Fenomena LGBT dan Upaya Mencegah Bencana Sodom

lgbt

Oleh: Ir.H. Bambang Pranggono, MBA*

Keberadaan komunitas yang menyebut lesbian, gay, biseksual dan trangender (LGBT) di Indonesia kini menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Kemunculan istilah LGBT  bukan hanya terjadi di luar negeri sana namun faktanya sudah ada di sekitar kita. Fenomena penyakit masyarakat ini sekarang sudah menyebar di penjuru dunia mana pun seiring dengan penyebaran teknologi. Transgender adalah individu yang memiliki gangguan psikologis karena merasa terjebak ditubuh yang salah.

promooktober1

Transgender yang melakukan operasi kelamin disebut transeksual. Awal mula transgender berada memang di luar negeri karena bebasnya pergaulan di sana dan tidak ketatnya perarturan dan tidak banyaknya hukum yang terkait dengan masalah atau kasus maka di sana terlihat biasa. Kenyataan dan realita yang berkembang dalam masyarakat modern saat ini, terdapat fenomena adanya transgender dan transeksual pada sekelompok orang. Sebelum terjadinya transgender dan transeksual sebelumnya telah terlahir fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

Umumnya simbol LGBT ditandai dengan bendera pelangi sebagai lambang “keanekaragaman” dalam komunitas tersebut. Menurut beberapa sumber, bendera lambang LGBT sudah digunakan sejak tahun 1970an. Warna-warnanya mencerminkan keragaman dalam komunitas GLBT. Bendera ini diciptakan di California tapi kini digunakan di seluruh penjuru dunia. Bendera Pelangi dirancang oleh Gilbert Baker asal San Francisco di tahun 1978 dengan enam garis mewakili enam warna pelangi sebagai simbol kebanggaan masyarakat gay. Bendera itu pertama kali dikibarkan dalam parade gay San Francisco pada tanggal 25 Juni 1978. Menurut kabar, Gilbert terinspirasi oleh lagu Judy Garland (ikon gay) berjudul Over The Rainbow.

Transgender adalah perilaku yang dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan yang di luar kodratnya. Mereka merasa bahwa dirinya bukan merupakan gender yang sekarang membentuk dirinya, sehingga mereka berperilaku dan berpenampilan seperti gender yang mereka inginkan. Contohnya adalah seorang laki-laki yang merasa dirinya tidak seperti pria pada umumnya melaikan seperti wanita yang lemah lembut begitu sebaliknya. Biasanya hal ini terjadi akibat perilaku yang tak biasa ia lakukan, bahkan sebagian besar karena terpengaruh oleh faktor lingkungan disekitarnya bahkan keluarga.

Sementara transeksual sendiri merupakan para pelaku transgender yang akhirnya memutuskan untuk berganti jenis kelamin. Selain berperilaku dan berpenampilan seperti lawan jenis, karena faktor ketidaknyamanan biasanya para pelaku transeksual mengubah dan mengganti dirinya secara keseluruhan termasuk alat kelamin mereka, sehingga mereka seutuhnya diidentifikasikan seperti gender yang mereka inginkan.

LGBT sendiri bukan “barang” baru dalam pembahasan kemasyaratan. Bahkan, ada yang menganggap hal ini ada sejak sejarah manusia. Setidaknya, dalam sejarah seperti yang diceritakan Allah Swt dalam Al-Qur’an mencatat bahwa penyakit ini sudah ada sejak zaman Nabi Luth sebagai perilaku yang keji dan kotor, sebagaimana firman-Nya:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ
إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

Dan Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kalian lakukan keburukan yang belum pernah dilakukan seorangpun di seluruh alam? Kalian menyetubuhi sesama laki-laki dan bukan wanita. Sungguh kalian kaum yang melampaui batas.’” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 80 -81)

Dalam Tafsir Ad-Durrul Mantsur, Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Luth diutus kepada empat negeri; Sodom, Amura, Mu’tafikat, dan Shobwir. Negeri terbesar ialah Sodom yang penduduknya menjadi perintis sodomi, homosexual, dan lesbian. Akhirnya, kota itu hancur ditimpa azab dan konon terbenam di bawah lumpur, di ujung selatan Laut Mati. Semua itu karena mereka menyukai perilaku seks yang menyimpang dan dikutuk agama tapi kini meluas ke seluruh dunia.

Kalau kita lihat saat ini, tingkah laku kebanci-bancian justru dipopulerkan dalam acara-acara televisi meski kitab suci secara jelas mengharamkannya. Masih ada orang beranggapan bahwa menjadi banci adalah takdir dari Tuhan yang harus diterima semua pihak. Pertanyaannya, betulkah hal itu tidak bisa dicegah?

Ikhtiar yang konkret adalah operasi kelamin, dengan memilih salah satu jenis kelamin tertentu. Walaupun hal ini juga masih dikecam sebagai tindakan mengubah takdir. Ikhtiar lain adalah berupa langkah pencegahan. Professor Alice Dreger dari Northwestern University mengumumkan temuannya bahwa penyebab sifat banci adalah gangguan serius pada kelenjar endokrin yang disebut Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH). Hasil risetnya menunjukkan bahwa anak perempuan yang lahir dengan CAH banyak yang menjadi tomboy dan lesbian. Hal ini bisa ditangani sebelum kelahiran dengan obat yang disebut dexamethasone untuk mencegah pertumbuhan kelainan kelamin (abnormal genitalia). Maria New (ahli endokrinologi pediatric) telah menggunakannya dalam terapi pada ratusan pasiennya untuk mencegah homosexualitas.

Memang, American Academy of Pediatrics menganggap bahwa penggunaan obat ini masih bersifat experimental. Akan tetapi, ikhtiar pencegahan lahirnya manusia banci seperti ini layak didukung oleh umat Islam. Ketika suatu perbuatan diharamkan dalam Al-Quran, maka menjatuhkan hukuman bagi pelaku hanyalah langkah pembelajaran yang harus dibarengi juga dengan langkah pencegahan yang berupa ikhtiar jangka panjang. Raja-raja negara Islam yang kaya raya harus menyumbangkan hartanya untuk riset yang sangat dibutuhkan ini demi mencegah turunnya adzab Allah pada negara Islam yang membiarkan tumbuh berkembangnya perilaku kaum Sodom. Naudzu billah!

Jika Ffnomena LGBT ini tak dicegah atau dihentikan,  bukan mustahil azab yang menimpa kaum Sodom ribuan tahun lalu akan terulang . Upaya yang bisa kita lakukan sebagai muslim adalah senantiasa mendekat kepada Allah dan selalu meminta perlindungan dari penyakit keji dan kotor tersebut menimpa keluarga kita. Hanya kepada Allah Swt kita bertaubat,memohon pertolongan dan dijauhkan dari azab yang sewaktu-waktu akan ditimpakan. Semoga kita dan keluarga kita bukan termasuk golongan yang menerima azab tersebut. Wallahu’alam.

*Penulis adalah pendidik, pegiat dakwah dan penulis buku.

Editor: Iman

 

(Visited 20 times, 1 visits today)

REKOMENDASI