Meluruskan Dikotomi Hubungan Agama dan Negara (Bagian 1)

 Oleh: Arif Munandar Riswanto*

Agama dan negara merupakan dua momok diskursus kontemporer yang “tidak pernah kunjung usai”. Sebagaimana lazimnya polemik, diskursus tersebut akhirnya menciptakan dua polarisasi kuat dalam sejarah relasi agama dan negara. Pertama, mazhab yang memandang agama dan negara harus dipisahkan (sekularisme). Kedua, mazhab yang memandang agama dan negara harus disatukan (teokrasi). Kedua mazhab—yang sebenarnya merupakan “barang imporan” dari Barat—tersebut dicoba untuk diterapkan ke dalam Islam. Sehingga, uji coba itu akhirnya menimbulkan beberapa “kesyubhatan”. Baik berupa ketakutan kesalahan manusia dalam menerapkan syariat Islam, lahirnya diktatorisme atas nama agama, hilangnya persatuan-kesatuan bangsa karena menerapkan syariat Islam, ketidakjelasan proyek Islam, kekerasan agama, dll.

promooktober

Itulah hal-hal syubhat yang selama ini sering disalahpahami oleh sebagian cendekiawan muslim. Pandangan tersebut tiada lain merupakan imbas dari dualisme sikap dalam memandang relasi agama dan negara. Jadi, bagi mereka, pilihan relasi agama dan negara hanya ada dua saja: negara sekular (dawlah ‘almaniyyah) atau negara teokrasi (dawlah diniyyah). Mereka tidak pernah mencoba untuk memandang bentuk negara ketiga yang moderat—yang berkembang di dalam tradisi Islam. Ini tiada lain merupakan imbas dari pandangan Barat yang sering menghitamputihkan masalah dan membuat dualisme segala sesuatu. Hal yang sama terjadi pada saat sekarang ketika Barat membagi dunia ini menjadi dua blok saja: teoris dan bukan teroris.

Dalam tulisan ini, saya akan mencoba memaparkan sejauh mana pandangan Islam terhadap negara. Ini perlu untuk diluruskan, mengingat telah terjadinya berbagai kesalahpahaman dalam masyarakat kita. Kesalahpahaman tersebut tiada lain bermula dari dua tipikal negara yang pernah dan sedang berkembang di Barat: negara teokrasi dan negara sekular. Padahal, dua tipikal negara tersebut tidak pernah bisa berkembang dalam tradisi Islam.

Islam, Negara, dan Politik

Dalam pandangan Islam, agama dan negara adalah beda tetapi tidak bisa dipisahkan. Beda karena antara agama (teks yang mapan) dan negara (realitas yang profan) tidak bisa disatukan (disinkretiskan). Agama adalah wahyu suci yang bersumber dari Tuhan, sedangkan negara adalah hasil ijtihad manusia.

Sedangkan, agama dan negara tidak bisa dipisahkan, karena antara “yang mapan” (al tsawwâbit) dan “yang profan” (al mutaghayyirât) harus disinergikan, bukan dipisahkan dan dibenturkan. Dalam pandangan Islam, “yang profan” harus sealur dan tidak boleh menyalahi “yang mapan”. “Yang mapan” adalah ajaran universal agama Islam—tidak ada Nabi setelah Muhammad. Sedangkan “yang profan” adalah realitas partikular (ijithad) yang harus ada dalam koridor “yang mapan”. “Yang mapan” diapresiasikan dalam tujuan dan maksud-maksud syariat (maqashid syari`ah) yang abadi. Sedangkan “yang profan” diapresiasikan dalam ijtihad partikular dengan bentuknya yang beragama (qiyas, ijma`, mashlahah mursalah, istishan, sad al dara`i, dll.)

Menyatukan antara agama dan negara adalah sikap sinkretis. Sedangkan memisahkan antara agama dan negara adalah sikap sekularistik. Kedua sikap tersebut merupakan sikap yang berlebihan (ekstrem/ghulluw). Sikap yang selama ini sering ditentang oleh ajaran Islam.

Hai, Ahli Kitab! Jangan kamu melampaui batas dalam aga¬ma¬mu, dan janganlah kamu berkata terhadap Allah kecuali yang benar….(Q.S. An-Nisa 4: 171) dan Katakanlah, “Hai, Ahli Kitab! Ja¬nganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Janganlah kamu mengikuti hawa naf¬su orang-orang yang telah tersesat dahulu dan telah menyesatkan banyak manusia, bahkan mereka sendiri ter¬se¬sat dari jalan yang lurus.” (Q.S. Al-Maidah 5: 77) .

Dalam bahasa M. Imarah (Kairo: 2004), yang pertama adalah ekstrem agama (ghulluw al dini), sedangkan yang kedua ekstrem sekularime (ghulluw al ladini).

Sikap sinkretis dalam memandang relasi agama dan negara akan menciptakan negara teokrasi. Yaitu, negara yang pernah berkembang di Barat untuk akhirnya diberangus oleh gerakan sekularisme. Sedangkan, sikap sekularistik dalam memandang relasi agama dan negara akan menciptakan negara sekularisme. Yaitu, negara yang juga sedang berkembang di Barat dan pernah memberangus agama Kristen.

Pandangan Islam terhadap negara dan politik adalah pandangan “tengah” (wasath). Yaitu, pandangan dalam ruang lingkup “yang mapan” (wahyu/agama) dan “yang profan” (negara/ijtihad). Tidak menyamakan (sinkretis) dan tidak memisahkan (sekularis). Karena dalam panangan Islam, “yang mapan” dan “yang profan” adalah dualisme komplementer.

Negara teokrasi akan menganggap “yang profan” sebagai “yang mapan”. Akibatnya, segala bentuk kebijakan yang lahir dari negara teokrasi adalah kebijakan “yang mapan”, bersumber dari Tuhan, dan tidak bisa dilawan. Sehingga tidak mengherankan, sikap tersebut akhirnya sering menimbulkan kekerasan dengan baju agama. Kekerasan agama itulah yang akhirnya melahirkan resistensi terhadap agama dengan menggunakan kendaraan sekularisme. Melawan dan beroposisi dalam negara teokrasi sama dengan melawan dan beroposisi dengan Tuhan.

Sebaliknya, negara sekular akan menganggap “yang mapan” sebagai “yang profan”. Akibatnya, segala bentuk kehidupan agama mana pun tidak akan bisa hidup di bawah bayang sekularisme. Karena dalam pandangan sekularisme, agama bukanlah ajaran suci dan mapan. Namun, agama adalah ajaran profan. Sehingga, jika diterapkan ke dalam agama, sekularisme bisa mengubahnya menjadi “pemikiran manusia” yang “relatif”, “profan”, “tidak suci”, “tidak mapan”, dan “tidak sakral”. Dengan hal ini, kita bisa melihat bahwa sekularisme bukan hanya memusuhi agama Islam saja, tetapi memusuhi semua agama. Tipikal negara teokrasi dan sekularisme pernah dan sedang diterapkan di Barat. Dan, tidak pernah diterapkan di dalam agama Islam selama tiga belas abad. [bersambung…… ]

* Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana dan kandidat doktor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM)

Editor: Iman
Ilustrasi foto: Norman

Sobat Mapi punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected] Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

(Visited 18 times, 1 visits today)

REKOMENDASI