Punya Anak Hiperaktif ? Jangan Khawatir, Begini Penanganannya

Oleh: dr. Eddy Fadlyana, Sp.A(k).*

Banyak orangtua yang mengeluhkan kenakalan anaknya; sulit diatur, tidak bisa diam, selalu jahil pada teman-temannya, atau rumah selalu berantakan seperti kapal pecah karena selalu diacak-acak. Apakah kenakalan tersebut bisa dikategorikan anak menderita hiperaktif? Kalau ya, apakah bisa diobati, dan ke mana harus dibawa? Pada tulisan ini, orangtua akan diajak melakukan observasi terhadap anaknya yang dicurigai mengalami hiperaktif.

promooktober

Hiperaktif atau istilah lengkapnya gangguan pemusatan perhatian-hiperaktivitas, merupakan kelainan neurobihavioral yang sering ditemukan pada anak, yaitu berupa gangguan pemusatan perhatian yang tidak sesuai dengan umur, dengan atau tanpa impulsivitas dan hiperaktivitas. Gejala lain dapat berupa terlalu emosional, terlalu reaktif, gangguan prestasi akademik, rendahnya rasa percaya diri, serta kesulitan interalsi dengan teman-teman sebayanya. Gejala ini biasanya dimulai pada anak terutama pada tahun-tahun pertama sekolah dasar. Kebanyakan gejala ini akan terbawa sampai dewasa. Namun, pada tulisan ini, gejala akan dibatasi pada anak berusia 6-12 tahun.

Di Indonesia memang belum ditemukan angka pasti penderita hiperaktif, namun di Amerika Serikat, berdasarkan hasil penelitian para ahli di sana, terdapat 7-10% anak usia sekolah dasar mengalami hiperaktif, dan lebih banyak terdapat pada laki-laki. Kalau sebuah sekolah dasar memiliki siswa sebanyak 500 orang, diperkirakan terdapat 35-50 anak mengalami hiperaktif.

Cara mendeteksi anak  hiperaktif

Pada umumnya, orangtua merupakan observer yang baik, karena sebagian besar waktunya bersama anak, sehingga diharapkan dapat memberikan nilai secara objektif. Perhatikan 10 pertanyaan di bawah ini, sesuaikan dengan perilaku anak berdasarkan pengamatan sehari-hari. Beri nilai 1 apabila sama sekali tidak/jarang; nilai 2 kadang-kadang; nilai 3 sering; nilai 4 selalu demikian. Jumlahkan nilai yang didapat. Skor dianggap bermakna jika lebih atau sama dengan 22.

  1. Tidak bisa duduk diam (kaki dan tangannya tidak bisa diam atau selalu bergerak).
  2. Menirukan suara seperti guruh dan membuat suara-suara aneh lainnya.
  3. Mudah terangsang dan impulsif (bertindak tanpa berpikir).
  4. Sering tidak dapat memusatkan perhatiannya. Perhatiannya mudah teralih.
  5. Gagal menyelesaikan kegiatan yang telah dimulainya, rentang waktu perhatiannya pendek. Misalnya membuat rumah-rumahan dari balok, memasang puzzle, dll.
  6. Suka bertengkar/cekcok.
  7. Bertindak gegabah.
  8. Ledakan kekesalan tingkah laku dan tak terduga.
  9. Bersifat menentang/menantang.
  10. Tidak kooperatif, tidak mau bekerja sama, enggan membantu.

Apa yang harus dilakukan?

Perlu dipahami bahwa kegiatan seperti di atas merupakan kegiatan penjaringan atau skining, yaitu suatu penilaian secara singkat, mudah dilakukan, dan apabila hasilnya mencurigakan, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Bawalah anak Anda ke Klinik Tumbuh Kembang yang ada di beberapa rumah sakit. Di sini tersedia tim yang beranggotakan multi-disiplin dan melakukan penilaian skining yang lebih cermat, kemudian akan dilakukan penilaian diagnostik untuk memastikan hiperaktif.

Hiperaktif memang memerlukan penanganan multi-disiplin, biasanya yang terlibat adalah dokter anak, psikiatri, psikolog, dan rehabilitasi medis. Secara umum, penangannya berupa medis dengan perkiraan obat-obatan serta terapi perilaku. Dengan semakin majunya dunia kedokteran, khususnya dalam bidang obat-obatan, prognosis telah berubah ke arah yang lebih baik.

Bagaimana kalau tidak diobati?

Menginjak remaja/dewasa, anak yang tidak mendapatkan terapi secara memadai, dapat dikategorikan menjadi beberapa kelompok, pertama masa dewasanya relatif tidak berbeda dengan yang lainnya (30%), kedua masa dewasanya terus menunjukkan masalah serius dalam konsentrasi, impulsivitas, dan interaksi sosial. Hal ini berakibat pada kesulitan di tempat kerja, hubungan interaksi sosial yang buruk, rasa percaya diri yang rendah, impulsivitas, mudah tersinggung, cemas, dan emosi yang labil (50-60%), sedangkan ketiga masa dewasanya tetap menunjukkan masalah psikiatri atau masalah antisosial atau keduanya. Individu pada kelompok ini dapat sangat depresi, atau terlibat dalam penggunaan alkohol dan obat-obatan, juga terlibat aktivitas lainnya, seperti perampokan bersenjata, dll. (10-15%).

Dari uraian di atas, mudah-mudahan kita menyadari betapa pentingnya mengenali tanda-tanda hiperaktif sejak dini, sehingga dapat dilakukan penanganan sejak dini pula. Namun, harus disadari untuk mendapatkan hasil yang optimal memerlukan penanganan berbagai ahli dan memerlukan waktu yang tidak sebentar. Semoga bermanfaat [ ]

*Penulis adalah konsultan tumbuh kembang dan penulis buku.

Editor: Iman dan Desi
Ilustrasi foto: Norman

Bagi Sobat Mapi punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected] Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

(Visited 18 times, 1 visits today)

REKOMENDASI