Senator Ini Minta, Segera Canangkan Kampung Anti Narkoba di Jakarta

 

Dalam beberapa hari ini di Jakarta terjadi perlawanan pengedar narkoba terhadap aparat polisi. Bahkan penggerebekan di sebuah rumah yang diduga bandar narkoba di wilayah Jalan Slamet Riyadi, Matraman, Jakarta Timur mengakibatkan seorang polisi meninggal dan polisi lainnya luka-luka. Sementara selang sehari (19/1), dua orang anggota Polres Jakarta Barat ditembak saat melakukan penggerebekan narkoba di kawasan Koja, Jakarta Utara.

Wakil ketua Komite III DPD, Fahira Idris mengatakan, sudah menjadi rahasia umum di Jakarta masih terdapat kantong-kantong peredaran narkoba di mana dalam satu lingkungan terdapat bandar, pengedar, dan pemakai menjalankan bisnis narkoba. Untuk itu, warga harus diberi advokasi untuk bergerak bersama memberantas narkoba melalui pendirian kampung-kampung anti narkoba.

“RT/RW dan warga tak bisa juga disalahkan. Mereka tahu di lingkungannya ada bandar, tapi takut melapor. Kejahatan narkoba itu masalah mafia, kejahatan yang terorganisir. Makanya BNN dan Pemprov DKI Jakarta turun ke kampung-kampung. Advokasi warga, inisiasi gerakan kampung anti narkoba beri warga jaminan perlindungan sehingga tidak takut melapor. Jadi jangan setiap ada masalah di lingkungan, langsung mau pecat RT/RW. Itu bukan solusi,” jelas Fahira dalam rilisnya.

Menurutnya, semasif apapun polisi menangkapi bandar narkoba di Jakarta, peredaran narkoba akan tetap ada, jika masyarakat tidak ikut bergerak. Kampung Anti Narkoba bukan hanya simbol perlawan terhadap narkoba, tetapi di dalamnnya ada proses penyadaran bahwa keamanan dan kondusivitas lingkungan adalah tanggung jawab warga. Untuk itu, pemahaman warga terhadap bahaya dan peredaran narkoba harus dikuatkan. Warga seharusnya diberikan pengarahan atau pelatihan agar bisa mengetahui gejala pengguna atau ciri orang yang berisiko tinggi menjadi bandar, pengedar, dan pengguna narkoba.

“Buat saluran pengaduan yang mudah dan aman bagi warga yang mau melapor jika melihat ada indikasi peredaran narkoba di lingkungannya. Jadi dibuat kondisi di mana warga merasa terlindungi jika ingin melapor,” ujar Fahira.

promo oktober

Fahira mengungkapkan dalam 10 tahun belakangan ini terjadi perluasan peredaran narkoba, dari sebelumnya terjadi di lokasi pusat keramaian seperti diskotek, mall, maupun kafe, sampai meluas dan merambah ke area perkampungan secara berani dan terang-terangan.

“Tantangan pemberantasan narkoba ini sangat berat. Mereka itu sudah seperti perusahaan. Ada ‘direkturnya’, ada ‘komisarisnya’, ada ‘investor’, ada ‘agen’, sampai ke distributor atau pengedar. Mata rantai ini yang harus kita putus, lalu masyarakat harus diberi ruang dan dilindungi untuk berperan memberantas narkoba,” pungkas Ketua Yayasan Anak Bangsa Berdaya dan Mandiri ini. [ ]

Red: admin
Editor: Iman
Editor Bahasa: Agung

(Visited 2 times, 1 visits today)

REKOMENDASI