Mendahulukan Diri Sendiri Itu Egois? Belum Tentu, Ini Buktinya

Oleh: Tate Qomaruddin,Lc*

Salah satu tugas atau kewajiban seorang muslim itu mendakwahkan Islam kepada orang lain. Artinya, tugas dakwah bukan hanya dilakukan oleh ulama saja akan tetapi setiap muslim adalah dai dan daiyah sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya. Hal ini sesuai dengan seruan Allah dalam Al Qur’an:

promooktober1

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS.An-Nahl: 125

Namun demikian, sebelum mengajak atau menyeru orang lain hendaklah diri sendiri terlebih dahulu yang diajak untuk berbuat baik  atau menjadi orang saleh, sebelum kepada orang lain. Contoh seperti ini dapat kita lihat pada sosok para Nabi dan Rasul serta generasi Islam terbaik. Sebelum lebih jauh mengajak orang lain berbuat baik maka ia harus terlebih dulu baik. Berikutnya adalah dakwah atau mengajak kepada keluarga (istri/suami dan anak-anak). Seperti yang diperintahkan oleh Allah Swt:

Hai, orang-orang beriman! Jauhkan diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. At-Tahrim: 6)

Dari  penjelasan ayat tersebut bisa kita pahami bahwa setiap orang yang beriman harus menyelematkan diri terlebih dahulu kemudian mengajak keluarganya. Hal ini bukan berarti ia seorang yang egois atau nepotisme karena  ini adalah masalah akidah dan perintah Allah Swt.Dakwah seperti ini juga dilakukan oleh para Nabi dan Rasul seperti Nabi Nuh yang mengajak anak dan istrinya, Nabi Ibrahim kepada ayahnya bahkan Rasulullah Saw yang terus menerus mendakwahi pamannya. Setelah itu baru berdakwah kepada orang lain atau masyarakat.

Ketika  orang lain telah menerima dan turut membantu dakwah maka mereka pun telah menjadi saudara seiman dan seakidah. Kecintaan dan kasih sayang kita kepada saudara muslim harus melebihi kepada saudara kandung sendiri sekiranya mereka tidak menerima dakwah yang kita sampaikan. Kisah kecintaan dan kasih sayang kepada saudara muslim bisa kita simak pada hadis yang disampaikan Rasulullah Saw:

Seorang lelaki datang menghadap Rasulullah saw. guna mengadukan perihal kemelaratan yang dideritanya, lalu ia pulang. Maka Rasulullah saw. mengatakan kepadanya, ‘Pergilah hingga kamu mendapatkan sesuatu (untuk dijual).’ Orang itu lalu pergi dan pulang lagi (menghadap Rasulullah saw.) dengan membawa sehelai kain dan sebuah cangkir. Orang itu lalu mengatakan, ‘Ya Rasulullah, sebagian kain ini biasa digunakan keluarga saya sebagai alas dan sebagiannya lagi sebagai penutup tubuh. Sedangkan cangkir ini biasa mereka gunakan sebagai tempat minum.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Siapa yang mau membeli keduanya dengan harga satu dirham?’ Seorang laki-laki menjawab, ‘Saya, wahai Rasulullah.’ Rasulullah saw. berkata lagi, ‘Siapa yang mau membeli keduanya dengan harga lebih dari satu dirham.’ Seorang laki-laki mengatakan, ‘Aku akan membelinya dengan harga dua dirham.’ Rasulullah saw. berujar, ‘Kalau begitu kedua barang itu untuk kamu.’ Lalu Rasulullah saw. memanggil orang (yang menjual barang) itu seraya mengatakan, ‘Belilah kapak dengan satu dirham dan makanan untuk keluargamu dengan satu dirham. Orang itu kemudian melaksakan perintah itu lalu datang lagi kepada Rasulullah saw. Maka Rasulullah saw. memerintahkan kepadanya, ‘Pergilah ke lembah itu dan janganlah kamu meninggalkan ranting atau duri atau kayu bakar. Dan janganlah kamu menemuiku selama lima belas hari.’ Maka orang itu pun pergi dan mendapatkan uang sepuluh dirham. Rasulullah saw. mengatakan, ‘Pergi dan belilah makanan untuk keluargamu dengan uang lima dirham.’ Orang itu mengatakan, ‘Ya Rasulullah, Allah telah memberikan barokah dalam apa yang kau perintahkan kepadaku.’” (H.R. Baihaqi)

