Fenomena Ajaran Sesat dan Gerakan Politik di Indonesia

Oleh: Suwandi*

Menurut Heresi dalam Oxford English Dictionary definisi ajaran sesat adalah “pandangan atau doktrin teologis atau keagamaan yang dianggap berlawanan atau bertentangan dengan keyakinan atau sistem keagamaan manapun yang dianggap ajaran yang benar. Dalam pengertian ini, ajaran sesat adalah pandangan atau doktrin dalam filsafat, politik, ilmu, seni, dll., yang berbeda dengan apa yang umumnya diakui sebagai yang berwibawa.” Sementara ajaran adalah suatu pemahaman (biasanya menyangkut konsep kehidupan) yang disampaikan kepada pihak yang lebih luas dengan sengaja dan terencana. Sesat adalah salah jalan atau menyimpang dari yang telah ditetapkan.

Aliran sesat dapat didefinisikan sebagai “suatu kepercayaan yang menyimpang dari mainstream masyarakat”, tetapi batasan ini menjadi rancu karena kriteria kesesatan bersifat multikriteria. Oleh karena itu, silang pendapat apakah suatu aliran sesat atau tidak merupakan masalah tersendiri yang tidak mudah. Aliran hanya dapat dinyatakan sebagai sesat apabila mengacu pada satu kumpulan kriteria yang dinyatakan secara apriori sebagai “tidak sesat”. Oleh karena itu, ukuran sosiologis, politis, dan psikologis hanya merupakan penjelas saja tentang kemungkinan-kemungkinan mengapa seseorang/kelompok menjadi bagian dari aliran sesat.

Kata “sesat” menurut definisi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dapat diartikan sebagai keyakinan yang dianut seseorang yang menjadi keyakinan publik atau menjadi keyakinan para pengikutnya, sehingga orang yang diikuti keyakinannya yang sesat disebut menyesatkan. Sedangkan, pengertian “sesat menyesatkan” (dlâllûn mudillun) adalah paham atau pemikiran yang dianut dan diamalkan oleh sebuah kelompok yang bertentangan dengan aqidah dan syariat Islam serta dinyatakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyimpang berdasarkan dalil syar’i.

Dengan demikian, secara ringkas ajaran sesat adalah ajaran atau paham yang menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya seperti apa yang telah ditetapkan Allah Swt. melalui Alquran dan telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. melalui Hadis. Dalam praktiknya sering kali pihak yang diindikasikan menyebarkan atau mengembangkan ajaran atau paham sesat tidak mau dianggap telah sesat.  Titik tolak untuk menyatakan suatu ajaran sesat menjadi perdebatan tersendiri. Namun, bagi umat Islam yang memegang teguh ajaran Islam secara kafah untuk mengukur atau menilai sebuah ajaran atau paham telah sesat atau tidak, cukup mengacu pada sumber dasarnya yakni Alquran dan Hadis serta Itjma para ulama. Aliran-aliran yang dianggap sesat di Indonesia sangat banyak. Sesat sendiri dimaknai bahwa setiap yang menyimpang dari jalan yang dituju (yang benar) dan setiap yang berjalan bukan pada jalan yang benar, itulah kesesatan. Sementara yang dimaksud dengan aliran sesat adalah aliran yang menyimpang dari jalan kebenaran yang ditunjukkan oleh agama. Kebenaran yang dimaksud adalah firman Allah Swt. dalam Alquran dan sabda Rasulullah yang terhimpun dalam hadis. Dalam Alquran secara tegas Allah Swt. telah berfirman:

Apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, tidaklah pantas bagi laki-laki dan perempuan mukmin untuk membuat pilihan lain. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah ter¬sesat dengan kesesatan yang nyata.”  [Q.S. Al-Aĥzāb :36]

