Kejahatan Harus Dibalas dengan Perbuatan Baik, Kenapa?

Positif thinking

Oleh : Rita Puspasari*

Sobat Percikaniman, apa yang anda lakukan bila ada seorang atau beberapa orang yang tidak menyukai  kita?  Ketidaksukaan itu seperti terlihat dari perlakuannya yang terasa sekali acuh,  menggerutu dan sinis jika melihat kita. Padahal, kita telah berusaha berbuat baik kepadanya, tetapi perlakuan mereka tetap sama. Di sindir, di caci, tidak di hargai bahkan di hina. Seakan-akan  apa yang kita lakukan selalu salah dan tak berarti di mata mereka.

promooktober

Akankah kita membalas perlakuan mereka dengan berbalik memusuhinya?  Apakah itu solusinya? Membalas perbuatannya dengan ikut memusuhi hanya akan mengotori diri kita. Solusinya adalah bersabar dan membalas perbuatan buruk mereka dengan perbuatan baik. Untuk menguatkan hati dan mental kita dalam menghadapi situasi demikian, sejenak kita kembali membaca kisah para Nabi dan Rasul mulia yang mendapat sambutan penolakan bahkan ancaman pembunuhan dari orang-orang yang diajaknya ke jalan yang benar. Rasulullah Saw adalah teladan sepanjang masa,

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”  (QS Al-Ahzab: 21)

Kita perlu menyadari bahwa mustahil semua orang di dunia ini akan menyukai kita, meski kita telah berbuat baik. Demikian juga tidak mungkin semua orang di dunia ini membenci kita. Di dunia ini pasti ada saja yang tidak menyukai kita. Belajar dari manusia mulia dan kekasih Allah yakni para Nabi dan Rasul saja ada orang yang tidak menyukainya. Tengoklah perjalanan hidup Rasulullah Saw saja mempunyai keluarga dekat yang selalu memushinya yakni Abu Lahab dan Abu Jahal.  Abu Jahal mempunyai nama asli yaitu Abdul Hakam bin Hisyam. Abu Jahal ini mempunyai sifat yang tidat patut untuk ditiru, yaitu sifat kebencian, kedengkian, sombong, dan pemarah serta dendam kesumat hingga akhir hayatnya.

Lalu apa yang harus kita perbuat?

Berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah (2):148)

Dari ayat tersebut, kita dianjurkan untuk berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. Sebelum kita melakukan suatu tindakan atau perbuatan. Kita harus mengetahui atau membedakan mana perbuatan baik dan mana perbuatan yang buruk. Contoh perbuatan baik yang mudah dan murah bahkan tanpa biaya adalah tersenyum.  Niatkan tersenyum sebagai salah satu ibadah. Kita dianjurkan untuk tersenyum kepada sesama sebagai sedekah, karena tersenyum saja sudah menambah satu pahala buat kita. Ringan bukan? Maka yakinlah bahwa tiada perbuatan baik yang kita lakukan akan berbuah kesia-siaan. Semua perbuatan baik pasti Allah akan membalasnya, hanya waktu dan bentuknya kita yang tidak tahu.

Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula” (QS. Ar-Rahman :60).

Dari ayat di atas, dapat kita pahami bahwa perbuatan baik pasti akan dibalas dengan perbuatan baik pula oleh Allah. Untuk itu, berbuat baiklah kepada orang yang jahat yang telah mendzalimi kita. Jangan ragu, malaikat akan menuliskan pahala atas nama kita yang akan menambah berat timbangan di akhirat. Berbuat baiklah sebanyak-banyaknya, mengumpulkan pahala selama di dunia. Kelak nanti di hari kiamat atau di akhirat semua orang akan menyesal, yang berbuat dosa atau maksiat mereka akan menyesal mengapa mereka melakukan perbuatan yang di benci Allah. Lalu orang yang taat pun akan menyesal, mengapa tidak melakukan perbuatan baik yang lebih banyak untuk menambah berat timbangan kebaikan (amal shaleh) di akhirat sehingga meraih surga tertinggi. Perbuatan baik atau buruk sekecil apa pun akan tetap mendapat ganjaran dari Allah SWT.

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji dzarrah (biji atom) niscaya dia akan menerima (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat biji dzarrah (biji atom)pun niscaya dia akan menerima balasannya.”(QS. Al-Zalzalah 7-8)

Dari penjelasan ayat tersebut kita menjadi yakin bahwa sekecil apa pun amal kita – baik atau buruk – Allah akan membalasnya dan tidak ada amal yang sia-sia. Yakinkan diri untuk selalu melakukan perbuatan baik, meskipun berat dan banyak cobaan.  Allah akan membalas perbuatan baik kita sehingga tidak ada perbuatan baik yang berujung pada sia-sia.

Demikian pula, yakinlah akan ada balasan bagi orang-orang yang jahat karena Allah Swt mempunyai nama lain yang ada di dalam Asmaul Husna, yaitu Al-’Adl yang berarti Maha Adil atau Al-Hakim yang berarti Maha Menghakimi. Allah telah berfirman :

Sekali-kali tidak demikian. Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Lalu dikatakan (kepada mereka), inilah azab yang dulu selalu kami dustakan” QS. Al-Muthaffifin : 14-17

Dengan demikian, jika ada yang memusuhi atau menghina kita maka tidak perlu kita membalasnya dengan balasan yang serupa. Malah sebaliknya, perlakukan mereka dengan perbuatan baik kita dan tidak ada salahnya kita doakan mereka agar Allah memberi taufik dan hidayah sehingga mereka menjadi sadar atas kekhilafannya.  Yakinlah tidak ada yang luput dari penglihatan Allah SWT. Allah akan memberikan ganjaran kepada orang yang berbuat baik dan sebaliknya. Wallahu’alam.

*Penulis adalah mahasiswi di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta 

Editor: Iman

Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di Percikaniman.id? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh.

(Visited 55 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

One Thought to “Kejahatan Harus Dibalas dengan Perbuatan Baik, Kenapa?”

  1. Anon

    Setuju, tapi kalau bisa dibuat takaran skala 1-10, 1 memaafkan, 10 berarti membalas dengan perbuatan serupa, dengan berdasar kpd asma Alloh Rahman dan Rahim, dgn niat mendidik, atau melindungi yg terdzalimi, menumbuhkan rasa empati, dan tak lupa mendoakan, utamanya memaafkan, tp kadang kala shock therapy juga dibutuhkan(pencuri = potong tangan), mudah2an yang korupsi tidak dimaafkan oleh negara dlm artian dibebaskan, krn imbasnya dlm kehidupan bermasyarakat, negeri bisa amburadul, tak ada kepercayaan, yang melanggar tinggal minta maaf lalu berlalu begitu saja, berbuat lagi, minta maaf lagi, dan begitu seterusnya, polanya bisa dimanfaatkan oleh orang jahat mbak
    Wallohu a’lam

Leave a Comment