Menjadikan Husnul Khotimah Sebagai Visi Hidup

Oleh H. Nanang Hidayat*

Setiap manusia selama menjalani kehidupan akan mengalami beberapa perhelatan, dari perhelatan yang paling kecil sampai perhelatan akhir yang paling besar. Ketika dilahirkan kemudian orangtuanya menyelenggarakan akikah, dikhitan pada anak laki-laki, menyelesaikan setiap jenjang pendidikan, perolehan kerja, sampai pernikahan. Kemudian perhelatan yang akan sangat menentukan untuk hari yang akan datang yaitu ketika seorang anak manusia sedang meregang nyawa menuju proses kematian yang telah ditentukan masanya.

iklan donasi pustaka2

Sukses atau tidaknya setiap perhelatan akan sangat ditentukan oleh proses yang dijalaninya. Kesuksesan dari suatu kejadian tidak akan bisa dicapai tanpa ada usaha keras yang terencana serta dilakukan secara kontinu. Hal ini dapat dilihat dari pengalaman organisasi, baik yang bermotif ekonomi termasuk organisasi non profit seperti organisasi kemasyarakatan, sosial, ataupun politik. Organisasi-organisasi tersebut pasti menentukan visi sebagai cita-cita atau impian. Selain itu juga mengandung tugas dan kewajiban untuk mencapai misi. Kemudian merencanakan upaya yang harus dilaksanakan lengkap dengan tahapan dan ukuran-ukurannya, selanjutnya pengerahan sumber daya untuk melaksanakannya.

Jauh sebelum Ilmu Manajemen Modern memperkenalkan hal yang berkaitan dengan penentuan visi dan misi serta ikutannya, Allah Swt. melalui firman-Nya yang tertuang dalam Al-Qur’an secara gamblang memerintahkan manusia untuk berupaya mencapai visinya yaitu kebaikan di dunia dan akhirat, terhindar dari azab neraka, dan mendapatkan Rahmat Allah yang tertinggi yaitu surga. Kebaikan dunia barangkali bisa dideteksi dalam kehidupan keseharian seseorang, tapi kebaikan akhirat adalah rahasia Allah Swt. dan manusia tidak akan bisa melihat tandanya, sehingga yang harus jadi visi atau cita-cita dalam mengakhiri hidupnya adalah menjadi manusia yang husnul khotimah. Allah Swt. membebankan misi kepada manusia untuk bertugas sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana tertuang dalam Q.S. Al Baqarah 30,  ” Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi“,

Sementara itu, kewajibannya adalah beribadah kepada-Nya. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Q.S. Adzariat 56). Untuk beribadah terus menerus kepada-Nya sampai datang ajal ” Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu” (Q.S. Al Hijr 99).

Kebaikan dunia menurut Ibnu Abbas ra dapat diidentifikasi oleh 5 hal berikut.

Pertama, pandai mensyukuri dan menjaga nikmat terutama nikmat terbesar yaitu nikmat iman dalam ke-Islaman dengan cara melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, selalu bersemangat untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat baik untuk kehidupan dunia, terutama untuk kehidupan akhirat kelak.

Ketiga, menjaga dan berupaya melaksanakan  sunnah Rasul.

Keempat, memiliki pasangan hidup dan anak yang saleh dan salehah.

Kelima, berada di antara orang saleh dan salehah yang selalu saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, berlomba dalam menegakkan kebenaran dan menyingkirkan kemungkaran.

Kelima hal tersebut tidak dapat dicapai tanpa ada upaya yang keras dan terus menerus, tetapi jika bisa memperolehnya maka hasilnya adalah dapat menjadikan seseorang lebih tenteram dalam melaksanakan kewajiban mencari kebaikan akhirat dengan tidak melupakan kebaikan dunia, dan selalu berupaya lebih dekat lagi kepada Allah Swt. Jika seorang muslim di akhir hayatnya berikrar dengan kalimat syahadat “Asyhadu alaa ilaha ilallah“, maka itu adalah akhir yang baik atau husnul khotimah. Boleh jadi banyak orang yang tidak mempersiapkan dirinya untuk hal tersebut, mungkin karena pengetahuannya terbatas dan kemungkinan terbesar adalah tidak berupaya mencari tahu, sedangkan berikrar di akhir hayat dengan kalimat tauhid ini pasti bukan suatu pekerjaan yang mudah dan sederhana.

Menjadi pemenang dalam suatu perhelatan tidak serta merta dapat diraih dengan mudah tapi harus melalui suatu proses panjang dan berat, karena harus bisa mengalahkan lawan yang ditemui. Demikian pula ikrar tauhid di akhir hayat, kalau tidak ada persiapan matang dalam membentuk dan memelihara akidah serta didukung oleh kehidupan keseharian yang selalu berdasarkan hukum Allah dan Rasul-Nya, besar kemungkinan akan kalah melawan musuh utama manusia yakni setan yang menurut informasi yang sahih justru puncak upaya mereka untuk membelokkan keimanan manusia terjadi saat ajal menjelang. Saat itu segala upaya akan dilakukan setan agar manusia tidak berikrar tauhid kepada Allah Swt. Jika seorang manusia menang maka Rasulullah Saw. menyampaikan bahwa yang bersangkutan akan mendapatkan Rahmat-Nya, dan jika kalah di ujung hayat ini maka di akhirat tidak akan ada yang bisa menolong dari azab-Nya. Na’udzubillah.

