Wahai Orangtua, Lakukan 6 Ucapan Ini dalam Mendidik Buah Hati

 

Oleh: Dr.H.Aam Amiruddin, M.Si.

Setiap orangtua pasti menginginkan keturunannya atau anak-anaknya menjadi generasi yang saleh dan salehah. Namun, perlu diketahui dan sadari bahwa generasi saleh salehah tersebut bukan otomatis lahir dari orangtua yang lebih dulu saleh salehah melainkan melalui sebuah perjuangan panjang dalam proses kepengasuhannya (mendidik). Selain melalui keteladanan, pendidikan anak sebagian besar dilakukan melalui arahan (ucapan) orangtuanya. Untuk itu dalam berucap atau bertutur kepada putra putrinya ini, orangtua harus menghindari kata-kata negatif serta mengucapakan kata-kata yang positif saja. Dalam Islam hal ini telah diterangkan bagaimana kata-kata (qaulan) postif tersebut:

iklan donasi pustaka2

1. Qaulan Karima

Qaulan Karima adalah perkataan yang baik (mulia), dibarengi dengan rasa cinta dan mengagungkan sehingga enak didengar. Orangtua dilarang membentak atau mengucapkan kata-kata yang sekiranya dapat menyakiti hati anak. Anak masih mempunyai memori yang bersih sehingga jika ada kata yang negatif akan tersimpan cukup lama.

Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain-Nya dan hen­daklah kamu berbuat baik kepa­da ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam perawatanmu, ma­­ka jangan kamu katakan “ah” kepa­da­nya dan jangan membentaknya. Ucapkanlah perkataan yang baik (qaulan karima) kepa­da keduanya. ” (Q.S. Al-Isra: 23).

Meski dalam ayat tersebut membahas komunikasi anak dengan orangtua namun dalam proses pendidikan perkataan yang baik juga wajib dilakukan saat berbicara dengan anak-anaknya. Qaulan Karima harus digunakan khususnya saat berkomunikasi dengan anak-anak meski mereka masih kecil.

2. Qaulan Baligha

Kata baligh berarti sampai, tepat, lugas, fasih, dan jelas maknanya. Qaulan Baligha artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah, dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele. Agar komunikasi tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan kadar intelektualitas dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh anak-anak.

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya agar ia dapat memberi penjelasan kepada mereka.”(Q.S.Ibrahim: 4)

“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim).

Dari pemaparan Al-Qur’an dan Hadis  di atas, maka gaya bicara dan pilihan kata dalam berkomunikasi orangtua dengan anak tentu harus dibedakan dengan saat berkomunikasi dengan orang dewasa. Demikian juga setiap anak mempunyai daya serap dari perkataan orangtuanya, ada yang langsung paham dan mengerti, namun ada yang perlu pengulangan.

3. Qaulan Maysura

Dalam kamus bahasa Arab (Al-Munawir), secara etimologis, kata maysuran berasal dari kata yasara yang artinya mudah atau gampang. Ketika kata maysuran digabungkan dengan kata qaulan menjadi qaulan maysuran yang artinya berkata dengan lemah lembut dan mudah atau gampang dimengerti. Berkata dengan mudah maksudnya adalah kata-kata yang digunakan orangtua kepada anak-anak harus mudah dicerna, dimengerti, dan dipahami sehingga tidak menimbulkan persepsi lain. Kata qaulan maysuran disebutkan dalam Al-Qur’an,

Jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, katakanlah ucapan lemah lembut  (qaulan maysura) kepada mereka”. (Q.S. Al-Israa’: 28)

Meski dalam keadaan marah,orangtua jangan menunjukan kemarahannya dengan kata-kata kasar, melainkan tetap dengan perkataan lemah lembut sehingga anak-anak mau mendekat untuk menerima nasihat.

4. Qaulan Layina

Qaulan Layina ini maknanya hampir sama dengan Qaulan Maysura yakni pembicaraan yang lemah-lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan sehingga dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layina ialah kata kata sindiran, bukan dengan kata-kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.

berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut (qaulan layina). Mudah-mudahan ia sadar atau takut.” (Q.S. Thaha: 44).

Meski dalam ayat di atas adalah perintah Allah Swt. kepada Nabi Musa as dan Nabi Harun as agar berbicara lemah-lembut, tidak kasar, kepada Fir’aun, namun dalam praktik parenting bijak dilakukan dalam berbicara dengan buah hatinya. Anak yang diajak berkomunikasi orangtuanya dengan lemah lembut akan merasa tersentuh dan jiwanya tergerak untuk menerima pesan komunikasi kita yang disampaikan.

Nabi Muhammad Saw. mencontohkan kepada kita bahwa beliau selalu berkata lemah lembut kepada siapa pun, baik kepada keluarganya, kepada kaum muslimin yang telah mengikuti Nabi, maupun kepada manusia yang belum beriman.

5. Qaulan Sadida

Qaulan Sadida bisa dimaknai dengan perkataa yang benar dan jelas bukan disamarkan. Seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an:

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan yaitu perkataan yang benar (qaulan sadida)” (Q.S. An-Nisa 4:9)

Orangtua dalam berbicara dengan anak-anaknya harus dengan pembicaraan, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa).

6. Qaulan Ma’rufa

Secara harfiah Qaulan Ma’rufa artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan. Qaulan Ma’rufa juga bermakna pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat). Kata ma`ruf sendiri dalam Al-Qur’an terbilang sebanyak lima kali seperti dalam surah Al-Baqarah ayat 235 dan ayat 263, surat An-Nisa ayat 5 dan ayat 8, surat Muhammad ayat 21.

Namun, janganlah kamu membuat perjanjian untuk menikahi mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan kata-kata yang baik (qaulan ma’rufa). (Q.S. Al Baqarah: 235) . “(Qaulan ma’rufa) Perkataan yang baik dan pem¬berian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun”.(Q.S. Al Baqarah: 263).

Dalam ayat-ayat tersebut makna qaulan ma’rufa mengandung beberapa situasi atau kejadian. Pertama, berkenaan dengan pemeliharaan harta anak yatim (Q.S. An Nisa). Kedua, berkenaan dengan perkataan terhadap anak yatim dan orang miskin. Ketiga, berkenaan dengan harta yang diinfakkan atau disedekahkan kepada orang lain. Keempat, berkenaan dengan ketentuan-ketentuan Allah terhadap istri Nabi. Kelima, berkenaan dengan soal pinangan terhadap seorang wanita (Q.S. Al Baqarah)

Sementara praktik orangtua dalam mendidik anak dengan menggunakan prinsip qaulan ma’rufa dapat diaplikasikan dalam pola komunikasi yang disesuaikan dengan usianya. Misalnya, berbicara dengan anak usia SD berbeda dengan anak usia SMP atau dengan anak laki-laki dengan anak perempuan yang mempunyai perasaan lebih lembut. Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah pendidik, pegiat dakwah dan penulis buku.

Editor: Iman

Editor Bahasa: Desi

Ilustrasi foto: Norman

 

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

 

 

(Visited 40 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment