Madrasah Pertama Sebelum Sekolah Itu Ibu Atau Ayah ?

Tugas utama mendidik anak ada di tangan kedua orangtuanya. Ketika berbicara orangtua, maka kita akan berbicara tentang ayah serta ibu, bukan hanya salah satu di antaranya saja. Dalam kaitannya dengan pendidikan anak, ini merupakan tanggung jawab ayah dan ibu, bukan ibu saja atau ayah saja. Mengapa? Karena anak membutuhkan kedua sosok ayah ibunya (keduanya saling melengkapi) dalam memberikan pendidikan yang ia butuhkan.

Peran Ibu

iklan donasi pustaka2

Namun demikian, tidak bisa dimungkiri bahwa peran seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya lebih dominan daripada ayah. Ini dikarenakan interaksi ibu (terutama mereka yang menjadi ibu rumah tangga secara penuh tidak sambil bekerja di luar rumah atau menjadi wanita karir) dengan anak lebih intens dibandingkan ayah yang memiliki tugas mencari nafkah di luar rumah. Karenanya, Islam pun menyebut ibu sebagai madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya. Menurut psikolog , Rahmi Dahnan, ini tidaklah berlebihan mengingat tujuh tahun pertama adalah waktunya anak mempelajari banyak hal untuk pertama kali dari ibunya. Dalam keseharian interaksi antara ibu dan anak tersebut terjadi proses asah, asih, asuh yang  melahirkan keterikatan batin antara keduanya.

Di sinilah diperlukannya penguasaan pengetahuan atau ilmu cara mendidik anak bagi seorang ibu. Faktanya, saat ini banyak sekali ibu-ibu yang tidak memiliki keterampilan mengasuh anak. Ketika seorang wanita berubah dari sekadar istri bagi suaminya, lalu menjadi ibu bagi anak-anaknya, ia harus bisa menyesuaikan diri dengan memperkaya intelektualitasnya dengan ilmu-ilmu pengasuhan anak yang baik. Di sinilah diperlukannya pembekalan ilmu pengasuhan anak sejak usia pra-nikah. Ya, pengetahuan tentang pola pengasuhan bukan mendadak dipelajari ketika seorang wanita memiliki anak tapi harus dipersiapkan jauh-jauh hari.

Sementara menurut mantan Presidium ICMI , Marwah Daud Ibrahim, ada dua hal yang harus dipahami seorang ibu dalam menjalani perannya sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. Pertama adalah anak merupakan titipan. Hal ini dapat menghindarkan kita dari mengeluarkan kata-kata celaan kepada anak. Bagaimanapun keadaannya, jangan paksa anak menjadi seperti yang kita inginkan. Kedua, perhatikan kebutuhan fisiknya seperti makanan dan kesehatannya.

Pada dasarnya, mendidik anak adalah membentuk tingkah laku anak. Secara teoretis, mendidik anak adalah cara orangtua membentuk tingkah laku anak pada usia tertentu dengan tugas-tugas perkembangan tertentu. Berbicara pedoman pendidikan anak dalam Islam, orangtua bertanggung jawab atas pedidikan aqidah, akhlak, tanggung jawab moral, fisik, intelektual, dan seksual.

Masih menurutnya, pendidikan aqidah adalah pendidikan yang paling penting untuk pembentukan karakter anak muslim. Aqidah akan muncul dalam bentuk tingkah laku pada keseharian anak. Sejak awal, bahkan sejak dalam kandungan, anak harus diberi penanaman aqidah yang kuat. Hal tersebut, misalnya dapat dilakukan dengan memperkenalkan Allah dalam terminologi yang positif.

Peran Ayah

Menurut Rahmi Dahnan, sebutan ibu sebagai sekolah pertama tidak lantas menafikkan keberadaan sosok ayah. Keberadaan sosok ayah dinilai sangat penting terutama bagi anak laki-laki. Kalau bukan kepada ayah, pada siapa anak laki-laki belajar berbagai hal mengenai gendernya?

