Perang Itu Fitrah Atau Karena Kedarutan ?

Oleh Ir. H. Bambang Pranggono, M.BA*

Membicarakan perang adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, karena didalamnya pasti akan ada musuh, pihak yang kalah dan yang menang, darah yang tertumpah, korban hingga hal lain yang mengerikan untuk diceritakan. Tak sedikit orang tak suka dengan perang dan segala bentuk kekerasan lainnya,bukan hanya kaum wanita bahkan kaum laki-laki pun tak suka perang. Wajar, karena itu orang lebih suka membicarakan kedamaian, cinta, dan kasih sayang.

iklan donasi pustaka2

Namun, sejatinya jika kita pelajari maka aktivitas perang itu sudah ada sejak awal penciptaan manusia. Kisah paling popular sebagai awal permulaan sejarah perang mungkin bisa dimulai dari pertikaian putra Adam dan Hawa yakni Habil dan Qabil yang berakhir dengan tewasnya satu di antara mereka. Namun, jika kembali merujuk pada firman Allah Swt,nampaknya bisa lebih awal lagi pertumpahan darah itu dimulai,

“Dan ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, ‘Aku jadikan seorang khalifah di muka bumi,” Mereka berkata, “Apakah Engkau jadikan khalifah orang-orang yang merusak di sana dan menumpahkan darah?” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 30).

Pernyataan malaikat itu terbukti benar. Allah pun tidak membantahnya. Buku The People’s Chronology karya James Trager memuat daftar peristiwa penting sejak 3 juta tahun S.M. Di sana terlihat bahwa peperangan senantiasa terjadi sepanjang sejarah manusia. Sejak perang antarmanusia purba, antarsuku, sampai antarnegara modern.

Pencetusnya bisa rebutan harta, tahta, atau wanita. Bisa disulut oleh sengketa perbatasan wilayah atau ambisi teritorial. Bisa dipicu oleh sentimen agama atau perseteruan politik ekonomi. Atau bisa juga campuran dari itu semua. Yang pasti, korban mati dalam perang lebih banyak daripada korban penyakit apa pun. Penaklukan yang dilakukan oleh Alexander the Great, Nebukadnezar, Hulagu Khan, sampai Timur Lenk menelan berlaksa jiwa. Perang saudara Amerika pada 1861 menelan 680.000 jiwa. Perang Dunia I pada 1914 selama 4 tahun menelan korban 11 juta jiwa dan menghabiskan 196 miliar dolar. Namun, manusia memang tidak pernah kapok. Hanya 20 tahun kemudian, meletus Perang Dunia II pada 1939, yang berlangsung 6 tahun, menelan korban 59 juta jiwa. Biayanya menghabiskan 2 triliun dolar.

Para santri belajar tentang Perang Badar, Uhud, Hunain, Shiffin sampai perang Salib. Murid SD belajar tentang Perang Diponegoro, Paderi, sampai Aceh. Media masa meliput perang Vietnam-Amerika, perang Argentina-Inggris, perang Iran-Irak, perang Irak-Amerika, perang Rusia-Afganistan, perang Amerika-Afganistan, dan Israel-Palestina. Walaupun perang membawa kehancuran jiwa, materil, dan moril, tetapi sampai sekarang perang tidak pernah berhenti, berpindah-pindah di berbagai pelosok bumi.

Hal ini mungkin terjadi karena berperang itu sesuai dengan fitrah manusiawi. Agama lain yang mengajarkan Damai di Bumi menjadi tidak realistis. Kita tidak perlu malu-malu mengakui bahwa Islam mengajarkan adanya perang, tetapi mengaturnya menjadi perang yang adil.

Waqatilu fii sabilillahi ‘lladzina yuqatilunakum, wala ta’tadu,Perangilah orang yang memerangimu, dan jangan melampaui batas.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 190). Kaum mukminin memang harus selalu bersiap-siap untuk perang. Ya ayyuhalladzina amanu’shbiru wa shabiru wa rabitu, wattaqullaha la’allakum tuflihun.Wahai orang-orang beriman, sabarlah dan kuatkan kesabaran dan berjaga-jagalah untuk berperang, niscaya kamu menang.” (Q.S. Ali Imraan [3]: 200). Wallahu a‘lam. [ ]

 

*Penulis adalah pendidik, pegiat dakwah dan penulis buku.

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto:

 

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

 

 

 

 

(Visited 7 times, 1 visits today)

REKOMENDASI