Al-Qur’an Beberkan Kenapa Orangtua Harus Beri ASI pada Anak

Air Susu Ibu (ASI) adalah anugerah yang luar biasa sebagai ungkapan kasih sayang Allah terhadap setiap bayi yang terlahir ke muka bumi. Allah Yang Maha Penyayang bersabda, ”Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Q.S. Hud [11]: 6)

Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk, termasuk untuk seorang bayi mungil yang tak berdaya. Allah menitipkan rezekinya melalui payudara ibunya. Setiap bayi akan terpenuhi kebutuhannya walaupun terlahir dari orangtua yang papa, tak berharta.

promo oktober

Dan Allah pun memberikan tuntunan kepada setiap ayah dan ibu tentang pemenuhan kebutuhan rezeki bagi bayi yang diamanahkan kepada mereka.

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 233)

Ayat di atas setidaknya menekankan bahwa Air Susu Ibu (ASI) sangat penting, bahkan dalam tafsir al-Misbah, menyusui hukumnya wajib. Walaupun masih ada perbedaan pendapat tentang wajib atau tidaknya menyusui, tapi selayaknya bagi seorang muslim menghormati ayat-ayat Allah tersebut. Terlepas wajib atau tidaknya hukum menyusui, dalam ayat tersebut dengan tegas dianjurkan menyempurnakan masa penyusuan.

Pada ayat tersebut juga disinggung tentang peran ayah untuk mencukupi keperluan sandang dan pangan ibu dari buah hatinya agar ibu dapat menyusui dengan baik. Berarti jelas, menyusui adalah kerja tim. Keputusan untuk menyapih seorang anak sebelum waktu dua tahun pun harus dilakukan atas persetujuan bersama antara suami dan istri dengan mengutamakan kepentingan terbaik bagi si bayi. Niat utama dari pengambilan keputusan ini harus didasarkan pada usaha sungguh-sungguh untuk memenuhi perintah Allah dan pelaksanaan hukum-Nya, dan tidak bertujuan meremehkan perintah-Nya. Hal ini berlaku juga pada keputusan seorang ibu bila tidak bisa menyusui dan memutuskan untuk menyusukan bayinya pada wanita lain sehingga hak bayi untuk mendapatkan ASI tetap tertunaikan.

Rentang waktu menyusui

Ayat 233 dalam Al-Baqarah tersebut turun berkaitan dengan serangkaian ayat yang membahas tentang peraturan rumah tangga. Salah satunya, mendiskusikan hukum-hukum untuk melindungi hak bayi, ketika orangtuanya bercerai. Namun, makna ayat ini disepakati berlaku secara umum, baik orangtua bercerai atau tidak.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa masa sempurna menyusui (laktasi) adalah 2 tahun penuh. Turunnya wahyu tentang rentang waktu yang ideal untuk menyusui ini merupakan nikmat Allah yang tak ternilai harganya. Tuntunan syariat ini sudah diturunkan berabad-abad sebelum ada hasil penelitian yang membuktikan bahwa 2 tahun pertama adalah “the golden age”, masa yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Dalam keadaan darurat pun, ASI tetap harus diberikan

Hak-hak istimewa didapatkan oleh seorang istri yang diceraikan oleh suaminya ketika dia masih menyusui anaknya. Mantan suaminya berkewajiban memberikan nafkah lahir untuk anak dan mantan istrinya. Jika suami sudah meninggal, para pewarisnya wajib menggantikan pemenuhan hak-hak yang diprioritaskan untuk menjaga agar anak tetap mendapatkan hak ASI-nya.

Allah Swt. berfirman, “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu, berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.” (Q.S. At-Thalaaq [65]: 6)

Bahkan ketika keadaan sangat darurat, seperti yang dialami ibunda Nabi Musa a.s. ketika sedang dikejar tentara Fir’aun yang ingin membunuh semua bayi laki-laki, Allah menganjurkan untuk tetap memberikan ASI (lihat Q.S. Al-Qashash [28]: 7). Allah pun memelihara bonding (ikatan) antara Nabi Musa dan ibunya dengan mencegah beliau menyusu kepada orang lain. Alhasil, Nabi Musa tetap disusui ibunya walaupun dalam pengawasan Fir’aun (lihat Q.S. Al-Qashash [28]: 12).

Bisa lalai kalau sudah kiamat

Allah menggambarkan wanita akan lalai menyusui anaknya ketika datangnya kiamat. Ini merupakan sebuah gambaran tentang kuatnya ikatan menyusui seorang ibu kepada bayinya yang hanya bisa diputuskan oleh keguncangan yang mahadahsyat di hari kiamat (lihat Q.S. Al Haajj [22]: 1-2). Yang harus sama-sama kita tanyakan, apakah saat ini keguncangan yang dahsyat sudah ada di depan mata sehingga banyak ibu lalai menyusui anaknya?

Mempengaruhi ”status”

Dengan menyusui seorang bayi yang bukan anaknya, seorang wanita ”disetarakan” dengan ibu kandung sang bayi. Dan saudara sepersusuan menjadi muhrim/orang yang tidak boleh dinikahi (lihat Q.S. An-Nisaa’ [4]: 23). Di dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. memberikan penegasan melalui sabdanya, “Allah telah melarang hubungan yang disebabkan oleh persusuan sama seperti Dia melarang hubungan karena pertalian darah“ (H.R. Tirmidzi).

Hendaklah diniatkan untuk ibadah

Amr bin Abdullah, seorang sahabat Rasulullah, pernah berkata kepada istri yang menyusui bayinya, “Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi, susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar dia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan dia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahuwata’ala.

Subhanallah, pelajaran yang sangat berharga. Ibu, terkadang kita lupa bahwa menyusui hendaklah diniatkan ibadah, bukan sekadar insting. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Jika karena insting semata, hewan mamalia juga menyusui anaknya. Semoga dengan meniatkannya untuk ibadah, segala jerih payah, rasa lelah, dan segala bentuk perjuangan Ibu ketika menyusui bukan hanya bernilai di dunia, tetapi juga menjadi investasi di dunia dan akhirat.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada Aku kembalimu” (Q.S. Lukman [31]: 14).

Ayat tersebut mengandung dua pengertian. Pertama, perintah bagi seorang ibu untuk menyusui anaknya selama 2 tahun penuh. Kedua, perintah bagi anak untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya karena ibunya telah merawatnya siang dan malam. Terdapat kewajiban anak untuk berbuat baik kepada orangtuanya, sementara terdapat hak anak untuk diberi ASI selama 2 tahun penuh. Terdapat ”kewajiban” ibu untuk menyusui anaknya selama dua tahun penuh, sementara terdapat hak ibu agar anaknya berbakti kepadanya. Keduanya berjalan beriringan. Fair and square, seimbang dan tidak berat sebelah.  (Disarikan dari buku Ibu, Susui Aku!, penulis : Dr Ariani)

Editor Bahasa: Desi

Foto Ilustrasi : “Happy mother (17064472335)” by UNICEF Ukraine from Kyiv, Ukraine – Happy mother. Licensed under CC BY 2.0 via Wikimedia Commons.

(Visited 19 times, 1 visits today)

REKOMENDASI