Apa yang Menjamin Kita Bisa Masuk Surga?

surga

oleh Dr. Agus Syihabudin, M.A.*

Surga dan neraka merupakan implementasi keyakinan terhadap adanya hari akhir. Keyakinan terhadap adanya hari akhir akan memberikan dorongan kepada manusia dalam beramal dan menentukan kualitias amalnya. Orang yang memiliki keimanan terhadap surga dan neraka tentunya akan cenderung untuk beramal saleh.

iklan donasi pustaka2

Sebaliknya, bagi orang yang tidak memiliki keimanan kepada hari akhir, dunia ini seakan-akan menjadi segalanya dalam hidup. Hal ini terkait langsung dengan musuh manusia hingga akhir zaman, yaitu iblis dan setan yang tidak akan rela melihat manusia berada di jalan lurus-Nya dan karenanya senantiasa berbuat sekuat tenaga untuk memalingkan manusia dari ajaran-Nya.

Perhatikan ayat yang menerangkan janji iblis untuk senantiasa menggoda manusia berikut ini.

“Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”   (Q.S. Al-A’raf [7]: 16-17).

Dari ayat tersebut tergambar betapa iblis begitu gigih menggoda manusia dari berbagai arah; depan, belakang, kanan, dan kiri. Menurut tafsir Ibnu Katsir, kalimat min baini aidihim atau mendatangi mereka dari muka maksudnya adalah iblis akan membuat manusia ragu akan permasalahan akhirat. Hal ini terkait dengan adanya surga dan neraka. Kalimat wa min khalfihim atau (menggoda) dari arah belakang maksudnya adalah setan akan membuat manusia cinta kepada dunia. Setan akan mendorong manusia ke arah duniawi sehingga dunia menjadi segala-galanya dalam hidup.

Kalimat wa‘an aimaanihim atau (menggoda) dari sebelah kanan maksudnya adalah urusan-urusan agama akan dibuat tidak jelas. Ini yang lebih mengerikan bahwa setan akan menggiring manusia untuk menyamarkan urusan agama. Sedangkan, kalimat wa‘an syama’ilihim atau (menggoda) dari arah kiri maksudnya adalah manusia akan dibuat tertarik dan senang terhadap kemaksiatan. Setan akan membawa manusia pada akhlak yang buruk.

Berkiblat pada tafsir tersebut, apabila manusia tidak memiliki keimanan terhadap hari akhir (adanya surga dan neraka), mereka seperti tidak memiliki rasa malu. Apabila manusia sudah tidak memiliki rasa malu, kecenderungannya adalah apa pun yang diperbuat bisa dilakukan dengan sekehendak dirinya. Keyakinan pada surga dan neraka niscaya akan menciptakan girah dalam beribadah dan beramal saleh yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kaitannya dengan kewajiban manusia untuk menapaki jalan kebenaran, mari kita perhatikan ayat berikut ini.

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” (Q.S. Al-Fathir [35]: 32).

Dalam ayat tersebut, jelas tergambar bahwa ada tiga kelompok manusia ketika mereka diseru pada jalan kebenaran. Golongan pertama adalah zalimun linafshihi (mereka yang menzalimi diri sendiri). Mereka adalah orang-orang yang lebih banyak berbuat kesalahan daripada kebaikan. Mereka lebih sering melakukan perbuatan buruk daripada perbuatan baik. Mereka lebih sering meninggalkan perintah Allah daripada menjalankan perintah-Nya. Orang yang termasuk golongan ini menolak Al-Qur’an dan memilih jalan hidup yang lain. Mereka tidak mau menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Seseorang yang menganiaya diri mereka sendiri adalah seorang hamba yang bermaksiat kepada Allah, meninggalkan yang diperintahkan-Nya, atau mengerjakan apa yang dilarang Allah Swt. Hamba dalam golongan ini cenderung sangat sedikit mencapai kebaikan untuk akhiratnya. Mereka mengaku muslim tapi tidak meningkatkan amal saleh, bahkan amal keburukannnya lebih berat daripada amal kebaikannya.

Golongan kedua adalah muqtasid (mereka yang pertengahan). Kelompok ini terdiri atas orang-orang yang kebaikannya sama dengan keburukan yang dilakukan. Orang-orang yang termasuk golongan ini menjalankan perintah Allah, tetapi juga menjalankan larangan-Nya. Mereka mau menerima Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup, tetapi mereka masih banyak melakukan kesalahan.

Golongan ketiga adalah sabiqun bilkhairat (mereka yang lebih dahulu berbuat kebaikan). Kelompok ini terdiri atas orang-orang yang kebaikannya sangat banyak dan sangat jarang berbuat kesalahan. Mereka yang termasuk golongan ini adalah orang-orang yang selalu menjalankan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya.

Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Mereka tidak pernah mengerjakan yang dilarang-Nya. Orang-orang yang masuk ke dalam golongan ini selalu menjalankan perintah-perintah yang hukumnya wajib dan sunah. Mereka meninggalkan segala sesuatu yang haram hukumnya dan menghindari yang subhat. Allah Swt. telah menyediakan surga dengan segala kenikmatannya bagi golongan ini. Tentunya, kita semua berharap masuk dalam kelompok ini.

Hanya amal shaleh yang kita lakukan yang dapat menghantarkan kita masuk surga dan menyelamatkan kita dari siksa neraka. Kita tidak bisa meraih derajat ahli surga dengan mengandalkan amal kebaikan dari orang lain. Di akhirat kelak, siapa pun tidak bisa menyelamatkan diri kita pada hari pembalasan. Di hari itu kita tidak bisa ditolong oleh orang lain; baik itu oleh orangtua, suami atau istri, anak-anak, apalagi tetangga dan sahabat kita. Anugerah surga dan hukuman neraka sudah dijelaskan  hanya diperuntukkan untuk setiap individu, bukan kolektif. Maka, hanya amal yang dilakukan diri sendiri yang akan menghantarkan kita menuju surga.

Adapun keterangan yang menyebutkan bahwa setiap umat Islam yang bersyahadat akan masuk surga harus dicermati dengan saksama. Tidak semua orang yang bersyahadat dijamin masuk surga. Bersyahadat yang benar harus dipraktikkan dengan menjalankan segala syaratnya. Islam tidak mengajarkan peralihaan dosa kepada orang lain dan transfer amal kepada diri kita.

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala). Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan” (Q.S. Al-Anbiya [21]: 47).

“Barangsiapa yang berat timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan.. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam” (Q.S. Al-Mukminun [23]: 102-103).

Begitu janji Allah dalam memperhitungkan prestasi hamba-Nya dalam beramal saleh. Maka kesesuaian antara amal saleh dan surga sangat ditentukan oleh seberapa banyak amal saleh yang kita kerjakan. Banyaknya amal pun perlu sesuai dengan kualitasnya. Percuma saja banyak amal, tetapi kualitasnya tidak memenuhi kriteria yang telah Allah tentukan. Boleh jadi, amal saleh kita gugur karena tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya. [Ahmad, disarikan dari wawancara]

* Anggota Dewan MUI,  Pemilik Pesantren Al-Haromain

Editor Bahasa: Agung

(Visited 54 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment