Karakter Ini yang Harus Dimiliki Pemimpin Indonesia

Manusia adalah wakil Allah di dunia (khalifah fill Ard). Kita diberi wewenang oleh Allah untuk mengelola bumi dan segala isinya, termasuk diri sendiri. Untuk itu, kita perlu bekerjasama satu sama lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Padahal, setiap manusia punya cara pandang dan komunikasi yang berbeda. Di sinilah perlu ada yang menyatukan agar semua bisa bersinergi. Inilah hakikat seorang pemimpin dan kenapa ia dibutuhkan. Walau begitu, sebenarnya setiap orang dalam tingkatan apa pun adalah pemimpin dan setiap kita akan ditanya apa yang kita pimpin.

Menurut pengamat manajemen sumber daya manusia (SDM) dari Universitas Indonesia (UI), Arvan Pradiansyah, untuk bisa menjadi pemimpin atau memimpin dengan baik, seorang muslim wajib meneladani sifat-sifat kepemimpinan Rasulullah Saw. yaitu, pertama adalah shiddiq yang berarti benar.  Dalam manajemen modern dikenal pemimpin itu harus “do the right things” (melakukan hal-hal yang benar). ”Jadi, seorang pemimpin harus tahu jalan yang benar, bukan sekadar ”doing things right” (melakukan hal-hal dengan benar),” paparnya ketika dihubungi Mapionline di sela-sela kesibukannya.

promooktober

”Contohnya, saat ingin pergi ke Bandung, yang dipikirkan bukan hanya bagaimana menempuh perjalanannya, tapi tidak tahu kemana tujuannya. Artinya, seringkali kita sibuk kerja mencari nafkah, tapi kita tidak tahu ujung perjalanan pencarian nafkah kita akan ke mana. Bukan seperti itu pemimpin,” imbuhnya  beberapa waktu lalu.

Kedua adalah sifat amanah, yang dalam konsep manajemen modern dikenal dengan nama ”trust worthyness” yang artinya layak dipercaya. Jadi, selain ia harus tahu mana yang benar, pemimpin juga harus merupakan orang yang layak dipercaya. Sifat ini bisa ditumbuhkan melalui pembinaan karakter untuk bisa menjadi individu yang dapat dipercaya.

Ketiga adalah kompetensi (menguasai bidangnya). Ini yang dimaksud dengan sifat fathonah. Seorang pemimpin yang jujur dan baik ketika tidak menguasai bidangnya, maka dia tidak akan diandalkan atau dibutuhkan oleh orang lain.

Keempat adalah tabligh atau kemampuan berkomunikasi (communication skill).

Dalam pandangan Arvan, seorang pemimpin bukan hanya pintar secara pribadi, tetapi yang paling penting ia juga bisa membuat orang lain menjadi pintar. ”Untuk itulah, ia perlu keahlian komunikasi untuk bisa mentransfer apa yang ada di kepalanya ke dalam kepala setiap anak buahnya,” ungkap dosen FISIP UI ini.  Selain itu, seorang pemimpin haruslah mampu sharing (berbagi-red.) dan menyampaikan gagasannya sehingga anak buahnya bisa menangkap persis setiap apa yang ia maksud.

Karakter-karakter tersebut juga berlaku pada seorang ayah yang juga merupakan pemimpin dalam keluarga. Pada poin pertama, ialah melakukan hal-hal yang benar, seorang ayah harus mampu mencari nafkah di jalan yang benar dan dengan cara yang benar. Pun dalam mendidik anak, dia harus mempunyai visi untuk di masa depan ini akan menjadi seperti apa anak-anaknya. Contoh kecilnya pada saat pemberian nama. Nama bukan hanya mengandung hal-hal yang indah tapi juga mengandung sebuah visi.

kedua, seorang ayah harus menjadi orang yang layak dipercaya bagi istri dan anak-anaknya. Apalagi saat ini tingkat kepercayaan (level of trust) antara suami-istri tidak setinggi seperti dulu karena banyaknya stimulus dari luar. Kita bisa buktikan dengan makin maraknya perselingkuhan dan kasus kawin-cerai. Itu sebabnya seorang ayah adalah orang yang layak dipercaya sehingga keluarganya tidak perlu was-was memikirkan saat sang ayah meninggalkan rumah.

Ketiga, ayah yang baik tentu saja harus fathonah atau kompeten. Artinya ia harus mempunyai keahlian tertentu yang ia gunakan untuk mencari nafkah, membangun keluarganya, dan membesarkan anak-anaknya. Terakhir, tentu saja seorang ayah harus mempunyai communication skill yang baik karena dalam rumah tangga itu banyak sekali masalah yang berhubungan dengan komunikasi. Memang pada dasarnya suami maupun istri punya niat baik dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Namun, niat baik saja tidak cukup karena yang tahu tentang niat itu hanya kita dan Tuhan. Itu sebabnya penting untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikiran kita agar dapat dimengerti orang lain. Untuk menjadi pemimpin, kita tidak harus menjadi pribadi yang sempurna dengan memiliki keempat sifat di atas. Sebab, pemimpin pada dasarnya bisa dikategorikan ke dalam dua, yaitu yang memang dilahirkan dengan bakat kepemimpinan dan mereka yang belajar untuk jadi pemimpin.

