Etika Membangun Rumah dalam Islam

Salah satu unsur kebahagiaan seorang muslim adalah memiliki al-maskanul-wasi’ atau tempat tinggal yang leluasa.  Bagaimana cara memperoleh rumah yang leluasa itu? Kriterianya mencakup terpenuhinya syarat yang dibutuhkan, penghuni yang baik dan tertib, lingkungan yang asri dan nyaman, serta kegiatan yang bermanfaat. Maka, tempat tinggal harus ditata dengan rapi, baik bangunannya, penghuninya, maupun lingkungannya.

Dalam buku Feng Shui Islam karya H.U.Saifuddin, ASM, dijelaskan bahwa, untuk mewujudkan al-maskanul-wasi’ bukan hanya faktor keleluasaan yang diperlukan, tetapi juga kelapangan lingkungan rumah. Oleh karena itu, membangun rumah harus mengikuti etika.

promooktober

Etika dan tata perumahan berdasarkan aturan negara telah ditetapkan oleh dinas tata kota. Tentu saja ketentuan tersebut harus diikuti. Jika tidak, akan berdampak pada ketidaknyamanan bertempat tinggal dan bertetangga.

Adapun etika membangun rumah berdasarkan pada beberapa hadits antara lain :.

1.    Tidak melampaui batas kepemilikan hingga mengganggu tanah milik orang lain
Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang mengambil tanah orang lain sejengkal secara tidak sah, Allah akan membebankan kepadanya tujuh lapis bumi pada hari kiamat sebagai siksaan.” (Muttafaq ‘alaih dari Zaid bin Amr bin Nufail, hadits no. 940).  Selain itu, Rasulullah Saw. pun bersabda, “Barangsiapa yang mengganggu tanah orang lain sejengkal, maka tujuh lapis bumi akan memberatkannya sebagai siksaan.” (Muttafaq ‘alaih dari Aisyah hadits no. 941)

Kedua hadits ini mengancam orang yang melampaui batas kepemilikan tanah secara tidak sah. Oleh karena itu, tidak dibenarkan membangun rumah melampaui batas kepemilikan sedikit pun.

2.    Tidak mengganggu kelancaran lalu lintas
Rasulullah Saw. bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh tujuh atau enam puluh tujuh cabang. Yang paling utama ialah ikrar la ilaaha illallaah (tiada tuhan selain Allah, yang paling ringan ialah menyingkirkan duri dari jalan. Malu merupakan sebagian cabang dari iman.” (H.R. lima ahli hadits)
Hadits ini menyatakan bahwa menyingkirkan duri dari jalan merupakan cabang dari iman. Oleh karena itu, setiap mukmin bertanggung jawab untuk memberikan kelancaran lalu lintas. Tidak dibenarkan bagi seorang mukmin mengganggu jalan walau hanya dengan membiarkan duri. Yang dimaksud dengan duri di sini tentu mencakup segala sesuatu yang mengganggu kelancaran, seperti paku, potongan kayu, batu, pasir, ataupun yang lainnya. Saat membangun rumah, usahakan tidak menyimpan bahan bangunan di jalan hingga mengganggu orang lewat.

3.     Tidak menghalangi saluran air
“Sesungguhnya seorang lelaki Anshar berkelahi dengan az-Zubair pada zaman Rasulullah Saw. berkenaan saluran air di Harrah. Lelaki Anshar tersebut berkata, ‘Alirkan air itu sehingga mengalir.’ az-Zubair menolak permintaan mereka, lalu mereka berkelahi di samping Rasulullah Saw. Kemudian, Rasulullah Saw. bersabda kepada az-Zubair, ‘Berilah aliran air, wahai az-Zubair! Kemudian, biarkan air itu mengalir pada tetanggamu.’ Lelaki Anshar tadi marah seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apakah karena Zubair adalah anak saudara engkau?’ Nabi Saw. dengan marah bersabda, ‘Wahai az-Zubair! Berilah kepadanya air, kemudian tahanlah air tersebut sehingga mengalir ke kebun itu.’
Setelah kejadian itu, az-Zubair berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya aku yakin bahwa ayat turun membicarakan tentang perkelahian tadi. Ayat tersebut berbunyi, ‘Maka demi tuhan, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di dalam hati mereka sesuatu keberatan sedikit pun terhadap keputusan yang kamu berikan.” (Muttafaq ‘alaih dari Abdullah bin az-Zubair r.a., hadits  no. 1376)

Esensi hadits ini adalah betapa pentingnya memberikan kesempatan kepada sesama untuk menikmati saluran air. Oleh karena itu, saat membangun rumah, usahakan tidak sampai mengganggu saluran air.

4.    Tidak mengganggu udara, cahaya, atau sinar rumah tetangga
Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah Anda membangun rumah terlalu tinggi hingga mengganggu udara tetangga, kecuali atas izinnya.” (H.R. Tabrani dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya). Berdasarkan hadits ini, sebaiknya bangunan tidak mengganggu rumah tetangga karena terlalu tinggi atau sebab lain. Bila terpaksa harus meninggikan bangunan, hendaklah meminta izin pada tetangga terlebih dahulu.

Sobat Mapi, banyak sekali telaah ayat-ayat dan hadits yang berkaitan dengan perumahan. Karena dalam perumahan itu ada penghuni, kamar, dan fasilitas lainnya, maka kita pun perlu memahami dasar-dasar fiqhiyah tentang adab menghuni rumah; mulai dari tidur, bangun tidur, bersuci, berpakaian, sampai adab makan dan minum.

Selain itu, karena perumahan tidak pernah terlepas dari hubungan dengan tetangga dan tamu, kita juga harus mengetahui dan melaksanakan etika bertetangga, berwisata, dan bertamu.  Seluruh dasar fiqhiyah tentang perumahan ini dibahas tuntas dalam buku Feng Shui Islam : Etika Perumahan & Wisata, Telaah Tafsir Al Quran dan Hadits tentang Perumahan, Etika Bertetangga, Berwisata, dan Bertamu.

fengsuy depan

Dapatkan harga khusus buku ini untuk pembaca MaPIOnline senilai “Rp.8.000″  (belum termasuk ongkir) dari harga  normal Rp. 19.900.  Hubungi segera hotline 08112202496 untuk pemesanan buku ini.

Foto Ilustrasi : “Rumah Boscha” by Azmie KasmyOwn work. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons.

(Visited 31 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment