5 Sikap Muslim Dalam Menghadapi Perkembangan Zaman

 

Oleh: Tate Qomarudin,Lc*

Rasulullah saw. bersabda,

promooktober1

لِكُلِّ نَبِيٍّ أَصْحَابٌ وَحَوَارِيُّوْنَ يَهْتَدُوْنَ بِهَدْيِهِ وَيَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِهِ فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ وَيَفْعَلُوْنَ مَا لاَ يُؤْمَرُوْنَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ إِيْمَانٍ مِنْ خَرْدَلٍ (رواه مسلم)

Setiap Nabi mempunyai sahabat dan hawari yang selalu berpegang teguh dengan petunjuknya dan mengikuti sunahnya. Lalu muncullah generasi penganti (yang buruk) yang (hanya) mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Maka siapa yang berjuang (untuk meluruskan) mereka dengan tangannya maka dia adalah mukmin. Dan barangsiapa yang berjuang dengan lidahnya maka ia adalah mukmin. Dan barangsiapa berjuang dengan hatinya maka ia adalah mukmin. Dan tidak ada di belakang itu keimanan sedikit pun.” (H.R. Muslim)

Ini merupakana sinyalemen Rasulullah saw. tentang apa yang akan menimpa umat Islam sepeninggal beliau. Dari hadis di atas kita dapat mengambil beberapa pelajaran, antara lain: pertama, bagi setiap penyeru kepada kebenaran pasti ada saja orang-orang yang mendukung dan membelanya. Namun demikian, pelajaran kedua, akan selalu terjadi perubahan (taghyir) pada kaum muslimin dalam hal kualitas keislaman dan keimanan. Ketiga, perubahan itu bisa menuju ke arah yang lebih baik atau buruk. Keempat, seorang mukmin harus berjuang untuk mengelola perubahan agar selalu mengarah ke arah kebaikan dan perbaikan.

Dakwah adalah proyek mewujudkan perubahan itu. Pimpinan proyeknya adalah Rasulullah saw. Ordernya dari Allah swt. Makanya ketika Rasulullah saw. di-mi’roj-kan ke Sidratul-Muntaha, beliau tidak minta tetap tinggal di sana. Padahal beliau bisa menikmati ibadah, bertemu dengan para nabi yang diutus sebelum beliau, dan bahkan menjadi imam mereka. Beliau tetap turun lagi dan menjadi penghuni bumi yang sarat dengan berbagai tantangan dan persoalan. Justru karena beliau memang mendapat tugas untuk membuat perubahan yang telah dilakukannya dengan sukses. Hal ini dijelaskan dalam ayat-Nya,

Sungguh Allah telah benar-benar memberi karunia kepada orang-orang mukmin karena Dia telah mengutus pada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Quran) dan hikmah (Sunah), meskipun mereka sebelum itu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Ali ‘Imran 3: 164)

Ayat itu menjelaskan bahwa Rasulullah saw. telah menjalankan proyek perubahan dan telah sukses dalam perjuangan melakukan perubahan itu. Proyek ini dimulai dengan pembangunan fondasi berupa individu-individu muslim. Di atas fondasi itu dibangun keluarga-keluarga Islam. Dari keluarga-keluarga islami terbentuklah masyarakat islami. Dan itu semua merupakan bekal untuk dakwah melakukan perbaikan terhadap pemerintahan agar menjadi pemerintahan yang islami. Tidak hanya sampai di situ saja. Dakwah juga terus bergerak untuk mengembalikan khilafah islamiyyah yang telah dihancurkan oleh orang-orang kafir dengan dukungan antek-anteknya. Dan dengan begitulah umat Islam akan menjadi guru peradaban bagi seluruh umat manusia atau yang sering diistilahkan dengan ustadziyyatul-‘alam.

