Jangan Sepelekan Tiga Pemicu Perselingkuhan Ini

cerai-1

RASA saling percaya antar suami istri adalah satu pilar dalam membangun rumah tangga yang harmonis. Saling percaya harus pula didasari dengan positif thinking. Namun terkadang dalam perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga ada saja ombak yang menghantam. Untuk itu ada baiknya kita juga waspada pada variable-variabel yang dapat merusak keutuhan rumah tangga. Beberapa bibit permasalahan rumah tangga yang pada terkikisnya rasa saling percaya antar pasangan suami istri. Bukan tidak mungkin, bibit-bibit persoalan rumah tangga berikut ini berujung pada perselingkuhan yang secara prinsip dapat mengoyak kepercayaan yang seharusnya terbina secara kokoh. Karenanya, kita harus mewaspadai bibit-bibit persoalan berikut ini.

1. Curhat kepada lawan jenis.
Ada kalanya persoalan rumah tangga bukan dibicarakan dengan tapi malah dikeluhkan pada orang lain (teman,tetangga). Celakanya keluhan justru tumpahkan kepada lawan jenis. Curhat kecil-kecilan kepada lawan jenis adalah sama halnya dengan membuka sedikit demi sedikit pintu perselingkuhan. Terlebih ketika hal yang dicurhatkan adalah mengenai permasalahan rumah tangga. Bahan curhat tidak harus permasalahan besar seperti hubungan pasutri ataupun ekonomi keluarga. Bahan curhat bisa jadi seputar kegemaran istri pada salah satu acara televisi tertentu yang kadang sedikit menggangu, prestasi akademik anak-anak yang menuruh akhir-akhir ini, atau berbagi tips memelihara hewan kesayangan.

iklan donasi pustaka2

Ketika curhat kecil-kecilan ini dilakukan kepada sesama jenis, kenyamanan obrolan yang tercipta kemudian tidak akan keluar dari kontes. Akan tetapi, ketika kita curhat kepada lawan jenis dan menemukan kenyamanan di sana, maka bukan tidak mungkin kenyamanan membicarakan hal-hal kecil tersebut akan menjurus pada obrolan lain yang lebih personal. Apalagi curhatan tersebut berlangsung di dunia maya yang seolah tidak ada yang tahu sehingga lebih terbuka.

2. Membandingkan suami/istri dengan orang lain.
Pada awalnya mungkin kita hanya mengeluh mengenai metode serta cara istri mendidik anak. Ketika hal tersebut dibahas dan diperluas, bukan tidak mungkin perbincangan mengarah pada menjelek-jelekan sang istri. Di sinilah kemudian teman curhat (yang walaupun hanya mengiyakan dan menambahkan ucapan kita) terlihat seperti lebih pintar daripada istri di rumah. Bermula dari kekaguman bisa berlanjut pada ketertarikan yang kalau dipupuk terus menerus akan tumbuh menjadi benih-benih cinta.

Sebelum hal ini terjadi, segera alihkan perhatian kita pada hal lain agar kita tidak terus menerus menelisik kekurangan istri dan membesar-besarkan kelebihan teman curha wanita kita. Alangkah lebih baiknya kalau pada saat seperti ini kita mengingat-ingat kelebihan istri yang telah kita kenal lama dan mulai meragukan kelebihan teman curhat wanita kita yang baru kita kenal dekat akhir-akir ini.

3. Kontak fisik dengan lawan jenis.
Hal yang satu ini harus senantiasa dihindari, tidak peduli sedekat apa pun pertemanan kita dengan lawan jenis. Kita tidak akan pernah tahu chemistry yang akan terbentuk dari kedekatan dan sentuhan fisik kita dengan lawan jenis. Bagi sebagian orang, mungkin sentuhan fisik seperti jabatan tangan, sentuhan di pundak, atau elusan di kepala bukan merupakan satu hal yang perlu diributkan, terlebih dikategorikan sebagai bibit perselingkuhan. Namun demikian, dapatkan kita menjamin bahwa konta fisik tersebut tidak akan bermuatan rasa suka atau semacamnya? Ketika kedua belah pihak sedang merasakan kekosongan dan dari kontak fisik yang terjadi masing-masing merasakan getaran yang dapat mengisi ruang kosong tersebut, dapatkah kita juga menjamin bahwa hal tersebut tidak akan berujung pada perselingkuhan?Itulah salah satu hikmahnya mengapa Islam sangat menekankan untuk menjaga/menundukkan pandangan atau bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrim kita.