”Orang-orang tertentu yang dilahirkan dengan bakat kepemimpinan biasanya mempunyai sifat-sifat seperti kemampuan mengambil keputusan, menarik perhatian orang, atau kemampuan menyampaikan pesan dengan cara yang simpel,” ujar Arvan.

Orang dengan bakat pemimpin dengan mudah dapat melakukan kegiatan kepemimpinan. Walau begitu, kepemimpinan seperti halnya menyanyi, tetap bisa dipelajari. Itu sebabnya ada sekolah-sekolah pelatihan menyanyi karena walaupun tidak punya bakat, menyanyi masih bisa dilatih. Jika latihannya bagus, pada akhirnya seseorang bisa punya kualitas yang sama dengan mereka yang sudah dilahirkan dengan bakat menyanyi. Seperti  halnya dengan leadership yang bisa dilatih, dikembangkan, dibentuk, dan ditingkatkan.
Bagi Arvan kepemimpinan (Leadership) adalah sesuatu yang senantiasa bisa ditingkatkan. Kepemimpinan bukan dalam ranah Intelligent Quotion (IQ) yang tidak akan bertambah begitu kita sudah berusia kira-kira 17 tahun. Saat bicara kepemimpinan, kita akan berbicara tentang Emotional Quotion (EQ) yang bukan merupakan bawaan sejak lahir melainkan bisa dikembangkan. ”Kita bisa selalu meningkatkan kekurangan kita,” tukasnya.

Contohnya, jika kekurangan kita adalah communication skill, maka kita bisa meningkatkannya dengan cara belajar, mengikuti workshop, membaca buku yang memotivasi dan menginspirasi. Kita harus belajar bagaimana cara untuk memengaruhi orang lain. Layaknya memancing ikan, sebelum memancing, kita harus tahu dulu apa yang disukai ikan. Begitupun dengan manusia, kita harus memahami manusia satu per satu karena mereka mempunyai pintu masuk yang berbeda-beda untuk bisa dipengaruhi.

Keinginan untuk selalu mau belajar ini memang sudah kewajiban seorang pemimpin. Saat seseorang menjadi pemimpin, ia harus selalu membuka mata dan telinganya. Allah mendesain mata dan telinga untuk bisa terbuka, tidak seperti lidah yang terhalang bibir dan deretan gigi. Ini karena Allah tahu bahwa lidah adalah sumber bencana, karenanya hanya diciptakan satu, tidak seperti mata dan telinga yang diciptakan dua.

Sebagai seorang pemimpin, kita harus membuka mata dan telinga lebar-lebar untuk mendengar aspirasi dari bawah dan mau belajar dari bawah. Syahdan, selama ini pemimpin merasa harus lebih banyak bicara daripada mendengar agar terkesan punya banyak hal untuk disampaikan. Pemimpin melakukan kesalahan adalah suatu  kewajaran dan sangat manusiawi, tetapi perbuatan yang tidak boleh dilakukannya adalah berbohong. Bahkan Allah dapat memaafkan sebuah kesalahan karena pada dasarnya kesalahan merupakan mekanisme yang diciptakan Allah untuk memberikan pelajaran bagi kita agar lebih baik di kesempatan yang lain. Jadi, jangan khawatir dengan kemampuan kita saat ini, karena keahlian yang berkaitan dengan leadership itu selalu bisa ditingkatkan selama kita mau belajar.

Kita sebagai orang tua juga harus mulai mendidik anak-anak kita untuk menjadi pemimpin yang baik. Cara paling tepat adalah modelling atau menjadi contoh bagi anak-anak kita. Kita harus jadi teladan bagi anak-anak kita. Hanya sedikit yang kita ajarkan dari apa yang kita katakan, justru kebanyakan pelajaran yang kita berikan adalah dari apa yang kita lakukan. Menjadi contoh (role model) ini paling sulit dilakukan, tapi paling efektif hasilnya.

Di masa depan, Indonesia membutuhkan pemimpin yang berani, jujur, dan pintar. Sayangnya, mencari orang dengan tiga karakter ini cukup sulit. Kebanyakan orang yang pintar dan berani, bukanlah orang yang jujur. Sekalipun jujur, ia tidak berani mengambil keputusan. Akan tetapi, tentu saja hal-hal seperti ini bisa dipelajari karena sebenarnya seorang pemimpin tak perlu pintar dalam semua bidang.
Kita bisa menggunakan jasa orang lain yang memang mampu di bidang yang kita perlukan. Lalu, kitajuga perlu menciptakan sistem yang baik agar anak buah bisa bersinergi dan bersama melakukan hal yang benar, bukan malah mengedepankan ego masing-masing seperti yang sekarang ini terjadi. [ ]

Red: Rahmat
Editor: Iman
Editor Bahasa: Agung

Ilustrasi foto:

(Visited 14 times, 1 visits today)

REKOMENDASI