Atas dasar itu maka tidak boleh umat Islam tinggal diam dengan tidak memberikan pengaruh pada perubahan yang terjadi. Perubahan adalah sunatullah. Perubahan akan terus bergulir. Jika tidak menuju yang baik pasti menuju keburukan. Jika bukan orang baik-baik yang mempengaruhi maka pasti orang-orang buruk yang melakukannya. Dan tanpa kesertaan orang-orang yang baik maka akan muluslah perusakan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk berkontribusi dan mengelola perubahan agar mengarah kepada perbaikan dalam segala sektor, di antaranya:

Pertama, mempersembahkan waktu, tenaga, harta untuk kemaslahatan Islam, umat Islam, dan umat manusia pada umumnya. Allah swt. Berfirman,

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. At-Taubah 9:120)

Ayat di atas memberikan informasi bahwa Allah tidak suka kepada orang yang berdiam diri dan tidak terlibat dalam perjuangan. Allah menyebutya bahwa perbuatan itu tidak layak. Dan sebaliknya, kepada orang yang terlibat dalam perjuangan di jalan Allah untuk menyebarkan kebaikan dan hidayah Allah swt. dengan apa pun yang dimilikinya, Allah menjanjikan segala yang dilakukannya akan bernilai amal saleh. Tidak ada yang sia-sia dari orang yang berjuang di jalan Allah, sekecil apa pun perjuangannya.

Kedua, menghadirkan emosi dan semangat yang kuat untuk kejayaan Islam dan umatnya dan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat seluas-luasnya. Berbahagia saat Islam mendapatkan kemenangan dan merasa sedih bila Islam mendapatkan tekanan dan umat Islam mendapat ujian. Ia tidak rela bila Islam dihinakan dan bila kaum muslimin diinjak-injak. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka.”

Perubahan hanya terjadi atas perkenan Allah swt. Dan manusia hanya bisa merencanakan dan memperjuangkan. Namun sebelum itu, semua manusia harus memiliki semangat dan optimisme bahwa perubahan bisa terjadi. Jika dari awal kita sudah pesimis dan mengatakan bahwa keadaan tidak mungkin berubah, berarti kita sudah kalah sebelum bertarung. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan, “Aku (Allah) tergantung prasangka hamba-Ku terhadap-Ku.”

Ketiga, hanya emosi dan semangat tidak cukup. Banyak orang yang punya semangat menggebu-gebu untuk melakukan perubahan, tetapi yang keluar dari dirinya hanyalah umpatan, cacian, dan makian terhadap keadaan. Emosi dan semangat yang produktif adalah yang membawa seseorang untuk berpikir keras dan bekerja cerdas dalam rangka mencari jalan keluar dari segala problem yang merundung umat dan bangsa. Ia rela menjadikan dirinya sebagai bagian dari solusi dan bukannya menjadi masalah. Bahkan ia pun rela bila cara itu membuatnya menjadi “korban”.

Keempat, memerintah kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; menyeru manusia kepada jalan Islam dan jalan dakwah dengan cara hikmah dan nasihat yang baik. Itulah sifat yang melekat pada orang beriman dan tidak mungkin terpisahkan. “Dan orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagaian lain, mereka memerintah kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (Q.S. At-Taubah 9: 71)

Dalam kondisi apa pun, amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak boleh diabaikan. Kehadiran kita di parlemen dan juga di eksekutif harusnya tidak lepas dari perjuangan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Tidaklah sebuah kaum meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar melainkan pasti mereka menjadi kaum yang hina. Firman Allah,

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Q.S. Al Maidah 5: 78-79)

Kelima, mengatakan yang benar di depan penguasa zalim. Agar mereka tidak secara semena-mena menjalankan kekuasaan hanya menurut hawa nafsunya. Agar penguasa memimpin dengan penuh keadilan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Rasulullah bersabda,

أَفْضَلُ اْلجِهَادِ قَوْلُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جِائِرٍ (رواه البخاري)

Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (H.R. Bukhari)

Dalam hadis lain beliau bersabda, “Pemimpin para syuhada adalah Hamzah ibn Abdil-Muthalib dan orang yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim seraya memerintahnya (kepada yang ma’ruf) dan mencegahnya (dari yang mungkar) lalu ia (penguasa zalim itu) membunuhnya.” (Majma’uz-Zawaid 9: 271)

Jika orang mengatakan, “Tiada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri,” maka kita berkewajiban mengelola perubahan yang terus menerus itu ke arah perbaikan-perbaikan. Jika bukan kita yang mengelolanya maka akan ada pihak lain yang mengelolanya menuju keburukan dan kehancuran. Wallahu a’lam. [ ]

 

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku.

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

 

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

 

 

 

 

(Visited 10 times, 1 visits today)

REKOMENDASI