ICMI Jabar Ingatkan, Pembangunan Jangan Hanya Maju Fisiknya Tapi Spiritualnya Juga

ICMI Orda Jabar kembali mengadakan kegiatan mudzakarah (Focus Group Discussion/FGD), di Gedung Bumi Madani ICMI Jl. Cikutra 276 D, Kota Bandung, Kamis (21/1/2016). Acara yang mengambil tema “Islam dan Peta Pembangunan Jawa Barat” ini menghadirkan narasumber: Dr. Uton Rustan (Planologi ITB), Linda Al Amin, ST., MT. ( Sekretaris Bappeda Jabar), Virda Dimas EP (Dirut Bandara Internasional Jawa Barat/BIJB), dan Agung Suryamal (Ketua Umum Kadin Jabar).

Dalam pengantarnya, Ketua ICMI Jabar Prof. Dr. H. M. Najib menyampaikan setidaknya dalam lima tahun ke depan pembangunan di wilayah Jawa Barat akan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Indikasi itu minimal dapat dilihat dari tiga aspek yang sedang dan akan berlangsung yaitu proyek Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Majalengka, proyek kereta cepat Bandung-Jakarta, dan sentra ekonomi terpadu (metropolitan city) meliputi Depok, Bekasi, dan Kawarang.

promooktober

“Dampak ekonominya jelas ada tapi yang tidak kalah pentingnya adalah dampak sosial dan spiritualitasnya. Jangan sampai ekonominya maju tapi gersang di sisi spiritual keislamannya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Provinsi Jawa Barat sebagai provinsi terpadat di Indonesia dengan mayoritas penduduk bergama Islam (muslim) harus mendapat keuntungan dan merasakan manfaat dari mega proyek tersebut. Najib juga mengingatkan tujuan utama sebuah pembangunan adalah masyarakat sekitar, umumnya di wilayah Jabar, jangan sampai hanya investor saja yang akan meraup keuntungan.

“Sungguh ironis jika ada daerah mengalami pembangunan yang maju dan berkembang tapi masyarakat sekitar hanya sebagai pekerja atau paling banter punya kios atau warung, sementara orang asing yang punya mall dan tinggal di perumahan elit,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan dampak sosial dari pembangunan yang secara tidak langsung mengalami pergeseran dari sisi budaya dan perilaku masyarakatnya. Najib mencontohkan masyarakat agraris yang religius dengan masih menjunjung norma agama mungkin akan berpengaruh jika berubah menjadi masyarakat industrial. Perubahan rutinitas masyarakat agraris dengan aktivitas keagamaan yang kental lambat laun akan berganti dengan aktivitas hedonitas sebagai tuntutan gaya hidup modern.

“Tentu saja dampak ini yang tidak kita inginkan, dengan adanya pembangunan harusnya kehidupan masyarakat Jabar yang religius harus maju dan berkembang bukan sebaliknya kehidupan keagamaan menjadi gersang,” imbuhnya.

Untuk itu, ICMI sebagai wadah kaum intelektual harus mengambil peran dalam menghadapi dan menjawab tantangan sekaligus peluang zaman dengan adanya pembangunan. Menurut Najib, pihaknya akan melakukan dialog dan sumbang saran pemikiran kepada pihak-pihak terkait, baik pemerintah maupun swasta dalam merencanakan maupun sebagai pelaksana lapangan. Dengan demikian, pembangunan tersebut selain berdampak pada peningkatan taraf hidup (ekonomi) juga akan berdampak pada perkembangan spiritual.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Umum Kadin Jabar, Agung Suryamal yang mengungkapkan bahwa umat Islam di Jawa Barat harus bisa mengambil peran dalam setiap momen pembangunan yang sedang digalakkan pemerintah. Menurutnya, modernisasi dalam berbagai aspek kehidupan adalah sebuah keniscayaan untuk sebuah kemajuan perabadan manusia. Demikian juga dampaknya, baik positif maupun negatif pada setiap perubahan.

“Menurut saya umat Islam jangan takut dengan perubahan sebagai dampak dari sebuah proses pembangunan. Umat Islam juga harus maju dan berkembang seiring dengan kemajuan zaman, yang dibutuhkan adalah kesiapan baik skill maupun mental,” ingatnya.

Dirinya mencontohkan, beberapa proyek yang tengah berlangsung di Jawa Barat sebagian besar menggunakan tenaga kerja asing karena secara kualitas dan kompetensi sudah memenuhi syarat yang ditetapkan perusahaan (investor). Di sisi lain, hal demikian jika tidak dipahami masyarakat maka bisa menimbulkan dampak sosial seolah investor lebih berpihak pada tenaga asing daripada pribumi atau lokal.

Untuk itu, pihaknya mengajak kepada masyarakat Jawa Barat, khususnya kaum muslim agar mempersiapkan diri untuk menghadapi kamajuan zaman tersebut. Ia mengingatkan umat Islam sebagai umat terbaik harus mampu menunjukan predikat tersebut dalam semua bidang kehidupan.

“Sebagai muslim dan pernah tinggal di pesantren, tentu saya juga tidak mau jika umat Islam khususnya yang berada di Jawa Barat ini hanya sebagai ‘penonton’ atas kemajuan pembangunan yang ada. Mari saling bersinergi dan menguatkan serta menjalin kerjasama antar elemen umat Islam dengan pelaku usaha untuk maju dan berkembang bersama,” ajaknya.

Sementara itu, ahli planologi ITB, Dr. Uton Rustan menyampaikan secara umum pembangunan di Jawa Barat dalam kurun waktu 15 tahun ke belakang mengalami kemajuan yang signifikan dari sisi infrastruktur yang tersedia. Namun demikian, dalam mengukur kemajuan sebuah bangsa atau masyarakat bukan hanya dilihat dari sisi fisiknya saja melainkan non fisiknya juga.

Ia menambahkan, Jabar yang sejak dulu terkenal oleh masyarakatnya yang religius harus juga mengalami kemajuan dari sisi spiritualnya. Diakuinya pula setiap perubahan wilayah dari terbelakang menjadi maju atau wilayah perdesaan menjadi semi kota akan mengalami dampak sosial. Hal ini yang terkadang tidak terpikirkan atau diantisipasi oleh pemangku kebijakan hingga pelaku usaha.

“Dulu dalam pendidikan kita ada motto ‘iman dan taqwa’ (imtaq) sebelum ‘ilmu pengetahuan dan teknologi’ (iptek). Belakangan ini semboyan imtaqnya mulai kurang terasa bahkan cenderung ditinggalkan,” ungkap Uton yang juga Sekretaris Lembaga Kajian Pembangunan Daerah (LKPD) ICMI Jabar ini.

Untuk itu, semboyan tersebut harus digalakkan lagi dan dipertahankan dalam pendidikan termasuk dalam kebijakan pembangunan sehingga jati diri masyarakat Jawa Barat yang religius tidak tergerus oleh dampak pembangunan yang bersifat materialis. Oleh karena itu, ia berharap setiap kebijakan yang hendak diambil dan dijalankan harus melibatkan pihak-pihak terkait termasuk unsur masyarakat dalam merumuskan rencana pembangunan.

Dalam kesempatan tersebut, Linda Al Amin selaku Sekretaris Bappeda Prov. Jabar yang hadir mewakili Dr. Andri selaku Kepala Bappeda yang berhalangan hadir, lebih banyak menyampaikan rencana dan capaian pembangunan di wilayah Jabar. Ia pun banyak mendengar dan menampung aspirasi dari peserta yang memberi masukan. [ ]

Rep: Iman
Editor: Candra
Editor Bahasa: Agung

 

(Visited 3 times, 1 visits today)

REKOMENDASI