Dalam ajaran Islam persoalan akidah adalah yang prinsip yang sangat mendasar sehingga tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jika akidahnya telah menyimpang atau sesat, maka bisa dipastikan turunannya (ibadah, fikih, dan sebagainya) akan menyimpang pula. Akidah dan ajaran Islam harus selalu dijaga sekaligus dipertahankan kemurniannya oleh semua umat Islam khusus para ulama sebagai penerus risalah nabi. Melalui MUI sebagai wadah para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim di Indonesia maka dalam Rakernas MUI bulan Desember tahun 2007 telah menetapkan 10 kriteria tentang aliran atau ajaran sesat yaitu:  1) Mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam dan rukun Islam yang lima; 2) Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Alquran dan As-Sunah); 3) Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran; 4) Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran; 5) Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan  kaidah-kaidah tafsir; 6)Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam; 7) Menghina, melecehkan, dan atau merendahkan para nabi dan rasul; 8) Mengingkari Nabi Muhammad Saw. sebagai nabi dan rasul terakhir; 9) Mengubah, menambah, dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat, seperti haji tidak ke Baitullah, salat fardu tidak lima waktu; dan 10) Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syariat, seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.

Munculnya Aliran Sesat dan Muatan Politik
Aliran sesat merupakan salah satu fenomena sosial yang mewarnai kehidupan beragama bangsa Indonesia. Eksistensinya telah menyita perhatian publik dan tidak sedikit pula yang mengundang perdebatan di tengah masyarakat. Aliran sesat pada hakikatnya dapat dikatakan sebagai ajaran atau aktivitas yang menyimpang dari norma-norma agama yang berlaku secara universal. Keberadaan aliran sesat selama ini dirasakan telah menyakiti hati dan menyinggung perasaan keagamaan dalam masyarakat khususnya umat Islam. Bahkan aliran sesat tidak jarang telah menjadi biang keladi dan pemicu terjadinya tindakan-tindakan anarkis di kalangan umat beragama di tanah air.

Munculnya fenomena aliran sesat akhir-akhir ini tidak terlepas dari masalah psikologis baik para tokoh pelopornya, pengikutnya, serta masyarakat secara keseluruhan yang menjadi penganutnya. Problem aliran sesat mengindikasikan adanya anomali nilai-nilai di masyarakat. Aliran sesat bukan fenomena baru, selain dia mengambarkan anomali, juga kemungkinan adanya deviasi sosial yaitu selalu ada komunitas yang abnormal. Baik berada dalam abnormalitas demografis, abnormalitas sosial, maupun abnormalitas psikologis. Sedangkan, bentuk deviasi dapat bersifat individual, situasional dan sistemik. Abnormalitas perilaku seseorang tidak dapat diukur hanya dengan satu kriteria, karena bisa jadi seseorang berkategori normal dalam pengertian kepribadian tetapi abnormal dalam pengertian sosial dan moral. Demikian halnya dengan para penganut aliran sesat, akan diperoleh kriteria kategori yang tidak tegas. Salah satu yang paling mungkin untuk menyatakan kesesatan adalah definisi atau batasan ketidaksesatan yang bersifat formalistik atau diakui sebagai batasan institusional.

Dewasa ini aliran atau paham sesat dan menyesatkan sudah cukup banyak dan mengkhawatirkan. Menurut data PBNU mencatat, sejak tahun 2001 hingga 2008 sedikitnya ada sekitar 250 paham atau aliran yang menyimpang berkembang di Indonesia. Namun, seperti dikutip dari republika.co.id menurut data yang dihimpun Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa hingga 2014 setidaknya ada 300 aliran sesat dan menyesatkan yang tersebar dan berkembang di Indonesia. Peringkat pertama ditempati aliran Ahmadiyah. Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnain sebanyak 300 aliran tersebut masih minoritas. Tetapi ajaran aliran tersebut masih kemungkinan menyebar.

Beberapa aliran atau ajaran sesat yang bersifat lokal seperti Surga Eden (Lia Aminudin), Al Qiadah (Ahmad Musadeq), dan beberapa ajaran sesat lainnya. Pemerintah dengan mengacu pada fatwa MUI segera menindak para pelakunya dan membekukan segala aktivitasnya. Namun, kelompok penyebar aliran sesat yang diindikasikan mempunyai jaringan internasional (transnasional) seperti Ahmadiyah dan Syiah hingga saat ini belum bisa “ditertibkan” oleh pemerintah, meski dari MUI sudah sangat jelas menfatwakan kesesatannya. Pelaknaan UU PNPS 1965 atau Peraturan Bersama Tiga Menteri yang di dalamnya mengatur tentang pasal penodaan ajaran agama khususnya Islam juga belum mampu menunjukan taringnya.

Fenomena terbaru adalah munculnya ormas Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR). Meski para pimpinannya menolak terkait gerakan politik tetapi temuan aparat kepolisian menunjukan ormas kepanjangan dari Al Qiyadah Al Islamiyyah bentukan Ahmad Mossadeq ini terindikasikan gerakan politik. Setelah para anggotanya dikembalikan dari markasnya di Mempawah-Kalimantan, dengan sigap pada awal Februari kemarin MUI Pusat menyatakan Gafatar sebagai paham yang sesat dan menyesatkan (antaranews.com). Semoga para pimpinannya segara dapat diproses secara hukum.

Dari sekian banyak aliran-aliran sesat tersebut,  apakah kemunculan dan penyelesaian aliran sesat dan menyesatkan tersebut yang berlarut-larut ada kepentingan dengan politik di dalamnya? Memang agak sedikit sukar membedakan antara mana gerakan sempalan, mana gerakan yang dinilai menyimpang atau sesat, dan mana gerakan keagamaan yang sesat dan ditunggangi kepentingan politik. Meski belum adanya bukti nyata berdasarkan penelitian hubungan antara munculnya aliran sesat dengan kepentingan politik, tetapi masyarakat dapat mencium aroma “tak sedap” tersebut. Ditambah lagi, dalam sejarah perkembangan Islam, seringkali intrik politik berhasil menyelinap ke dalam justifikasi normatif keagamaan sehingga sukar menilai bahwa, proses justifikasi kesesatan sebagai murni fenomena normatif keagamaan, tetapi ”kental” dengan kepentingan ideologi dan politik praktis.

Fenomena aliran sesat di Indonesia sesungguhnya adalah sebuah gejala sosio-politis, ketimbang sebagai sebuah gejala keagamaan murni.  Secara sosiologis, kemunculan banyak aliran sesat dan fenomena masyarakat mudah ”percaya” dengan segala janji-janji yang instan, ini dapat terjadi karena beberapa faktor, di antaranya adalah ketika masyarakat sedang mengalami disorientasi hidup, ketika masyarakat mengalami frustasi secara sosial, politik dan ekonomi (atau ketika masyarakat terlalu lama berada dalam kondisi ”penderitaan”), ketika masyarakat tidak mampu lagi menghadapi kenyataan hidup yang serba sulit. Sebab-sebab munculnya aliran sesat di Indonesia bisa dilihat dari beberapa sebab, antara lain:

Pertama, penyebab orang atau masyarakat masuk aliran sesat adalah adanya disorientasi hidup; kondisi dimana manusia tidak lagi memiliki arah atau pedoman hidup yang jelas. Akibatnya, mereka terus menerus mencari pemuasan diri, tetapi rasa dahaga juga bergerak (berbanding terbalik) dari hasrat pemuasan tersebut.  Kedua, ketika masyarakat mengalami frustasi secara sosial, politik, dan ekonomi.  Akibat terlalu lama menderita secara ekonomi dan sosial, orang akan merasa kehilangan harapan (hopeless), kehilangan masa depan (futureless) dan kehilangan gairah (passionless) yang pada akhirnya akan ”meruntuhkan” kepercayaan secara politik (kepada otoritas politik).  Ketiga, menghadapi kenyataan hidup yang serba sulit.

Menurut Dr. H. Abdul Chair Ramadhan, S.H., M.H., M.M. (Anggota Komisi Hukum & Perundang-Undangan MUI Pusat) dalam tulisannya seperti dikutip dari hidayatullah.com menyatakan bahwa revisi RUU  Ormas akan digalakkan, termasuk rencana UU Perlindungan Umat Beragama (RUU PUB) yang kontroversial, dikhawatirkan memberikan tempat kaum SePILIS, aliran sesat dan berkembangnya paham komunis. Tentu ini akan sejalan dengan skenario besar kaum SePILIS, Komunis Gaya Baru (KGB), dan aliran-aliran sesat untuk lebih leluasa dalam menjangkau pusat-pusat kekuasaan. Mereka akan bersatu-padu dan bahu-membahu, karena kepentingan dan tujuannya adalah sama, yakni memperoleh jaminan dan pengaruh.

Contoh nyata adalah Syiahisasi yang tengah diperjuangkan oleh elite-elite Syiah di Indonesia dalam rangka membangun rasa, paham, dan semangat Iran (Iranisasi).  Syiah Iran akan mengeksodus umat Islam menjadi Syiah, menggantikan nasionalisme Indonesia menjadi nasionalisme Persia. Sama dengan Syiah dan Komunis akan berupaya menggantikan ideologi Pancasila. Di pihak lain, kaum SePILIS akan diuntungkan dengan melemahnya peran ormas Islam, meniadakan saingan dan pengaruh dalam rangka mengembangkan pemikirannya. Harapan mereka, pada saat umat Islam lengah dan melemah, mereka akan mendapat pengaruh dan kuasa. Inilah saat-saat yang dinantikan Syiah Iran dalam suatu kondisi melemahnya umat Islam. Syiah Iran hanya memiliki dua saingan yakni kaum SePILIS dan Komunis.

Sementara itu, Dr. Ahmad Zain menyatakan bahwa pembicaraan tentang Syiah sudah dilakukan oleh para ulama terdahulu di dalam buku-buku mereka yang menyatakan bahwa Syiah pada awalnya adalah kelompok-kelompok menyimpang (firqah) dalam Islam, seperti halnya Khowarij, Mu’tazilah, Qadariyah, Jabariyah, dan lain-lain. Ia mengajak umat Islam khususnya para ulama dan cendekiawan untuk banyak membaca buku-buku literatur aliran Syiah dan mengikuti perkembangan politik yang ada di Timur Tengah. Ha tersebut dilakukan  supaya kita benar-benar mengetahui hakekat gerakan aliran ini, sehingga tidak mudah terkecoh dengan slogan-slogan kosong yang sering diusung, padahal kenyataannya tidak demikian [www.ahmadzain.com].

Melihat betapa banyaknya aliran yang menyimpang dari Islam, satu-satunya jalan untuk menghindarinya adalah memperdalam pengetahuan kita tentang agama Islam yang sesuai dengan Alquran, hadis, dan mayoritas (jumhur) ulama yang ada. Ingatlah ucapan Nabi Muhammad Saw:

“Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, dan mereka hanya mewariskan ilmu, dan barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut, maka ia telah mengambil bagian yang sempurna.” diriwayatkan AT-Turmudzi no: 2681, Abu Dawud no: 3641, Ibnu Majah no: 223,

Terakhir adalah fenomena maraknya penyakit Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di tengah masyarakat. Jika ini tak segera diatasi, maka kelak akan menjadi duri dalam daging yang merusak tatanan sosial masyarakat. Untuk membentengi akidah umat dan memperbaiki akhlak umat dari pengaruh aliran sesat yang semakin marak akhir-akhir ini adalah upaya elemen umat Islam dalam berbagai bidang. Bidang pendidikan dengan melakukan perubahan dalam hal sistem pembelajarannya, kelembagaannya, dan motivasinya, serta penguatan akidah yang lurus. Bidang ekonomi dengan penguatan pada golongan ekonomi yang lemah sehingga mereka tidak mudah terbujuk rayu dan ikut anggota aliran sesat dengan iming-iming materi. Sementara, bidang politik adalah adanya peran aktif lembaga politik Islam atau pun anggota dewan yang mayoritas muslim untuk membuat RUU perlindungan agama yang lebih melindungi umat beragama dari upaya penodaan agama khususnya Islam. Politik dalam pandangan Islam bukan sekadar alat untuk mencapai atau memperoleh kekuasaan, melainkan bagaimana dengan kekuasaan yang telah diamanatkan kepadanya mampu melindungi agamanya dari upaya penodaan atau pelecehan dengan munculnya ajaran atau aliran sesat yang menyesatkan. Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah pendidik dan pegiat dakwah.

Editor: Iman
Editor Bahasa: Agung

Ilustrasi foto:
Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini.

(Visited 27 times, 1 visits today)

REKOMENDASI