Hadis di atas melukiskan betapa setiap orang berupaya untuk merasakan nasib saudaranya. Bukan itu saja. Mereka berupaya mencarikan solusi. Solusinya pun bukanlah solusi yang mematikan keberdayaan melainkan justru solusi yang juga sekaligus memberdayakan. Dan lebih menarik lagi, Rasulullah saw. sebagai pimpinan tertinggi, terlibat langsung dalam upaya perwujudan nilai-nilai kebersamaan dan kepaduan itu sekaligus merumuskan dan mengeksekusi jalan keluarnya. Tentu saja kondisi umat Islam yang seperti itu bukan muncul dengan sendirinya. Masyarakat ideal dengan soliditas tinggi yang ada di zaman Rasulullah saw. adalah hasil tempaan beliau dengan tarbiyah robbaniyyah (pendidikan ala Allah swt.) dan dalam waktu yang bukan sebentar.

Dengan kualitas seperti itu, kita dapat melakukan banyak hal dan mencapai banyak kesuksesan. Konspirasi yang selalu digalang oleh orang-orang kafir juga tidak akan menemukan efektivitasnya manakala umat Islam dalam kondisi solid bagaikan satu tubuh. Allah swt. berfirman,

Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian bercerai-berai sebab kalian akan gagal dan hilang kekuatan kalian, dan bersabarlah kalian karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Q.S. Al Anfal 8: 46)

Rasulullah saw. telah melakukan hal terbaik untuk mewujudkan segala kebaikan pada umat ini. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan apa yang sudah dilakukan dan digariskan Rasulullah saw. khususnya dalam hal mewujudkan kepaduan tubuh umat Islam? Sekadar urun rembuk dari penulis, langkah-langkah berikut tampaknya perlu menjadi komitmen kita bersama, terutama kalangan du’at (para juru dakwah):

Pertama, menegaskan kembali pemahaman dan keyakinan kita bahwa Islam bukan agama individual. Ajaran Islam menghendaki setiap orang menjadi orang yang beriman, bertakwa, dan saleh. Namun itu saja tidak cukup, harus ada kesalehan kolektif. Salah satu indikator kesalehan kolektif adalah adanya perhatian dan kepedulian terhadap nasib sesama muslim. Rasulullah saw.  bersabda,

مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ (الطبراني)

Barangsiapa tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka.” (H.R. Ath-Thabrani)

Kebersamaan dalam iman dan ketakwaan ini juga berperan besar dalam menumbuhkan ketahanan dan kesabaran, sesuatu yang amat dibutuhkan dalam kancah pertarungan. Allah swt. berfirman,

Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan petang hari dengan mengharapkan rido-Nya.” (Q.S. Al Kahfi 18: 28).

Kedua, karenanya setiap kita harus terus memotivasi diri untuk mensalehkan diri sendiri dan berusaha mensalehkan orang lain. Dia harus terbiasa melakukan amrun bil-ma’ruf wa nahyun ‘anil-munkar (memerintah kepada yang baik dan mencegah dari yang buruk). Dan sikap itu merupakan karakter dasar mukmin sejati. Allah swt. menggambarkan hal itu,

Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang baik dan mencegah dari yang buruk, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah 9: 71)

Tanggung jawab paling minimal seorang mukmin dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah terhadap keluarga. Oleh karena itu, seorang mukmin harus memiliki perencanaan sejak pernikahan, dari mulai memilih calon pendamping hidup. Tentang kewajiban ini Allah berfirman,

Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan bebatuan; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim 66: 6)

Ketiga, mengarahkan loyalitas dan pembelaan hanya kepada Allah, Rasulullah saw., dan kepada sesama mukmin, bukan kepada figur. Lebih-lebih bila figur itu adalah sosok yang menawarkan penyimpangan dari aqidah Islam. Adalah bencana besar bila dakwah melahirkan loyalitas (wala) kepada figur tertentu, diri sang da’i, misalnya. Sebab loyalitas kepada figur merupakan celah yang menganga lebar bagi munculnya sikap kultus. Bangsa Indonesia telah dibuat sengsara oleh perilaku kultus itu. Karena kultus mengarahkan pada sikap, “Tidak ada kebenaran selain yang datang dari figur tersebut”.

Kesetiaan utama seorang muslim adalah kepada Allah, Rasulullah saw., dan kaum mukminin. Allah dan Rasul-Nyalah yang dijadikan sebagai sumber kebenaran. Dan Allah dan Rasul-Nya pula yang menjadi muara kesetiaan dan kecintaan. Oleh karena itu, loyalitas dan kesetiaan mukmin hanya akan diberikan kepada sesama mukmin selama ia taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Firman-Nya,

Wali (pemimpin, kekasih, penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (Q.S. Al Maidah 5: 55)

Tanpa loyalitas yang benar, seperti disebutkan dalam ayat di atas, orang bisa tersinggung dan marah karena tokoh idolanya dikoreksi, dikritik, atau diprotes. Tapi tidak terusik kalbu dan perasannya manakala Islam dihujat, hukum Islam diinjak-injak, Rasulullah saw. dihina, dan umat Islam dibantai.

Keempat, untuk menunjang upaya di atas, kita –terutama para da’i— hendaknya mampu menonjolkan persamaan-persamaan, bukan sebaliknya: mengekspos perbedaan-perbedaan. Disadari bahwa ada banyak perbedaan di kalangan umat Islam. Namun bukanlah sikap bijak untuk menggelembungkan perbedaan-perbedaan itu melebihi porsinya.

Tentu berbeda halnya jika perbedaan itu menyangkut masalah yang asasi, seperti masalah aqidah atau masalah-masalah yang telah menjadi ijma’ ulama. Contoh untuk yang terakhir adalah perbedaan dalam menyikapi komunisme, zionisme, atau pemurtadan. Ini masalah prinsipil, baik dari segi aqidah maupun dari tinjauan historis. Al Quran telah dengan tegas memberikan informasi kepada kita bahwa Yahudi adalah musuh yang selalu membuat makar dan memendam kedengkian dan kebencian kepada kaum muslimin. Dalam hal-hal yang dianggap perbedaan “tidak prinsipil”, tentu bukan pula berarti pintu telah tertutup bagi pembahasan dan kajian. Dengan syarat, hal itu dilakukan secara ilmiah dan hati dingin. Bukan mencari kemenangan dan mengumbar kebencian serta permusuhan.

Kelima, para da’i dituntut mampu atau paling tidak berusaha menggali, menumbuhkan, memelihara, mengarahkan, lalu merekat dan merakit potensi umat itu. Umat sesungguhnya memiliki banyak potensi. Permasalahan yang menghadang adalah pemberdayaan potensi tersebut. Dan gerakan dakwah sesungguhnya adalah yang paling bertanggung jawab untuk tugas itu.

Memang, membangun kembali kaum mukminin agar menjadi seperti satu tubuh bukanlah hal enteng, tapi juga bukan hal mustahil. Kalaupun masing-masing kita belum mampu menyelesaikan masalah, paling tidak janganlah menjadi pembuat atau penambah masalah. Wallahu a’lam. [ ]

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku

 Editor: Iman

Ilustrasi foto:

 

(Visited 17 times, 1 visits today)

REKOMENDASI