Menanggulagi ketiga hal tersebut, kita dapat harus, pertama, selalu ingat keluarga. Inilah gunanya menaruh foto keluarga di meja kerja kita. Lebih dari sekadar pemanis ruang kerja, foto keluarga yang diambil saat terakhir liburan di pantai atau pegunungan akan membuat kita senantiasa teringat bahwa kita adalah seorang suami/istri sekaligus ayah/ibu dari anak-anak yang kita cintai dan mencintai kita. Dan setiap kali kita memandangi foto tersebut, kita akan selalu diingatkan mengenai kebahagiaan yang menanti kita di rumah.

Mengingat keluarga, secara psikologis juga akan meningkatkan rasa dibutuhkan oleh anggota keluarga. Betapa kita sebagai seorang suami sangat dibutuhkan oleh istri untuk membimbingnya kepada kebaikan. Betapa sebagai seorang ayah kita dibutuhkan oleh anak-anak kita untuk menjadi teladan mereka. Betapa sebagai seorang istri kita dibutuhkan oleh suami untuk mengurus semua keperluan rumah tangga. Dan betapa sebagai seorang ibu kita dibutuhkan oleh anak-anak kita untuk memberikan berbagai pelajaran tentang kehidupan.

Kedua, Self-Upgrade. Di luar sana, di dunia kerja ataupun pergaulannya, suami atau istri kita mendapatkan peningkatan intelektual serta penambahan wawasan setiap hari. Kalau kita tidak meng-up-grade intelektualitas serta wawasan, bukan tidak mungkin pola pikir kita tertinggal jauh sehingga suatu saat ketika berdiskusi dengan suami/istri yang pola pikirnya telah jauh berkembang akan terjadi mis-komunikasi. Kalau hal ini dibiarkan berlanjut, jangan salahkan suami/istri kita ketika dia tidak lagi mau berdiskusi (tentang berbagai hal) dengan kita dan mencari partner diskusi yang lain. Nah, di sinilah kemudian peluang perselingkuhan muncul ketika partner diskusinya adalah lawan jenis dan dirasa memiliki wawasan serta pengetahuan yang dapat mengimbangi pola pikirnya.

Ketiga, ketahui kelebihan diri. Memang, tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang terlahir sempurna, baik secara fisik, mental, ataupun intelektual. Sekuat apapun usaha kita untuk meningkatkan kualitas diri, tentu masih akan didapati kekurangan. Agar kekurangan kita tidak dijadikan peluang pasangan untuk berselingkuh, kita harus meng-cover kekurangan tersebut dengan menunjukkan kelebihan yang kita miliki.

Dan keempat, tingkatkan intensitas serta kualitas komunikasi. Komunikasi adalah salah satu elemen terpenting dalam hubungan antar-personal, terlebih lagi antara dua orang yang terikat dalam pernikahan. Ketidaksepahaman dan kesalahpahaman kecil yang disimpan terus menerus tanpa dikomunikasikan dengan baik, suatu saat akan mengganjal keharmonisan hubungan suami istri. Di sinilah dibutuhkan kedewasaan serta kelapangan dada masing-masing pihak untuk siap berkomunikasi, bahkan mengenai hal-hal yang tidak disukai yang akan menjadi peluang menganggu hubungan suami istri apabila tidak segera dibereskan. [Muslik & Fatih]

(Visited 24 times, 1 visits today)

REKOMENDASI