Ini Alasan Gafatar “Hijrahkan” Anggotanya ke Kalimantan

Para mantan pengurus Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) menolak jika kelompoknya dianggap sesat atau menyimpang dari ajaran agama,  sebab mereka mengaku hanya melakukan gerakan sosial kemasyarakatan semata. Seperti Jefri, mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Gafatar Wilayah Jabar menolak jika kelompoknya disebut atau dikategorikan gerakan keagamaan atau pun politik. Menurutnya, Gafatar merupakan gerakan sosial murni yang anggotanya terbuka dari mana saja serta tidak berlatarbelakang suku atau pun agama tertentu.

“Kami tidak mengajarkan ajaran agama tertentu.  Menurut kami, agama adalah ranah pribadi. Kami hanya terhimpun karena mempunyai kesadaran yang sama bahwa dunia khususnya di Indonesia akan terjadi krisis pangan.  Makanya, kami di Kalimantan itu bertani seperti padi, jagung, peternakan dan perikanan, hanya itu saja. Kami ingin membangun ketahanan pangan ” sanggah Jefri dalam diskusi bertema “Gafatar, Gerakan Keagamaan Atau Politik?” di kawasan Jl. Braga, Kota Bandung, Jumat sore (29/1/2016).

Ia menambahkan, klaim pihaknya tersebut dapat disaksikan dan dibuktikan bahwa Gafatar di Mempawah, Kalimantan tidak sedang latihan militer atau membangun sarana ibadah agama tertentu. Namun, lebih fokus aktivitas pertanian sebagai upaya untuk menghadapi prediksi akan terjadinya krisis pangan tersebut.  Pemilihan Kalimantan menurut pihaknya karena lahannya masih luas dan subur serta sesuai kemampuan keuangannya.

“Kami bukan kumpulan intelektual yang dapat menciptakan teknologi pangan dengan modern dan canggih. Makanan pokok kita masih nasi.  Makanya yang kita lakukan ya menggarap sawah dan menanami padi, itu saja,” ujar Jefri yang mengaku masuk Gafatar mulai tahun 2012.

5

Berkenaan dengan adanya isu atau informasi yang berkembang bahwa anggota Gafatar yang muslim tidak ada kewajiban salat serta adanya nabi baru, menurut Jefri hal tersebut merupakan pendapat pribadi bukan pendapat resmi pengurus.

“Kami tegaskan, bahwa Gafatar bukan agama baru, tidak ada ajaran keagamaan tertentu dalam Gafatar. Berkaitan dengan aktivitas keagamaan semua dikembalikan pada agama dan keyakinan anggota masing-masing,” tegasnya.

Ketua Umum MUI Jabar, Prof. Dr. KH. Rachmat Syafe’i yang hadir dalam kesempatan tersebut menjelaskan hingga saat ini MUI Pusat belum memberikan fatwa soal Gafatar dan aktivitasnya maupun ajarannya. Namun demikian, sambung Rachmat, jika mengacu pada pengakuan mantan anggota khususnya yang beragama Islam, bahwa tidak ada kewajiban salat, puasa, dan adanya klaim nabi baru, maka hal tersebut sudah terkategorikan pemahaman yang sesat.

“Hingga saat ini, kami (MUI) masih terus melakukan penelitian dan kajian mendalam. Namun, dari pengakuan beberapa mantan anggota yang sadar tersebut rasanya orang awam pun tahu akan status hukum  ajaran Gafatar tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan, perihal fatwa sesat tidaknya ajaran Gafatar  merupakan wewenang MUI Pusat. Hal ini karena Gafatar adalah gerakan nasional, bukan lagi lokal atau terjadi di satu daerah saja. Pihaknya menghimbau kepada umat Islam untuk menjaga kondusivitas serta mewaspadai dan segera melaporkan jika ada indikasi ajaran yang menyimpang.

Pihaknya juga akan segera melakukan koordinasi dengan instansi terkait baik pemerintah, kepolisian, maupun ulama dan para dai mengenai pembinaan anggota Gafatar yang sebelumnya beragama Islam. Ia belum tahu apakah pembinaan akan dilakukan di penampungan, pesantren,  atau rumah masing-masing sekembalinya mereka ke kampung halamannya.

Turut hadir dalam dialog tersebut antara Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, Kesbangpol Jabar Agus Hanafi , Sosiolog Fisip Unpad Ari Ganjar dan Aji perwakilan Dinsos Jabar. [ ]

Rep & foto : Iman

Editor: Candra

Editor Bahasa: Agung

(Visited 8 times, 1 visits today)

REKOMENDASI