Menikah Itu Bisa Haram, Makruh, Sunnah atau Wajib. Apa Maksudnya?

menikah

PakUstadz,  ada yang mengatakan bahwa hukum menikah itu bisa wajib, sunah, makruh, bahkan haram. Apa maksudnya?

 

Memang hukum menikah itu unik karena sangat bergantung pada situasi.

iklan donasi pustaka2

1. Wajib

Menikah hukumnya wajib bagi yang sudah mampu, nafsunya telah mendesak dan takut terjerumus pada perzinaan, serta sudah punya calon untuk dinikahi. Ia wajib untuk menikah, karena menjauhkan diri dari hal yang haram adalah wajib. Sabda Nabi Saw.,

Hai para pemuda! Bila di antara kamu ada yang sudah mampu nikah, hendaklah ia nikah, karena matanya akan lebih terjaga dan kemaluannya akan lebih terpelihara. Dan bila ia belum mampu nikah, hendaklah ia shaum, karena shaumnya sebagai perisai.” ( H.R. Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa mempunyai kesanggupan untuk beristri, tetapi ia tidak mau beristri, maka bukanlah dia termasuk golonganku.” ( H.R. Thabrani)

2. Sunah

Adapun bagi orang-orang yang nafsunya telah mendesak dan mampu menikah tetapi masih dapat menahan dirinya dari berbuat zina, hukum menikah baginya adalah sunah. Nikah baginya lebih utama. Baihaqi meriwayatkan hadis dari Abu Umamah bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, “Nikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian dibandingakan umat-umat lain. Dan janganlah kalian seperti pendeta-pendeta Nasrani.”

3. Haram

Bagi seseorang yang yakin tidak akan mampu memenuhi nafkah lahir dan batin pasangannya, atau kalau menikah akan membahayakan pasangannya, dan nafsunya pun masih bisa dikendalikan, hukumnya haram untuk menikah.

Qurthubi berkata, “Bila seorang laki-laki sadar tidak mampu membelanjai istrinya atau tidak mampu membayar maharnya, atau memenuhi hak-hak istrinya, maka ia haram menikah, sebelum ia dengan terus terang menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Begitu pula kalau ia karena sesuatu hal menjadi lemah, tak mampu menggauli istrinya, maka wajiblah ia menerangkan dengan terus terang agar calon istrinya tidak tertipu olehnya.

Demikian pula sebaliknya, bagi perempuan, bila ia sadar dirinya tidak mampu memenuhi hak suaminya, atau ada hal-hal yang menyebabkan dia tidak melayani kebutuhan batin suaminya karena frigid, sakit jiwa, atau penyakit lainnya, ia wajib menerangkan semua itu kepada calon suaminya, ibarat seorang pedagang yang wajib menerangkan barang-barang bilamana ada cacatnya.

Bilamana seseorang mengetahui aib pasangannya, ia berhak untuk membatalkan pernikahan. Jika yang aib itu perempuannya, suaminya boleh mem batal kannya dan dapat mengambil kembali mahar yang telah diberikannya, dan bila yang aib itu laki-lakinya, istrinya boleh membatalkannya dengan cara mengembalikan mahar yang sudah diterimanya.

4. Makruh

Bagi seseorang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan lahir dan batin istrinya, namun istrinya mau menerima kenyataan tersebut, hukumnya adalah makruh.

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 973 times, 1 visits today)

REKOMENDASI