Baiti Jannati Atau Baiti Naari ? Begini Langkah Mewujudkannya

Wanita berjilbab kuning bermotif bunga itu menangis sesegukan. Berkali-kali tangan kanannya menyeka air mata yang terus mengalir. Napasnya berat dan tersenggal, dadanya turun naik, menandakan dia memendam persoalan mendalam. Di hadapannya seorang ibu setengah baya mencoba menenangkan. Mereka saling berhadapan dihalangi sebuah meja kayu lebar.

Kejadian itu diambil dari sebuah bilik konsultasi psikologi ternama di Jakarta. Wanita yang sedang menangis itu adalah korban kekerasan rumah tangga, sedangkan perempuan yang juga berjilbab di depannya adalah psikolog keluarga, sosok yang diharapkan memberi jalan keluar atas masalah berat yang dihadapinya.

donasi perpustakaan masjid

Tak berapa lama, dengan terbata-bata, ibu satu anak itu mengeluarkan ganjalan di hatinya. Dia bercerita, pada suatu malam anaknya yang berusia dua tahun mengeluh tidak bisa tidur karena gatal-gatal. Wanita itu meminta sang suami mengantarnya ke klinik 24 jam agar sang anak mendapatkan pertolongan. Sayang, suaminya menolak karena mengantuk dan lelah. Dia lalu menyarankan agar si kecil dibaluri minyak kayu putih. Si istri menurut, tetapi apa mau dikata, si anak masih menangis meraung-raung karena gatal-gatalnya semakin hebat. Dia panik dan kembali merengek kepada suaminya agar mendatangi dokter jaga yang ada di klinik. Si suami bergeming. Dengan berjalan kaki, ibu itu pun menggendong anaknya, menembus gelapnya malam dan pergi ke klinik yang jaraknya kurang lebih 2 km. Setelah mendapatkan obat-obatan berbentuk pil dan salep, ibu dan anaknya pun pulang. Celakanya, di depan pintu rumah, si suami menyambutnya. Ada rona kemarahan tertahan di wajahnya. Adegan kekerasan pun dimulai, dia menampari wajah istrinya.

Menurut pengakuannya, tindakan kekerasan itu sudah berkali-kali dialaminya. Dia pernah dipukul dengan ikat pinggang hanya karena membeli juicer yang dipromosikan ibu-ibu arisan, dipukul karena dianggap teledor membiarkan anaknya terjatuh. Bentakan dan cacian mungkin sudah tidak terhitung. Akhirnya, karena sudah tidak kuat, dia itu pun mengadu ke psikolog untuk mencari jalan keluar terbaik.

Ya, kekerasan banyak ditemukan di sekitar kita. Berdasarkan data dari sebuah LSM, selama 2007 saja, telah terjadi 17.772 kasus. Kekerasan terhadap anak perempuan sebesar 469 kasus dan kekerasan terhadap pekerja rumah perempuan mencapai 236 kasus. Kejadian semacam ini biasa disebut fenomena gunung es, karena kasus yang sebenarnya terjadi jauh melebihi dari angka-angka yang tercatat.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak terbatas pada kekerasan berbentuk fisik saja, tetapi juga berupa kekerasan verbal (ancaman kekerasan). Pelaku dan korban bisa menimpa semua strata, tidak dibatasi status sosial, tingkat pendidikan, maupun suku bangsa.

Perspektif gender beranggapan tindak kekerasan terhadap istri dapat dipahami melalui konteks sosial. Artinya, apabila nilai yang dianut suatu masyarakat bersifat patriakal, yang muncul adalah superioritas laki-laki di hadapan perempuan, manifestasi nilai tersebut dalam kehidupan keluarga adalah dominasi suami atas istri.

Terbentuknya dominasi laki-laki atas perempuan ditinjau dari teori nature and culture.  Dalam proses transformasi dari nature ke culture sering terjadi penaklukan. Laki-laki sebagai culture mempunyai wewenang menaklukkan dan memaksakan kehendak kepada perempuan (nature).  Secara kultural laki-laki ditempatkan pada posisi lebih tinggi daripada perempuan, karena itu memiliki legitimasi untuk menaklukkan dan memaksa. Dua teori ini menunjukkan gambaran aspek sosiokultural telah membentuk social structure yang kondusif bagi dominasi laki-laki atas perempuan, sehingga memengaruhi perilaku individu dalam kehidupan berkeluarga.

Komisi Nasional Perempuan yang diwakili Divisi Reformasi Hukum & Kebijakan, Yulianti Muthmainah, menuturkan orang yang paling hina adalah orang yang menghinakan dan merendahkan perempuan. Baik dalam bentuk kekerasan, intimidasi, penelantaran ekonomi, dan paksaan-paksaan lainnya yang membuat korban tidak berdaya. Islam hadir sebagai rahmatan lilalamin, dan Islam sangat menentang praktik-praktik kekerasan.

