Memahami Poligami Dalam Bingkai Pernikahan (bag. 2 )

Oleh: Sasa Esa Agustiana

Orang yang adil adalah mampu menegakkan kebenaran, meletakkan sesuatu pada tempatnya, tidak melampaui batas,  tidak memangkas hak orang lain. Sebaliknya pelaku kedzaliman, mereka mengingkari Rabb yang telah menciptakan mereka, mengikuti selain syariat (aturan hukum) yang telah ditetapkanNya, membuat syariat berdasarkan hawa nafsunya sendiri, sehingga tidak beriman tapi memilih menolak (kafir seluruh atau sebagian aturan-aturanNya).

Dan katakanlah kebenaran itu datangnya dari Rabbmu maka barangsiapa yang mau beriman hendaklah beriman dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Q.S. Al-Kahfi 18: 29).

Pilar Keadilan Dalam Poligami

Untuk berpoligami antara lainnya perlu komitmen menegakkan aturan prisip keadilan dalam Q.S. Annisa 4: 3 dan 129. “…janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung…” (Q.S. Annisa:129). Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw., bersabda “Barangsiapa menikah dengan dua istri lalu dia cenderung kepada salah satu dari keduanya, maka nanti  pada hari kiamat dia akan datang dalam keadaan lumpuh sebelah.” Dalam riwayat Affan (H.R. An-Nasai)

Kewajiban adil suami dalam poligami, menyediakan sandang, pangan, papan, bermalam, menjaga hak istri jangan sampai menelantarkan, akibat berlebihan kecintaan pada salah satu pihak. Selanjutnya prinsip adil tidak akan terwujud bila mengandalkan akal, hawa nafsu, karena perjuangan menegakkan keadilan untuk istri dan anak (keluarga), masyarakat, sangat ditentukan oleh kedekatan seseorang pada Allah swt.(muroqobatullah) tidak bisa bercampur dengan bermaksiat (perselingkuhan, perzinahan, kebohongan, dll) pada Allah swt.

Lebih luas lagi membangun keluarga dan umat perlu strategi perencanaan yang matang dan menyeluruh seperti dilakukan nabi Ibrahim a.s. dalam Q.S. Ibrahim 14: 35-36. Perlu diback up oleh orang-orang yang komitmen iman, sabar, syukur, menjauhi dosa besar, bergantung pada Allah swt., seperti wanita-wanita shalehah Siti Sarah, dan Siti Hajar. Tidak ada keadilan, bila bermodalkan suami dzalim dan wanita yang dimadunya orang yang bermaksiat pada Allah swt.

Rasulullah saw. mencontohkan bagi suami yang berpoligami dengan adil ada keterangan dari Aisyah, “Tiada kecuali Rasulullah berkeliling menemui kami semua (sebagai istri) seorang demi seorang.  Beliau mendekat dan membelai kami tanpa hubungan intim, hingga sampai kepada yang mendapat gilirannya, dan di situlah beliau menginap.” (H.R. Ibnu Hambal). “Sesungguhnya Aisyah istri Nabi saw berkata, bahwa Rasulullah saw., jika hendak keluar untuk menempuh suatu perjalanan suka melakukan undian diantara istri-istrinya, siapa yang berhasil, maka beliau berangkat bersamanya.” (H.R. Muslim)

Maksud hadist tersebut, walau pun yang mendapat giliran menginap hanya seorang istri, namun semua istri bertemu dan merasakan kasih sayang suami setiap hari. Kemudian Rasulullah saw. bila berpergian akan meminta persetujuan mereka dengan siapa harus pergi, bila memungkinkan akan dibawa semua, misalkan berangkat haji dengan semua istrinya.

Perlu diingat bahwa Rasulullah saw. sangat mencintai Siti Aisyah r.a. bukan karena penampilan sebagai wanita termuda diantara istri-istrinya yang lain, tetapi karena perannya secara khusus sebagai penerus dakwah Rasulullah saw. bagi kaum wanita dan umat.