Sosok ayah yang dapat berpikir logis dinilai dapat memberikan second opinion atas pola asuh yang diterapkan ibu yang lebih mengedepankan sisi emosionalnya. Sosok ayah akan memberikan pengarahan secara to the point dan tidak seperti ibu yang melakukannya dengan bertele-tele. Karenanya, keberadaan ayah bagi anak-anaknya memang tidak bisa ditawar. Kesibukan kerja di luar rumah tidak menjadikan alasan bagi ayah untuk absen memberikan pengasuhannya. Kalau waktu yang dimiliki ayah untuk keluarganya memang sedikit, harus ada kesepakatan atau jadwal khusus ayah dan anak (father and sons time).

Menurut Marwah Daud Ibrahim, yang lebih efektif mendidik anak adalah ayah. Biasanya, ucapan ayah akan lebih didengar. Misalnya dalam hal ibadah, banyak hal penting yang membutuhkan otoritas ayah. Dalam penerapan disiplin misalnya, ayah bisa lebih bersikap tegas. Dengan demikian, anak akan memiliki jiwa disiplin yang akan mengakar sebagai bekal hidupnya di masa yang akan datang.

Berkaca pada keluarga Astri Ivo, peran ayah bisa dimaksimalkan saat acara kumpul keluarga. Menurut Astri Ivo, keluarga membiasakan diri shalat berjamaah, paling tidak shalat Subuh dan  Magrib atau Isya. Di rumahnya selalu ada kultum dari anggota keluarga, bukan hanya saya atau suami yang dominan, tapi juga dari anak-anak sendiri yang ingin menyampaikan sesuatu.  Momen-moment tersebut dibuat seperti forum menyampaikan pendapat.

“Ayah memang harus meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Tidak ada alasan bagi ayah tidak ada waktu karena mencari uang demi anak-anak. Anak bukan hanya membutuhkan materi, tapi juga butuh tatapan, rangkulan, atau kebersamaan dari seorang ayah,” jelasnya.

Dari sudut pandang seorang ayah, Irwan Rinaldi menyatakan bahwa seorang ayah harus  memiliki banyak  ilmu untuk memaksimalkan perannya di keluarga. Jangan sampai ayah yang sedikit sekali waktunya untuk bertemu dengan anak-anak karena sebagian besar waktunya habis dipakai bekerja, tidak paham bagaimana cara mengasuh dan mendidik anak.

Bila seorang ayah tidak paham cara memperlakukan anak dalam setiap perkembangannya (tahapan usianya), lantas bagaimana bisa seorang ayah akan paham bagaimana cara memberikan teguran kepada anak atau cara memberikan perhatian dan kasih sayang anak. Banyak ayah yang bersikap kaku terhadap anaknya karena memang tidak memiliki bekal ilmu yang cukup saat bergaul dan memperlakukan anak-anaknya.

Waktu-waktu bersama dengan anak dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pengasuhan dan pendidikan oleh ayah. Sesibuk apa pun seorang ayah, anak harus mendapatkan pengasuhan dari ayah. Jangan sampai anak-anak menjadi anak yang yatim setiap waktu karena ayahnya selalu sibuk dan tidak pernah memberikan perhatian dan kasih sayang ayahnya.

Dengan demikian maka bisa kita maknai bahwa madrasah pertama bagi seorang anak adalah keluarga (ayah dan ibu) karena dari keduanya hal pertama akan ia dapatkan, apakah tentang kebaikan atau justru keburukan. Anak-anak akan mudah meniru atau mengikuti kebiasaan orangtuanya, maka dari itu hendaknya orangtua menjadi teladan bagi anak-anaknya sebelum mereka mendapat pengetahuan dari guru di sekolah. [ ]

 

Red: Muslik & Ahmad

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

Editor Bahasa: Agung

 

 

(Visited 23 times, 1 visits today)

REKOMENDASI