Menanggapi maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga, Evi Kusnandar, mantan pemeran Dadang dalam film Komedi Suami-Suami Takut Istri, mengatakan dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga, korban harus mendapatkan penanganan yang layak dan dukungan dari berbagai pihak karena tidak sedikit korban KDRT yang mengalami trauma. Sementara, komedian Hamka Siregar, menyatakan bahwa kekerasan dalam rumah tangga yang banyak terjadi, baik di tengah masyarakat umum maupun di kalangan artis, menjadi cermin dan pelajaran bahwa tindak kekerasan bukanlah suatu solusi melainkan sebuah tindakan tak terpuji.

Efek psikologis penganiayaan bagi banyak perempuan lebih parah dibanding efek fisiknya. Rasa takut, cemas, letih, kelainan stress post traumatic, serta gangguan makan dan tidur merupakan reaksi panjang dari tindak kekerasan. Namun, tidak jarang akibat tindak kekerasan terhadap istri juga mengakibatkan kesehatan reproduksi terganggu secara biologis yang pada akhirnya mengakibatkan terganggu secara sosiologis. Istri yang teraniaya sering mengisolasi dan menarik diri karena berusaha menyembunyikan bukti penganiayaan mereka.

Hal tersebut sejalan dengan ungkapan Fitriani, salah seorang psikolog dan Direktur Yayasan Insani Child Development and Education Center Jakarta. Menurutnya, akibat dari penderitaan psikis berat, bisa mengakibatkan gangguan tidur atau gangguan makan, ketergantungan obat, disfungsi seksual, gangguan stres pasca-trauma, gangguan fungsi tubuh berat (seperti tiba-tiba lumpuh atau buta tanpa indikasi medis). Bahkan bukan tidak mungkin mengakibatkan depresi berat, gangguan jiwa dalam bentuk hilangnya kontak dengan realitas seperti skizofrenia dan bentuk psikotik lainnya, bahkan lebih jauh bisa mengarah pada tindakan bunuh diri.

Melihat berbagai macam konflik yang terjadi dalam rumah tangga yang berujung dengan tindak kekerasan, ustadzah ternama Dedeh Rasyidah menekankan kehidupan rumah tangga jangan saling menyakiti, tetapi harus saling tolong menolong dan saling mengerti. Suami mengerti istri, dan sebaliknya istri juga harus mengerti suami. Menyatukan dua latar belakang yang berbeda itu tidak mudah, anak sekandung pun terkadang berbeda, kita harus mengetahui titik persamaan bukan perbedaan.

Manusia tidak ada yang sempurna, saat menikah kita harus sadar akan kekurangan dan kelebihan pasangan kita. Istri dan suami harus saling menutupi kekurangan, istri punya kekurangan ditutupi oleh suami, begitupun sebaliknya.

Kasus kekerasan terhadap perempuan, khususnya kekerasan terhadap istri, sejak tahun 2004 hingga 2007 terus mengalami peningkatan dengan jumlah total mencapai 25.788 kasus. Menanggapi maraknya kekerasan tersebut, Hj. Dedeh Rasyidah, pengisi siraman rohani di salah satu stasiun televisi swasta mengungkapkan bahwa kekerasan terjadi akibat pemahaman dan pengamalan agamanya masih kurang, alias masih Islam KTP. Mereka mengaku beragama Islam, tetapi tidak memiliki dasar agama yang kuat.

Menurutnya, Islam bukan sekadar pengetahuan, tetapi juga mencakup pengamalannya. Banyak orang yang memiliki pengetahuan, tetapi tidak diamalkan. Selain itu, kendala di zaman sekarang berbeda dengan zaman dahulu. Dulu, masih jarang yang namanya televisi, kalaupun ada hanya dimiliki beberapa gelintir orang saja. Namun sekarang, dalam satu rumah saja bisa lebih dari satu televisi. “Artinya, anak bebas nonton, dan ironis tontonannya banyak sekali menyajikan tayangan kekerasan. Hal ini tentu saja sangat berpengaruh pada kondisi kejiwaan mereka, baik saat berumah tangga, bergaul di masyarakat, maupun di sekolah,” tuturnya.

Dedeh menjelaskan kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga salah satunya disumbang oleh banyaknya tayangan-tayangan kekerasan di televisi. Banyak di antaranya wanita yang mengalami kekerasan, tetapi tetap bertahan menjalani rumah tangganya semata-mata untuk mempertahankan anak. “Untuk menekan kasus kekerasan dalam rumah tangga, pemerintah bersama para ulama dan orang-orang yang peduli terhadap persoalan ini, hendaknya bisa melakukan sebuah tindakan yang nyata dan bisa dirasakan,” paparnya.

