Dalam Keluarga Siapa yang Harus Berkorban, Ayah, Ibu atau Anak?

keluarga

Oleh: Prilly Kusumaningtyastuti Hadiwijoyo*

Sebuah kata-kata bijak sering kita dengan,”Di balik suami yang sukses ada istri yang hebat,di balik anak yang sukses ada ibu yang hebat”. Kalimat ini bukanlah berlebihan untuk menggambarkan sosok dan peran seorang wanita (istri/ibu) dalam sebuah keluarga. Demi sukses dan karier suami yang terus maju,istri leih sering mengorbankan dirinya untuk secara total mengurus anak dan keluarga. Istri rela meninggalkan pekerjaannya meski mempunyai potensi karier yang cemerlang pula. Hal ini ia lakukan untuk memberi kesempatan kepada suami agar lebih berkembang dan maju.

promooktober

Sosok ibu juga kerap kali menjadi penentu keberhasilan dan kesuksesan putra putrinya,berkat sentuhan pendidikan yang ia berikan semenjak anak-anak masih kecil. Menurut para psikolog, peran ibu (umumnya wanita) selalu berorientasi pada orang lain. Dengan kata lain wanita lebih bahagia dan merasa mendapat kepuasan hidup dengan pengabdian kepada orang lain. Sementara itu dengan kesibukan membantu dan mengabdi kepada orang lain khususnya keluarga, menyebabkan wanita terkadang lupa dengan perkembangan dirinya sendiri.

Padahal sebagai satu tim yang saling menguatkan, setiap anggota keluarga seharusnya memiliki hak yang sama untuk maju dan berkembang.Perintah Allah dalam menuntut ilmu misalnya,tidak mengenal jenis kelamin atau waktu tertentu. Sepanjang hidup itulah kesempatan belajar,demikian juga dengan aktivitas lainnya. Demi sukesnya sebuah keluarga,tidak seharusnya menjadikan salah satu pihaknya saja untuk terus berkorban. Setiap anggota keluarga harus bisa mengalahkan ego untuk mendorong dan mengembangkan potensi anggota keluarga lainnya. Semua bisa saling berkorban untuk maju dan berkembang secara bersama,asal ada komitmen yang disepakati bersama.

Berkorban untuk anak

Kehadiran anak dalam keluarga bisa dipastikan sedikit banyak akan ada perubahan. Perhatian suami dan istri akan lebih tercurah pada sang buah hati demikian juga dengan kebutuhannya. Seorang ibu dengan rela harus mengurangi aktivitasnya diluar rumah. Bagi sebagian ibu malah ada yang harus berhenti bekerja dan meninggalkan kariernya yang sebenarnya masih dibutuhkan perusahaaan dan orang lain. Sementara ayah (suami) dituntut untuk lebih giat dan kerja keras lagi dalam bekerja agar kebutuhan keluarga tercukupi.

Dalam kondisi seperti ini baik suami (ayah) maupun istri (ibu) harus merasa sama-sama berkorban untuk buah hati dan keluarga. Peran dalam mendidik menjadi sama besarnya dengan perhatia. Beberapa aktivitas dan rutinan yang biasa dan umum dilakukan seorang ibu,sesekali bisa dihandle oleh suami tanpa harus merasa “turun derajat” dan hilang wibawa.

Berkorban untuk ayah

Demi tuntutan dan syarat sebuah jenjang karier yang lebih tinggi,seorang suami (ayah) harus mengikuti tugas atau belajar bahkan harus keluar kota. Inilah salah satu momen bagi istri (ibu) dan anak-anak untuk bisa mandiri tanpa bantuan ayah. Ibu dan anak-anak tidak dapat menuntut perhatian dan waktu pada sang ayah. Bagi anak-anak harus rela dan berbesar hati dalam beberapa waktu mungkin tidak bisa bermain atau jalan-jalan bersama ayah. Urusan dan pekerjaan rumah tangga sebisa mungkin dapat diatasi sendiri oleh ibu,dengan melibatkan anak-anak sesuai kemampuannya.

Demikian juga beberapa pekerjaan kasar dan berat dalam rumahtangga kadang harus bisa dikerjakan dan diselesaikan tanpa bantuan ayah. Pengorbanan ibu dan anak-anak harus mampu menghadirkan kemandirian dalam rumah. Ibu dan anak-anak harus bisa bekerja sama dalam mensupport dan memotivasi studi atau pekerjaan ayah di luar kota.

Berkorban untuk ibu

Pada saatnya nanti anak-anak telah tumbuh besar dan dewasa sehingga masing-masing memiliki aktivitas sendiri-sendiri. Pada saat ini seorang ibu akan memiliki banyak waktu luang karena beban mengurus anak-anak telah berkurang. Dalam memanfaatkan dan mengisi waktu luang tersebut ibu bisa mengembangkan potensi dan hobbynya yang sempat tertunda. Ibu bisa melanjutkan studi atau menambah pengetahuan dengan mengikuti kegiatan kursus diluar rumah. Beberapa ibu biasanya memanfaatkan waktu tersebut dengan aktif dalam kegiatan social kemanusiaan dilingkungan rumah (masjid atau majelis taklim).

Saat ibu kembali aktif dengan mengorbankan waktu dan tenaga untuk kemanusiaan atau belajar diluar rumah maka saatnya bagi ayah dan anak-anak berkorban pula. Ayah dan anak-anak harus bisa mengurus kebutuhannya sendiri tanpa bantuan ibu. Mungkin dalam beberapa hari ayah dan anak-anak tak dapat menikmati hidangan lezat ibu. Ayah dengan melibatkan anak-anak bisa mengambil alih pekerjaan yang biasa dilakukan ibu,seperti bersih-bersih rumah atau mencuci baju dan piring bersama. Lagi-lagi seorang ayah (suami) tidak harus merasa “turun derajat”.

Dengan demikian pengorbanan bisa dilakukan oleh seluruh anggota keluarga dalam waktu dan kesempatan yang berbeda Intinya tidak boleh merasa ada yang menjadi korban siapa. Berkorban itu kewajiban bersama sekaligus hak untuk mendapat pengorbanan dari keluarga. Dengan komitmen dan saling membangun pengertian,kepercayaan bersama,keluarga akan terasa lebih bahagia dan harmonis. Bahagialah dengan berkorban. [ ]

*Penulis adalah ibu rumah tangga dengan 6 anak

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

(Visited 42 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment