Rumah yang Penuh Berkah Mestinya Punya 4 Fungsi Ini (Bagian 1)

Fungsi perumahan dalam Islam tidak hanya untuk beristirahat atau tempat tinggal, tetapi juga sebagai laboratorium pelaksanaan syariat Islam secara kafah. Rumah merupakan miniatur masyarakat dan negara yang berlandasakan Islam dalam segala aspek kehidupan.

Istilah yang digunakan dalam Al Quran untuk perumahan cukup banyak, di antaranya (a) bait, (Q.S. Hud 11: 73, Al Ahzab 33: 33) atau yang jama’-nya buyut (Q.S. An-Nur 24: 27, An-Nahl 16: 80), (b) munzal atau manzil (Q.S. Al Mu’minun 23: 29), dan (c) Suknah (Q.S. Ath-Thalaq 65: 6)

promooktober1

Dalam buku Feng Shui Islam karya H.U.Saifuddin, ASM, dijelaskan bahwa fungsi perumahan itu harus memenuhi ketentuan yang diatur dalam  Al Qur’an dan hadits.  Setidaknya ada 4 fungsi peramahan yang harus dipenuhi, yaitu :

1. Rumah sebagai tempat ibadah

Rumah berfungsi sebagai tempat ibadah yang sangat penting, terutama ibadah shalat sunah bagi pria dan segala shalat untuk kaum wanita. Dalam menjelaskan sifat mukmin yang mendapat kasih sayang Allah, Al Quran memuji, “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (Q.S. Al Furqan 25: 64)

Perkataan يَبِيتُونَ juga sering diartikan bermalam di rumah. Dengan demikian, orang mukmin selalu menggunakan rumahnya sebagai tempat beribadah kepada Allah Swt. Penggunaan rumah untuk shalat sunah dikisahkan dalam hadits berikut.

Rasulullah Saw. mengambil suatu tempat dan menggelar tikar. Lalu, beliau shalat di sana. Perbuatan beliau itu diperhatikan oleh beberapa orang sahabat  lalu mereka datang untuk melakukan shalat di tempat beliau. Pada malam berikutnya, mereka datang dengan lebih ramai lagi lalu Rasulullah meninggalkan mereka. Rasulullah Saw. tidak mau keluar menemui mereka lalu mereka meninggikan suara, bahkan ada yang melontar pintu rumah beliau dengan batu-batu kecil. Akhirnya, dengan murka Rasulullah Saw. keluar menemui mereka seraya bersabda, “Silakanlah kalian melakukannya dan biarlah Allah mewajibkan ke atas kamu. Shalatlah di rumah kamu, sesungguhnya sebaik-baik shalat seseorang itu ialah yang dilakukan di rumahnya kecuali shalat fardlu.” (Muttafaq alaih dari Zaid bin Tsabit, hadits no. 429)

Menurut suatu riwayat, peristiwa tersebut terjadi pada malam Ramadhan. Salat yang dilakukan Rasulullah adalah qiamu ramadhan yang saat ini dikenal dengan istilah shalat tarawih. Dengan demikian, tegaslah bahwa shalat sunah itu lebih baik dilakukan di rumah, termasuk tarawih.

Rasulullah Saw. pernah melakukan qiamu ramadhan di masjid, tetapi selanjutnya di rumah. Pada hadits tersebut, ditandaskan pengecualian untuk shalat fardlu yang lebih utama dilakukan di masjid. Keutamaan ini berlaku bagi kaum pria, sedangkan bagi kaum wanita, semua shalat lebih utama dilakukan di rumah. Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kalian mencegah istri-istri kalian untuk pergi ke masjid, sedangkan rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (H.R. Abu Daud)

Di samping sebagai tempat ibadah shalat, rumah juga harus berfungsi sebagai tempat ibadah lainnya, seperti tersirat dalam ayat berikut.
“Wahai para istri, hendaklah kamu bertempat tinggal di rumahmu dan janganlah kamu tabarruz dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Q.S. Al Ahzab 33: 33)

Ayat ini memerintah para istri Nabi dan wanita yang beriman untuk berkonsentrasi mengurus rumah tangga serta melarang mereka bertingkah laku jahiliah. Secara tersirat, terkandung dalam ayat ini bahwa rumah harus berfungsi sebagai tempat segala kegiatan kaum wanita, terutama dalam menegakkan shalat, menunaikan zakat, menaati Allah dan Rasul-Nya, serta membersihkan diri dari noda dan dosa.

Rasulullah Saw. membandingkan rumah yang berfungsi sebagai tempat ibadah dengan yang tidak, takubahnya seperti membandingkan orang hidup dengan bangkai. Beliau bersabda, “Perumpamaan rumah yang suka digunakan untuk berzikir kepada Allah dan rumah yang tidak disebut nama Allah di sana, takubahnya perumpamaan yang mati dengan yang hidup.” (Muttafaq alaih, hadits no. 428)

Bersambung…

Ilustrasi Foto : “Ruang TAMU1” by Puri RengganisOwn work. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons.

(Visited 37 times, 1 visits today)

REKOMENDASI