Bekal utama agar husnul khotimah adalah melakukan kewajiban beribadah kepada-Nya, baik siang ataupun malam dan dalam kondisi apapun selalu mengingat Allah (Dzikrullah) sampai ajal menjelang, dan saat itu seorang manusia akan yakin terhadap apa yang dijanjikan Allah Swt. Dzikrullah dengan hal yang wajib ataupun sunah seperti salat, saum, zakat, infaq sunah, dzikir lisan, dzikir qolbu, silaturahim, berbuat baik kepada orang tua, menyantuni anak yatim, dsb sebagaimana diperintahkan Allah Swt.

Menurut para ulama, agar ibadah dapat diterima maka harus memenuhi tiga syarat yaitu pertama harus dilakukan atas dasar keimanan kepada Allah Swt, tidak boleh terjadi adanya kecacatan dalam akidah, dan itu adalah yang utama. Kedua harus berdasarkan perintah Allah Swt. sebagaimana dicontohkan Rasul-Nya, hal ini bisa dicapai dengan cara mempelajari atau mencari ilmu yang telah diajarkan Rasulullah Saw yang kemudian dilanjutkan oleh para penerusnya. Dan ketiga harus dilakukan secara ikhlas semata-mata Lillahi Ta’ala, jangan ada niat selain dari mencari ridho-Nya, karena begitu niatnya menyimpang maka ibadahnya tidak akan diterima Allah Swt. bahkan boleh jadi akan menjadi laknat untuk pelakunya.

Adalah suatu kewajiban berupaya maksimal menambah dan meningkatkan ilmu yang berkaitan dengan penyediaan bekal untuk akhirat. Berapa lama kebanyakan kita menghabiskan waktu di bangku sekolah dan bandingkan dengan berapa banyak waktu yang dipergunakan untuk mencari ilmu untuk persiapan hari akhir. Hal ini tidak berarti bahwa mencari ilmu untuk pemenuhan kebutuhan dunia tidak penting. Menuntut ilmu seperti sains, teknologi, kedokteran, ekonomi, fisika, dlsb  harus dilakukan. Karena ilmu-ilmu itu dibutuhkan dalam rangka menjalankan tugas sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi dan dengan menguasai ilmu-ilmu tersebut maka muslimin akan menjadi sebaik-baiknya umat, terbukti para perintis ilmu antara lain matematika/aljabar dan kedokteran adalah ilmuwan muslim.

Mencari ilmu adalah kewajiban individu, jangan ada dikotomi pembagian ilmu, karena semua ilmu pengetahuan ketika masih sesuai dengan sunnatullah berasal dari Allah Swt, yang paling baik adalah berlomba untuk menambah ilmu dan jangan menomor duakan ilmu yang berkaitan dengan upaya mencapai husnul khotimah. Islam memberikan motivasi kepada umatnya untuk mencari ilmu, Allah Swt. akan meningkatkan derajat orang yang berilmu sebagaimana firman-Nya,

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Q.S. Al Mujadilah 11).

Kemudian banyak riwayat hadis yang berkaitan dengan dorongan untuk menuntut ilmu, antara lain bahwa barang siapa yang keluar mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia kembali (HR Tirmidzi), Allah akan memudahkan jalan menuju surga untuk orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu  (HR Muslim). Islam sangat menghargai orang berilmu, sehingga para imam empat mazhab sepakat bahwa setelah yang wajib tidak ada yang lebih utama selain dengan menyibukkan diri dengan ilmu.

Jadi langkah menuju husnul khotimah harus dengan ilmu, jika tidak memiliki ilmu yang dibutuhkan bisa terjadi salah jalan atau sesat di jalan, atau berada di jalan sesat, atau disesatkan setan sehingga menjadi su’ul khotimah. Na’udzubillah.

Dalam mempersiapkan jalan menuju husnul khotimah, Nabi Muhammad Saw telah memberikan tuntunan dan contoh, sehingga wajar kita harus mencintainya karena beliau telah dengan sekuat tenaga mencurahkan segalanya untuk menyampaikan tuntunan tersebut. Bentuk kecintaan kita adalah dengan memelihara dan melaksanakan sunnahnya dan selalu bersholawat kepadanya sesuai dengan perintah Allah Swt, sholawat ini tidak semata-mata untuk diri beliau, karena di akhirat kelak orang yang sering bersholawat akan mendapatkan syafaat dari beliau dalam bentuk do’a permohonan ampun kepada Allah Swt.

Ilmu yang kemudian diamalkan secara terus menerus akan menimbulkan kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya, sehingga dapat menjadi suatu keniscayaan sebagai penuntun menuju pencapaian Visi husnul khotimah. Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah Ketua LAZ  Zakatel Citra Caraka.

H.Nanang Hidayat

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

(Visited 8 times, 1 visits today)

REKOMENDASI