Wahai Pemuda, Perhatikan Nasehat Imam Ghazali Ini Sebelum Menikah (Bagian 1)

menikah

Naluriah manusia itu mempunyai rasa ketertarikan dengan lawan jenisnya sebagai sebuah fitrah. Buah dari ketertarikan tersebut munculah keinginan untuk hidup bersama dalam sebuah wadah rumah tangga atau keluarga. Namun, untuk memasuki bahtera rumah tangga tersebut keduanya harus terlebih dahulu memasuki gerbang yang disebut dengan pernikahan. Pernikahan inilah salah satu yang membedakan proses kehidupan dalam membentuk keluarga yang membedakan antara manusia dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Marilah kita simak firman Allah Swt. dalam Al Qur’an.

Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Allah menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, serta Allah jadikan rasa kasih dan sayang di antaramu. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.( QS.Ar-Rum: 21)

promooktober

Sementara anjuran untuk segera menikah bagi laki-laki yang sudah mampu sangat ditekankan. Hal itu untuk kebaikan agamanya dan menghindari fitnah. Rasulullah saw. dalam hadisnya menasihati umatnya, khususnya kepada para pemuda untuk segera menikah jika telah mampu.

Wahai para pemuda ! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (Hadis Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

Seorang laki-laki yang sudah memenuhi syarat untuk menikah dan siap secara lahir dan batin, diharapkan segera untuk menikah. Namun dalam hal ini, hendaknya para laki-laki dapat memilih wanita terbaik yang akan ia jadikan istri dan juga ibu bagi anak-anaknya kelak. Dalam Al Quran secara tegas Allah melarang seorang laki-laki muslim menikahi wanita musyrik meski ia sangat menarik.

“Jangan kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya, hamba sahaya perempuan beriman lebih baik daripada perempuan musyrik yang menarik hatimu “. (QS.Al Baqarah: 221)

Demikian juga dengan kriteria yang Rasulullah saw. nasihatkan kepada umatnya, khususnya bagi laki-laki muslim dalam memilih calon istri. Seperti dalam hadisnya berikut.

Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR.Muslim)

Dengan mengacu pada Al Qur’an dan Hadis tersebut kiranya cukup jelas bagi kaum laki-laki dalam menjatuhkan hati kepada gadis yang hendaknya dijadikan pasangan hidupnya. Hal paling utama adalah agamanya. Dengan memiliki agama (akidah) ia terbebas dari kemusyrikan yang sangat dibenci oleh Allah Swt.

Namun demikian, bagi para laki-laki muslim ada baiknya juga jika mempertihan nasihat ulama besar Imam Al Ghazali dalam memilih dan mempertihan calon istrinya. Seperti dijelaskan dalam kitab yang ditulisnya Ihya’ Ulumiddin bab Adab Nikah, Imam Al Ghazali memberikan nasehat kepada laki-laki muslim agar tidak menikahi enam tipe wanita, yaitu : Al-Annanah, Al-Mananah, Al-Hananah, Al-Haddaqah, Al-Barraqah, dan Asy-Syaddaqah . Seperti apa mereka itu dan mengapa Imam Al Ghazali melarang menikahinya? Berikut ini penjelasan singkatnya.

1. Wanita Al-Annanah.

Menurut Al Ghazali wanita Al-Annanah adalah wanita yang suka mengeluh dan mengadu.

Menikahi wanita tipe ini membuat suami sulit mencapai sakinah dalam keluarga. Sebab suka mengeluh tidak mendatangkan solusi apapun. Ia justru bisa menguras emosi suami. Sedangkan mengadu sering merusak hubungan baik dengan sesama, baik kerabat maupun sahabat. Apalagi jika yang suka diadukan istri adalah orang tua suami. Mengeluh bukanlah sikap yang baik dan tepat dalam menghadapi kesulitan atau masalah hidup. Demikian juga dengan tindakan suka mengadu-adu kepada orang lain meski keluarga atau kerabat dekat bukan solusi menyelesaikan masalah.

2. Wanita Al-Mananah.

Wanita Al-Mananah menurut Al Ghazali adalah wanita yang suka mengungkit-ungkit kebaikan dan jasanya.

Menikahi wanita tipe ini membuat seorang laki-laki terhambat menjalankan perannya sebagai pemimpin keluarga. Jika ia berbeda pendapat dengan istrinya, sang istri mengungkit kebaikan dan jasanya. Apalagi jika secara ekonomi sang suami ‘lebih rendah’ dari istrinya.

Selain itu, mengungkit kebaikan berbahaya bagi kehidupan akhirat keluarga. Setiap keluarga muslim pasti menginginkan bisa masuk surga bersama-sama. Namun, perilaku mengungkit kebaikan mengancam terhapusnya pahala kebaikan tersebut. Jika pahala-pahala kebaikan terhapus, lalu apa bekal untuk masuk surga? Padahal Allah Swt telah memperingatkan agar kita jangan menyebut-nyebut kebaikan yang telah kita lakukan,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (Tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 264).

[ Bersambung …..]

Red: Lingga

Editor: Iman
Ilustrasi foto: Norman

Editor Bahasa: Santy

(Visited 62 times, 1 visits today)

REKOMENDASI