Menurutnya, pada 1950-an, pelajaran akhlak, etika, moral, dan budi pekerti dibedakan antara yang satu dan yang lainnya sehingga kelakuan masyarakatnya tetap terjaga. Harusnya, saat ini pun dilakukan hal yang sama. Pelajaran akhlak dan budi pekerti mendapat prioritas yang utama, kemudian harus dilandasi dengan sumber-sumber keimanan, yakni agama. Karena dalam agamalah semua menjadi jelas, mana yang halal dan mana  yang haram.

Dedeh mencontohkan dalam Islam tak ada istilah pacaran, melainkan ta’aruf. Bagaimana cara kita mengenal calon pasangan? Cari orang-orang yang dekat dengan dia. Diharapkan, mereka akan memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya.

“Sebelum memastikan dan yakin dengan calon pasangan kita, lihat bebet, bibit, dan bobotnya. Nabi mengatakan, ‘Sesungguhnya yang dinilai oleh Allah bukan wajah cantikmu yang jelita atau tubuhmu, tetapi hatimu.” Kata Nabi, “Dalam diri seseorang terdapat segumpal daging, jika daging itu baik maka baik pula seluruh tubuhnya, itu adalah hati,” jelasnya.

Kekerasan terjadi karena sebagian besar wanita lebih lemah fisiknya dibandingkan laki-laki. Walaupun begitu, bukan berarti wanita harus menempa fisik supaya kuat dan bangkit melawan. Namun, wanita harus bangkit dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Menurutnya, Islam menghendaki penganutnya jadi orang yang kuat. Baik dari segi agama, fisik, maupun ekonominya. Kalau istri yang diam dan memiliki suami, untung. Tetapi jika sebaliknya, bagaimana? Seorang perempuan harus mampu berkiprah di dalam dan di luar rumah. Sehingga suami akan lebih menghargai keberadaan kita sebagai seorang istri.

“Saya mengimbau, kaum perempuan harus bangkit. Lihatlah Siti Khadijah, Siti Hajar. Kita harus berkembang terus, salah kalau ada anggapan perempuan yang sudah menikah harus diam. Padahal, pendidikan kita cukup tinggi dan bisa memberikan manfaat untuk orang lain,” katanya berapi-api.

Kilas balik pada fakta sejarah, Dedeh menerangkan zaman dulu perempuan begitu hebat, tetapi sekarang perempuan hanya bisa dandan dan diam di rumah. Ibu rumah tangga sebenarnya memiliki kedudukan yang mulia, kekerasan dalam rumah tangga timbul karena kebanyakan perempuan tidak berdaya.

Sambil mengutip salah satu ayat Al-Qur’an, wanita yang kerap dipanggil ‘Mamah’ ini secara tegas mengingatkan kaum lelaki agar bisa lebih menghargai kaum perempuan. Kaum lelaki harus ingat perempuan mempunyai hak hidup yang sama. Lihat Surat Al-Baqarah [2] ayat 228, “…dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Tetapi para suami, mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

“Setiap pasangan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menentukan hidup. Saya saja, dari kecil dididik orangtua menunggu pabrik dan berjualan, padahal semuanya perempuan, tetapi semua dididik harus mandiri. Saat saya berumur 7 tahun, ayah meninggal. Saya sudah bisa membayar rumah sakit, dan sebagainya. Saya bersyukur dididik seperti ini,” ungkapnya.

Saling Membantu dalam Keluarga

Di akhir pembicaraan, Dedeh Rasyidah mengingatkan agar dalam kehidupan rumah tangga jangan saling menyakiti, tetapi harus saling menolong, saling mengerti; suami mengerti istri dan sebaliknya istri juga harus mengerti suami. Saling mengalah dan menyatukan dua latar belakang yang berbeda itu tidak mudah. “Jangankan menyatukan dua orang yang berbeda budaya, suku, bahasa, dan sebagainya. Anak sekandung pun berbeda. Agar rukun dalam rumah tangga, hal yang dicari adalah persamaan bukan perbedaan. Kalau dilihat kekurangan dan perbedaannya, seumur-umur tidak akan ketemu. Tidak ada yang sempurna. Ketika menikah, kita harus sadar akan kekurangan dan kelebihan pasangan kita,” tandasnya.

Lebih jauh, Dedeh menambahkan istri adalah pakaian bagi suami dan suami pun pakaian bagi istri. Apa fungsi pakaian? Pakaian berguna untuk menutupi kekurangan pemakainya. Suami punya kekurangan ditutupi oleh istrinya, istri punya kekurangan ditutupi oleh suaminya. Sehingga satu dengan lainnya saling berhubungan dan memiliki keterkaitan yang sangat erat. [ ]

 

Red: Ali & Sunaryo Sarwoko

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

Editor Bahasa: Agung

 

(Visited 34 times, 1 visits today)

REKOMENDASI