Meski begitu tetap saja kecintaan beliau terhadap Siti Khadijah r.a. (alm) yang lebih tua 15 tahun usianya tak dapat pupus atau tertandingi oleh Siti Aisyah ra. Dan Siti Aisyah belum pernah bertemu dengan Siti Khadijah r.a (alm). Membuktikan Rasulullah saw., adalah pria setia, monogami dengan satu istri Siti Khadijah r.a. Dalam sebuah hadist Rasulullah menerangkan,

“Dari Aisyah berkata,”Adalah Rasulullah saw. jika ingat kepada Khadijah beliau menyanjung dengan sanjungan yang sangat baik, “Aisyah berkata, “Suatu hari aku cemburu, maka aku berkata, Sungguh sering engkau mengingatnya padahal Allah azza wa jalla telah memberi ganti dengan yang lebih baik.”Beliau bersabda, Allah tidak memberi ganti dengan yang lebih baik daripada dia.  Dia beriman kepadaku pada saat orang lain kufur kepadaku. Dia percaya padaku pada saat orang lain mendustakanku. Dia membantuku dengan apa yang dia miliki ketika orang lain menghalangiku. Dan Allah berikan padaku anak darinya sementara dari istri lain aku tidak mendapatkannya.

Memang Allah swt. Maha Pencipta  Cinta yang menanamkan rasa cinta di hati siapa yang dikehendakiNya. Terlihat sosok Rasulullah saw. sebagai suami  yang pandai mencintai dan menghargai setiap kelebihan istri-istrinya dalam peran dakwah dan rumah tangga.

Seorang suami dan hamba Allah swt. sekaliber Rasulullah saw., utusan Allah swt,  betapa memeras diri bekerja keras membuat bahagia istri-istrinya,  mengadu dengan jeritan hati pada Rabbnya: “Dari Aisyah berkata, “Adalah Rasulullah saw. membagikan dengan adil, dan beliau bersabda, “Inilah langkah dalam membagi  apa yang aku miliki, maka janganlah Engkau (Allah swt.) cela aku pada apa yang Engkau miliki dan tidak aku miliki.” (H.R. Addarimi).

Rasulullah saw., selalu bekerja keras membagi adil diantara istri-istrinya, memberi yang terbaik, memuliakan wanita, menghormati pendapat mereka, membantu pekerjaan rumah tangga, tidak pernah memukul, menghargai kontribusi setiap istri, orang yang paling lembut, hangat bergurau, murah senyum, konsisten dalam berdakwah dan mengadakan perbaikan umat.

Menurut K.H. Saiful Islam M.Lc., M.Ag. dalam buku Poligami yang Didambakan Wanita, apabila pria tidak mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya sehingga dengan poligami bertambah masalah, maka praktik tersebut sekalipun halal dan  sah perkawinannya namun berlawanan dengan praktik Sunnah Rasul, maka tidak layak baginya mengaku sebagai melakukan Sunnah Rasulullah saw. Poligami tidak dapat dijadikan percobaan, karena erat kaitannya dengan aqidah dan nasib umat. Apabila istri tidak bersedia dimadu, maka jangan mengharamkan yang halal jangan membenci atau menolak kebenaran aturannya. Boleh bila ada keterbatasan, bisa saja tidak melaksanakannya.

Timbulnya kedzaliman karena ada kebohongan demi kebohongan dalam berpoligami, kriteria adil berlandaskan ukuran akal, hawa nafsu manusia, demi meraih keuntungan dunia semata, lupa akhirat. Ingatlah dzalim itu adalah zhulumat (kegelapan) pada hari kiamat bagi pelakunya.

Adapun orang beriman dan melakukan kebajikan, Allah akan menyempurnakan pahala mereka. Sungguh, Allah tidak menyukai orang zalim” (Q.S. Ali ‘Imran: 57,140). Wallahu A’lam bishshawwab.

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga, pegiat dakwah dan penulis buku.

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

(Visited 14 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment