Tanda Hamba yang Telah Merasakan Manisnya Keimanan

Oleh Abdurrahim Dany Suganda*

Orang yang sudah merasakan manisnya keimanan ketika ia hidup, maka hidupnya akan baik. Begitu pun jika ia mati maka matinya dalam keadaan baik. Saat ia menjadi kaya,maka kekayaannya ia gunakan untuk kebaikan, di jalan Allah serta dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia. Demikian juga jika ia dalam keadaan miskin maka kemiskinannya tetap membuatnya tetap baik dengan bersyukur dan kemiskinannya tidak sampai menggelincirkannya kepada kekufuran. AKan tetapi tetap bersabar dengan segala kekeurangan hidupnya.

promooktober

Demikian pula sebaliknya orang yang belum merasakan manisnya keimanan maka semuanya akan menjadi jelek atau buruk dari hidup hingga matinya. Ketika tengah sehat maka karunia sehat tersebut ia gunakan untuk maksiat bukan untuk ibadah. Ketika sakit pun bukan digunakan sarana muhasabah diri dan mendekat kepada-Nya tetapi ia jadikan sebagai sarana berkeluh kesah hingga ketika tak kunjung sembuh maka ia akhiri dengan berputus asa.  Begitu pun  ketika kemiskinan menerpa hidupnya maka kemiskinan harta tersebut ia jadikan alasan untuk menghindar dari aktivitas sedekah atau infaq . Bahkan yang lebih tragis kemiskinan tersebut ia jadikan alasan untuk kemunkaran seperti mencuri,merampok dan segala cara kegiatan untuk menipu orang lain .

Adapun cirri-ciri orang yang telah mendapat manisnya keimanan dalam hidupnya sebagai berikut.

1. Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan tidak ragu-ragu

Sesungguhnya, orang-orang mukmin sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka sangat yakin dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS.Al Hujurat: 15).

Inilah hal mendasar yang harus dimiliki oleh seorang muslim yakni mempunyai ketauhidan yang sempurna dengan tidak meninggalkan keraguan dalam hatinya sedikitpun. Setelah itu ia akan melakukan kesungguhan (berhijad) dengan harta dan jiwanya untuk menguatkan dan membuktikan keimanan tersebut.

2. Tidak bercampurnya dengan kesyirikan

Orang-orang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik adalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk” (QS. Al An’am : 82).

Pengertian umum ayat di atas adalah bahwa orang-orang beriman tidak pernah mencampuradukkan antara pengakuan kepada Allah dan mempersekutukan Allah. Karena biasanya, manusia di satu sisi menyembah Allah dan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan serta tiada Tuhan lain selain Allah, tetapi disisi lain banyak hal yang dilakukan oleh manusia justru mempersekutukan Allah. Ia masih bergantung sepenuhnya pada rezeki pemberian manusia, menganggap bahwa yang memberi rezeki adalah manusia adalah satu bentuk syirik. Begitup pun ragam aktivitas yang diniatkan untuk mendapat penilaian dan pujian manusia.

3. Menginfaqkan harta yang dicintai

Kamu tidak akan memperoleh ke­bajikan sebelum menginfakkan se­ba­gian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran:92 ).

Bentuk kecintaan tersebut bukan hanya berusan dengan harta dan harta itu tidak selalu identik dengan materi semata namun waktu,kesempatan,tenaga, pikiran juga salah satu bentuk harta yang kita miliki. Misal waktunya habis dipakai untuk mencari nafkah hingga habis atau tiada waktu untuk belajar atau sekedar menghadiri acara pengajian, bahkan meski hanya berkorban seminggu atau sebulan sekali saja ia tidak bisa.

4. Benci dengan kemunkaran

Ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau Rasul menuruti kemauanmu dalam ba­nyak hal, pasti kamu mendapatkan ke­susahan. Tetapi, Allah menjadikanmu cinta pada keimanan dan menjadi­kan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci pada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan lurus..” (QS.Al Jujurat : 7).

Sebagai muslim kita bukan hanya dituntut untuk melaksanakan amar ma’ruf (berbuat kebajikan) saja namun juga harus menjauhi bahkan mencegak permuatan yang sifatnya merusak (nahi munkar) seperti maksiat,durhaka maupun kemunkaran lainnya,yang terangan-terangan atau pun tersembunyi. Semampu mungkin setiap da kemaksiatan harus dicegak,tegur orang yang hendak melakukannya serta dilarang, dengan tangan,lisan hingga hatinya.

Kita harus meyakini akan ada hitungannya bagi setiap kesukaran dalam berdakwah,belajar,bekerja. Semakin banyak tantangan dan semakin besar pula Allah curahkan kasih sayang-Nya serta pahala orang yang melaksanakannnya. Bagi segala bentuk pengorbanan baik yang dilakukan hati ,perasaan hingga harta bahkan nyawa sekali pun Allah Maha Memberi Perhitungan yang Maha Sempurna. Dengan hati yang ikhlas serta senantiasa mengharap pertolongannya maka segala rintangan tersebut dapat dilalui. Bagia setiap bentuk pengorbanan apa pun itu Allah pasti akan memperhitungkannya.

Adapun orang beriman dan mengerjakan kebajikan, ia akan mendapatkan pahala terbaik sebagai balasannya… (QS. Al Kahfi: 88).

Pengorbanan yang telah dan sedang dilakukan,mungkin dianggap akan dianggap sepele dihadapan manusia, tetapi jadi mulia dihapan Allah Swt. Memungut sampat atau menghilangkan bagi dijalanan mungkin akan dipandang amalan rendah,namun dihadapan Allah bisa jadi mulia jika mampu menjaga keikhlasannya. Untuk itu jangan pernah sepelekan perbuatan baik sekecil apa pun itu,demikian juga perbuatan buruk.

Namun, yang harus kita sadari bahwa keimanan yang telah kita ikrarkan tersebut membutuhkan bukti atau pembuktian. Demikian pula dalam upaya pembuktian tersebut pasti ada godaan dan tantangan yang harus kita hadapi. Semoga kita tergolong orang-orang yang oleh Allah Swt diberi karunia untuk dapat merasakan manisnya keimanan tersebut. Wallahu’alam. [ ]

*Penulis adalah narasumber Tadabbur Al-Qur’an MQTV dan tiap hari rabu jam 4 sore & (Maghrib Mengaji MQFM),  narasumber Ta’lim Rutin Tadabbur Al-Qur’an di Masjid Agung Trans Studio Bandung tiap Sabtu sore jam 15.30.

Ust.Dani 1

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

(Visited 37 times, 1 visits today)

REKOMENDASI