda pandangan dengan dirinya. Jadilah persatuan yang dia ungkapkan itu tidak lebih dari keharusan bagi orang lain untuk menerima dan mengikuti pendapat-pendapat dan pandangan-pandangannya. Pendapat dan gagasan orang lain adalah buruk dan salah. Pendapat dan gagasan dirinyalah yang baik dan benar.

Ketiga, kebaikan yang tampak kecil belum tentu bernilai kecil, sebaliknya keburukan yang sederhana boleh jadi berdampak besar. Dengan kebesarannya sebagai seorang nabi, Rasulullah Saw. menyempatkan diri menyuapi seorang nenek Yahudi yang buta setiap pagi. Setelah beliau wafat, Abu Bakar melanjutkan tugas itu. Namun, sang nenek yang buta itu bisa membedakan antara keduanya. Ketika dia diberi tahu bahwa yang dulu menyuapinya Rasulullah Saw. dan beliau sudah wafat, masuk Islam-lah dia.

Apa yang terjadi pada mobil mewah keluaran baru bila pentilnya dibuang? Apa yang terjadi pada seorang bayi yang hidungnya termasuki air susu? Apa yang terjadi bila Anda meletakkan seonggok sampah di salah satu pojok halaman rumah Anda yang bersih? Bukan tidak mungkin hal buruk bisa terjadi. Mungkin mobil itu mengalami kecelakaan ketika dikendarai, mungkin si bayi meninggal karena tersedak, mungkin sampah yang ditinggalkan hari ini akan bertambah banyak esok hari karena orang menyangka itu merupakan tempat sampah. Jadi, hal buruk bisa saja terjadi jika kita mengabaikan hal-hal kecil.

Keempat, wajib memberikan kontribusi meskipun dengan hal-hal kecil. Jika ingin rumah kita bersih dan sehat, jadikanlah setiap anggota rumah peduli dengan kebersihan itu dan membersihkannya, meskipun hal tersebut merupakan pekerjaan kecil. Jika ingin masyarakat baik: tidak korup, jauh dari kemaksiatan, jadikanlah anggota keluarga kita sebagai kontributor pertama untuk itu. Lalu, jika ingin pemerintahan dan bangsa ini menjadi lebih baik, lebih bersih, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah Swt., berkontribusilah dengan apa saja yang kita bisa agar aparat yang tidak baik tidak mendapatkan tempat. Rasulullah Saw. hanya ingin umatnya menjadi orang-orang surplus kebaikan, bukan sebaliknya. Wallahu a‘lam. [ ]

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku.

Editor: Iman
Foto Ilustrasi: Norman
Editor Bahasa: Agung

Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

(Visited 22 times, 1 visits today)

REKOMENDASI