Rindu Alunan Musik Islami, Kapan Bangkit Lagi ?

musik

Oleh: Artulis Ruhiyat*

 

Tidak seperti dulu, kini nasyid jarang lagi tampil. Perkembangan nasyid sepertinya jauh dari harapan dan kalah dibandingkan dengan musik pop, R&B, atau rock yang semakin bertahta di hati para pecinta musik Tanah Air. Padahal, syair nasyid sangat kental dengan pesan-pesan kebaikan yang berguna bagi pendengarnya. Kalau boleh jujur, tidak jarang syair nasyid kerap dekat dengan keadan hati kita.

promooktober1

Nasyid dicap sebagai musik Islam meski tidak semua orang sepakat. Kata nasyid sendiri diambil dari bahasa Arab yang bermakna pengharapan atau pun pelawaaan. Di Tanah Air, fenomena nasyid dimulai sekitar tahun 70 sampai 80-an. Waktu itu, sebagian besar nasyid masih berbahasa Arab. Popularitasnya hanya di kalangan terbatas semisal kalangan pesantren atau komunitas Islam di pedesaan.

Dalam perkembangannya, unsur baru pun dimasukkan agar nasyid dapat lebih menarik minat para pendengarnya. Maka, kita pun mendengar istilah nasyid era baru atau nasyid kontemporer yang menggantikan nasyid tradisional yang lebih dikenal sebagai nasyid padang pasir. Pada nasyid kontemporer, telah banyak dimasukkan unsur-unsur alat musik.

Pada tahun 90-an, revolusi nasyid terasa begitu kental. Di masa ini, muncul beberapa kelompok nasyid yang menyenandunkan nasyid-nasyid berbahasa Indonesia. Sebut saja kelompok nasyid Al-Quds, Muwwahidun Ana, Fatal Islam, Snada, Izzatul Islam (Izzis), dan sebagainya. Raihan, kelompok nasyid dari Malaysia yang sukses berkiprah di Indonesia, diakui mempunyai andil besar dalam mempopulerkan nasyid di Tanah Air.

Adapun musik gambus yang pada era 70-an sempat berjaya, lambat laun kini mulai tenggelam seiring pesatnya perkembangan musik modern. Namun demikian, masih banyak group musik gambus yang hingga kini masih mencoba eksis di tengah popularitas musk pop yang berkembang di masyarakat saat ini. Alunan irama khas Padang Pasir disertai lirik-lirik bertema religius, sangat melekat dalam jenis musik gambus ini. Dinamakan demikian karena salah satu instrumen yang dominant dalam gambus adalah alat musik petik sejenis gitar yang bernama gambus. Selain itu, musik ini juga didukung oleh beberapa instrumen klasik seperti biola, mandolin, akordion, tamborin, dan gendang. Kadang, untuk lagu-lagu tertentu, gambus juga dilengkapi dengan seruling. Orkes gambus biasanya dimainkan untuk mengiringi tari zapin yang seluruhnya dibawakan pria sebagai tari pergaulan.

Konon, gambus merupakan salah satu jenis musik yang telah berusia ratusan tahun dan sampai kini masih tetap bertahan. Menurut sejarahnya, gambus berkembang sejak abad ke-19 seiring kedatangan para imigran Arab dari Hadramaut (Republik Yaman) ke Nusantara untuk berdagang. Kalau Wali Songo menggunakan gamelan sebagai sarana dakwah, maka para imigran Hadramaut menjadikan gambus sebagai sarananya.

Memang sulit mengembangkan musik gambus di tengah masyarakat yang cenderung telah terikat dengan musik-misik yang bernuansa Barat. Gambus tampil masih di beberapa tempat terbatas saja seperti undangan hajatan, acar-acara di pesantren, dan acara sejenis lainnya. Namun begitu, bermain musik gambus adalah suatu aktivitas yang menyangkan. Kegiatan bermain musik di lingkungan pesantren sebenarnya bukan kewajiban, tapi manakala santri ingin mendapatkan hiburan, ya bermain gambuslah salah satu(sarana)nya. Lagi pula, bermain musik gambus bisa dijadikan ajang untuk menyampaikan pesan melalui doa dan shalawat.

Selain Nasyid dan gambus, masih banyak lagi jenis musik asal Timur Tengah dan India yang berbasiskan syair Islam. Salah satunya adalah marawis yang lebih dikenal dibandingkan jenis musik lainnya. Boleh jadi, musik marawis lebih dekat di telinga kita meski banyak orang-orang yang merasa awam karena tidak dimengerti syair-syair marawis yang biasanya berbahasa Arab. Marawis sendiri berasal dari negara Timur Tengah, terutama dari Yaman. Nama marawis tidak lain dan tidak bukan merupakan nama salah satu alat musik yang dipergunakan dalam kesenian ini yaitu marawis atau sejenis gendang kecil. Selain marawis, alat lain yang digunakan adalah hajir (gendang besar), dumbuk (sejenis gendang yang berbentuk seperti dandang), dan kadang dilengkapi dengan tamborin atau krecek. Lagu-lagu yang berirama gambus atau padang pasir dinyanyikan sambil diiringi jenis pukulan tertentu.

Perkembangan marawis tidak kalah lambat dibanding gambus. Biasanya musik jenis berkembang lewat pesantren atau majelis ilmu (taklim). Jenis musik gambus dipelajari dan dimainkan saat waktu senggang atau sebagai ektrakulikuler di pesantren. Kemudian dimainkan dalam acara ceramah,tabligh akbar atau hari-hari besar keagamaan atau milad lembaga keislaman.

Terlepas dari berbagai perdebatan tentang halal haramnya musik dan lagu dalam Islam, ketiga jenis kesenian ini dianggap lebih dekat dengan nilai-nilai islami. Dalam keterkaitan ini, paling tidak tiga jenis musik tadi secara tekstual dianggap menyerukan kebaikan. Lebih dari itu, ketiga jenis musik di atas dianggap mampu memberi perlawanan terhadap dominasi musik dari Barat yang semakin tak terbendung membanjiri belantika musik Tanah Air. Bagi teman – teman munsyid (musikus nasyid) ayo bangkit lagi dan berkarya terus lewat jalur musik positif, inspiratif,motivatif dan edukatif . Ajang mencari bakat untuk melahirkan generasi baru para munsyid nampaknya harus digalakkan sehingga musik nasyid tidak mati suri. Semoga musik nasyid kembali berjaya diblantika musik tanah air sebagai musik positif sebagai bagian dari upaya dakwah dan syiar Islam. Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah penikmat nasyid, pendidik dan penulis buku.

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

Bagi Sahabat  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di web Percikan Iman Online, kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh.

(Visited 17 times, 1 visits today)

REKOMENDASI