Balita Anda Susah Makan? Begini Cara Mengubah Makan Jadi Menyenangkan.

oleh DR. Juke R. Siregar, M.Pd.*

Anak saya cuma mau makan sama kerupuk saja.” Keluh ibu dari anak berusia 4 tahun. “Anak saya makannya diemut, jadi makan sampai 1 jam.” Tambah ibu lain dengan anak berusia 5 tahun.

iklan donasi pustaka2

Keluhan di atas menggambarkan para ibu yang memiliki balita yang susah makan. Walaupun ini merupakan hal umum yang dialami balita, tetapi tentu saja situasi ini dapat membuat ibu bingung dan cemas. Wajar saja karena ibu pasti khawatir mutiara hatinya sakit atau menjadi kurus.

Makan adalah aktivitas harian yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik dan juga psikologis. Melalui makan, selain anak berelasi dengan ibunya, mereka juga memperoleh pengetahuan tentang ”makan yang baik” yang mencakup tempat, waktu, cara makan, sampai makanan bergizi.

Beberapa masalah makan pada balita
Aktivitas makan balita tidak selalu berlangsung lancar, beberapa masalah makan yang mungkin muncul adalah sebagai berikut.

  1. Berkaitan dengan tahap perkembangan. Masalah ini dapat terjadi pada anak usia:
    • 10 – 12 bulan. Pada usia ini anak mulai mengembangkan beberapa rasa kecap yang awal, antara lain manis dan pahit. Oleh karena itu, rasa ”enak” mulai dikenal. Selain itu, pada masa ini, anak mulai berjalan. Eksplorasi lingkungan lebih menarik bagi anak dibandingkan makan yang mengharuskan mereka duduk di tempat;
    • 2 – 5 tahun. Negativistik merupakan ciri usia ini. Hal ini disebabkan anak mulai menyadari keberadaan dirinya. Sikap negativistik paling sering ditampilkan termasuk pada kegiatan makan.
  2. Lama saat makan. Biasanya anak balita suka banyak alasan kalau disuruh makan. Makan sambil bermain, kondisi ini menyebabkan waktu yang dipergunakan untuk makan jadi lama.
  3. Menolak mengunyah. Biasanya anak balita membiarkan makanan lama di dalam mulutnya.
  4. Muntah bila dimasukkan makanan.

Kondisi di atas dapat dikatakan normal karena merupakan masalah umum yang terjadi pada usia balita. Disebut gangguan, bisa ditinjau dari segi lama (durasi) berlangsungnya masalah ini. Bila hal ini terjadi, penanganannya dari segi medis dan psikologis. Berbagai penyebab psikologis yang dapat menimbulkan gangguan makan pada balita, antara lain pengalaman traumatik ketika makan, pemaksaan, diharuskan makan cepat, disiplin yang longgar atau ketat ketika makan.

Jadikan makan jadi  situasi yang menyenangkan
Apa yang harus dilakukan para ibu?

  1. Menciptakan situasi makan yang menyenangkan, bukan pemaksaan yang dapat menimbulkan perasaan tertekan pada balita.
  2. Memberikan kesempatan kepada balita untuk makan sendiri.
  3. Melalui makan, kembangkan pemahaman mereka mengenai ”dunia makan”. Berikan kesempatan kepada balita bertanya tentang ”dunia makan”.
  4. Sekali-kali berikan kesempatan kepada balita untuk mengambil makanannya sendiri. Bila diambilkan, berikan porsi makanan sesuai kondisi anak.
  5. Sekali-sekali, libatkan mereka dalam penyusunan menu makanan dengan bertanya, “Ingin dimasakin apa hari ini?”

Makan sebagai kegiatan sehari-hari dapat menimbulkan perasaan menyenangkan atau tidak menyenangkan. Bagi balita, hal ini sangat bergantung dari cara perlakuan dan penciptaan iklim psikologi oleh lingkungannya. Selamat mencoba,jadikan kebersamaan bersama buah hati sesuatu yang menyenangkan dan berharga. Semoga kebersamaan kita saat ini akan mengingatkannya saat ia telah dewasa kelak. [ ]

*Penulis adalah ibu rumah tangga dan pendidik.

Editor: Iman
Editor Bahasa: Agung
Ilustrasi foto: Norman

 

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

(Visited 13 times, 1 visits today)

REKOMENDASI