Hikmah Larangan Cinta dan Benci Berlebihan, Ini Ilmiahnya Terhadap Otak

otak

Oleh: Ir.H. Bambang Pranggono MBA*

Sebagai muslim kita dilarang mencintai atau sebaliknya membenci segala sesuatu kecuali karena Allah. Hanya karena Allah lah kita mencintai dan benci pun hanya karena Allah pula. Dalam perkara ini pun kita sebagai manusia yang lemah dan bodoh tidak boleh mencintai sesuatu secara berlebihan atau sebaliknya membenci secara berlebihan,karena bisa jadi yang kita cintai tersebut akan berdampak buruk bagi diri sendiri. Atau apa yang kita benci tersebut sebenarnya baik bagi kita.

iklan donasi pustaka2

“…Dan bisa jadi kamu benci sesuatu padahal dia baik untukmu, dan bisa jadi kamu cinta sesuatu padahal dia buruk bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 216)

Asbabun nuzul ayat di atas adalah berkenaan dengan kebencian pada berperang di jalan Allah. Tapi coba perhatikan ayat tersebut di atas dengan saksama, kata benci dan cinta disatukan dalam satu ayat. Tentu saja, ini membuat penasaran. Seolah-olah dalam ayat tersebut diisyaratkan adanya kedekatan makna di antara dua hal yang bertolak belakang tersebut. Sebuah pepatah mengatakan, “Batas antara cinta dan benci hanyalah setipis rambut.” Bagaimana dengan temuan ilmiahnya?

Semir Zeki dan John Romaya dari University College (London) telah membuat peta sirkuit syaraf otak orang-orang yang terlibat cinta. Mereka berdua meneliti 17 orang yang sedang membenci seseorang, sebagian besar dari orang yang dibenci tersebut adalah orang yang pernah dicintai.

Kepada masing-masing responden ditunjukkan foto orang yang dibenci selama 16 detik dan pada saat yang bersamaan alat scanner memetakan aktivitas otak mereka. Hasilnya menunjukkan adanya dua wilayah (sektor) otak yang sama-sama aktif ketika ada rangsangan emosi benci maupun cinta. Dua sektor tersebut dinamakan Putamen dan insular cortex.

Putamen berfungsi mempersiapkan gerakan tubuh sehingga bisa menjadi aktif saat bersiap membela yang orang dicintai atau bersiap menyerang orang yang dibenci. Sedangkan insular cortex berhubungan dengan perasaan tertekan seperti rasa cemburu. Selain itu, ditemukan pula fakta bahwa frontal cortex (sektor yang berhubungan dengan  kegiatan pertimbangan dan alasan) bekerja kurang aktif ketika berhadapan dengan orang yang dicintai. Ini mengakibatkan daya kritis berkurang pada mereka yang jatuh cinta. Sebaliknya, sektor ini tetap aktif ketika berhadapan dengan yang dibenci.

Zeki dan Romaya mendapati bahwa aktifitas otak selaras dengan tingkat kebencian atau kecintaan terhadap satu obyek. Akhirnya, Zeki pun mengusulkan agar brain scanning digunakan dalam pengadilan untuk mendeteksi apakah ada rasa benci (yang tinggi) yang dimiliki tersangka terhadap korban dalam kasus pembunuhan.

Kesimpulannya, sektor otak yang digunakan untuk emosi cinta dan benci adalah sama. Maka berhati-hatilah, jangan terlalu cinta pada sesuatu dan juga jangan terlalu benci karena hal itu sewaktu-waktu bisa berbalik. Ya jangan terlalu cinta kecuali kepada Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam. [ ]

*Penulis adalah pendidik , pegiat dakwah dan penulis buku.

Editor: Iman

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini.

(Visited 35 times, 1 visits today)

REKOMENDASI