Kenapa Suami Istri Perlu Saling Memuji?

perselingkuhan

Bangga, senang, merasa dihargai, dan percaya diri. Begitulah aura perasaan positif yang kita rasakan saat menerima pujian. Dan, memang sudah menjadi kodrat manusia senang dengan pujian. Rasanya, tidak berlebihan bila ada ungkapan yang menyatakan bahwa hidup ini terasa hampa bila tanpa pujian. Pujian mengandung pesan perhatian, penghargaan, dan pengakuan yang amat diperlukan oleh setiap insan agar tercipta kepribadian positif.

Ketika Suami Istri Saling Memuji
Pujian menjadi bagian yang penting dalam menumbuhkan keharmonisan hubungan suami istri. Mustahil tercipta keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah bila di dalamnya tidak ada pujian. Maka, rumah perlu menjadi tempat pertama untuk menebarkan pujian sebelum kita memuji orang lain di tempat kerja. Dan, saling memuji antara suami istri adalah awal dari pembiasaan memberikan pujian di rumah.

Rasulullah Saw. sendiri adalah sosok suami yang sangat memperhatikan, menjaga, dan memberikan cinta kepada istrinya seutuhnya. Rasulullah sering memuji istrinya dengan panggilan yang menyenangkan. “Wahai si pipi kemerah-merahan” adalah contoh panggilan yang selalu beliau ucapkan tatkala memanggil Aisyah.

Praktik memuji yang dilakukan Rasulullah Saw. itu semata-mata dilakukan dengan tulus. Dan, hanya pujian yang tulus yang mampu menghadirkan nuansa romantis di antara suami istri dalam rumah tangga. Saling memuji antara suami dan istri juga bagian dari pendidikan teladan untuk anak-anak di rumah. Budaya menghargai dan memuji semata-mata untuk menghadirkan kepribadian positif anak-anak sehingga orangtua tidak begitu sulit untuk membentuk dan membina jiwa mereka.

Dalam Islam, perempuan (baik sebagai istri maupun ibu), memiliki peranan besar dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Kelembutan istri mampu menghadirkan hubungan harmonis. Berkata-kata lembut dan memuji suami adalah hal yang amat penting ditumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

promooktober1

Urusan puji memuji bukan hanya spesial buat kaum wanita. Suami di rumah juga pada dasarnya butuh akan pujian. Pujian menandakan suatu penghargaan terhadap kelebihan atau usaha jerih payah tiap individu. Sudah jadi kodratnya, manusia itu suka dihargai dan berharap sekali setiap orang menghargai, terlebih istri tercinta.

Reaksi suami ketika dipuji pun tak beda jauh dengan para istri. Tersenyum, tertawa, malu-malu, atau yang lainnya sebagaimana umum terjadi pada wanita. Namun begitu, pujian harus dilakukan dengan sewajarnya atau tidak berlebih-lebihan. Karena pujian yang berlebihan bias mengarah kepada syirik. Sebab Allah Swt. tidak suka pada orang yang berlebihan, apalagi urusannya memuji selain kepada-Nya.

“Janganlah kalian mengagungkanku seperti yang diperbuat orang Nasrani terhadap Isa bin Maryam, karena sebenarnya aku tidak lebih dari hamba Allah. Sebut saja aku ini hamba Allah dan rasul-Nya.” (H.R. Bukhari)

Sebut saja dalam urusan pekerjaan. Istri bisa memuji suami saat dia curhat atas keberhasilannya dalam tugas. Peluklah dia dan bisikkan kata-kata mesra, seperti “Umi amat bangga sama Abi” atau lain sebagainya. Cium suami sebagai tanda terima kasih atas pengorbanannya untuk membahagiakan keluarga.

Atau, saat suami membantu pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak-anak. Istri boleh (bahkan harus) memuji suami. Sebagai penghargaan, istri dapat menghadiahi suami sesuatu yang memang menjadi kesukaannya; baik berbentuk masakan, membuatkan minuman dengan santun dan mesra sembari mengatakan hal-hal yang membuat suami senang.

Hak suami istri untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan penghargaan melalui berbagai bentuk pujian dan sanjungan harus seimbang. Dalam Al-Quran Allah Swt., berfirman , “…dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 228)

Buah Hati pun Perlu Dipuji
Budaya memuji sebagai penghargaan dan penggugah ghirah, perlu diteladankan kepada anak-anak. Dalam ingatan setiap anak selalu terdapat catatan lengkap tentang hubungan mereka dengan orangtuanya. Catatan kebahagiaan, perhatian, dan kasih sayang dalam pikirannya akan memengaruhi perilaku dan sikapnya.

Pujian tidak selamnya berbentuk perkataan. Pujian bisa berupa pemberian hadiah atau bahasa tubuh yang menenteramkan, seperti kecupan dan pelukan. Rasulullah pernah mengecup Hasan bin Ali (cucu beliau), sedangkan di sampingnya duduk Aqra’ bin Habis At-Tamimi. Lalu Aqra’ berkata,

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 29 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment