Begini Cara Rasulullah Mendidik Anak Cucunya

nabi muhammad

Apa yang ada di benak kita ketika mendengar kata “anak”? Apakah perwujudan darah daging kita yang nantinya bisa diperintah sekehendak hati dengan alasan seorang anak wajib mematuhi perintah orangtuanya? Atau, hanya sebuah mulut lain yang harus kita beri makan sehingga aktivitas pencarian nafkah untuknya menjadi beban? Ataukah, makhluk yang fungsinya hanya untuk dibanggakan di hadapan kerabat dan saudara lainnya ketika sang anak meraih kesuksesan, baik di bidang materi atau gelar akademis sehingga kesuksesannya dijadikan penutup cela dan kekurangan sang orangtua sehingga bisa dengan lantang berkata, “Inilah anakku, aku yang telah mendidiknya”

Lain kita, lain pula Nabi Muhammad Saw. Di mata Rasul, seorang anak adalah calon manusia dewasa yang telah memiliki hati, perasaan, harga diri yang sama dengan manusia dewasa, dan telah memiliki hak-hak tertentu. Hal ini terlihat dari berbagai sikap beliau dalam memperlakukan anak kecil.

promooktober

Ketika beliau membagi madu kepada orang dewasa dan di situ ada anak kecil, Rasul memberi jatah pada anak kecil tersebut. Ketika ada anak seorang sahabat yang buang air kecil di gendongan beliau dan ibu anak tersebut membentaknya, Rasul menegur dengan mengatakan bahwa air pipis bisa dicuci sedangkan sakit hati anak susah diobati.  Beliau tidak mengganggu anak-anak yang sedang bermain, bahkan pernah menonton anak-anak yang sedang bermain dengan penuh senang hati. Rasul pun tidak mengganggu boneka Siti Aisyah yang dinikahi ketika masih kecil.

Nabi juga tiak membedakan antara anak laki-laki dan perempuan. Pernah suatu ketika ada seorang laki-laki duduk di sebelah beliau, hingga kemudian anak laki-lakinya datang dan duduk di pangkuannya. Tak lama kemudian, datanglah anak perempuannya, tetapi laki-laki itu tidak memangkunya. Kemudian Nabi bersabda, “Mengapa engkau tidak menyamakan keduanya?”

Selain itu, tentunya Nabi juga memandang bahwa seorang anak adalah penerus generasi muslim di masa yang akan datang. Karenanya, pendidikan yang baik untuk seorang anak harus menjadi perhatian orangtua muslim. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. berpesan, “Ajarkan kebaikan kepada anak-anak kamu dan didiklah mereka.” (H.R Abdurrazaq dan Sain bin Manshur). Karena itu, kecintaan kepada anak-anak tidak membuat Rasul berpaling dari tujuan utama hidupnya atau membuatnya lupa akan tanggung jawab sebenarnya terhadap anak-anak.

Walaupun sebelum masa akil baligh adalah masa tidak atau belum dicatatnya kebaikan dan keburukan seorang manusia, Nabi tetap menganjurkan anak-anak kita agar dididik tentang tata cara ibadah, seperti shalat, membaca Al-Quran, dan memperkenalkannya pada aspek akidah, seperti keberadaan Allah dan kerasulan Muhammad Saw. Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda,

Didiklah anak-anakmu atas tiga hal, mencintai Nabimu, mencintai keluarganya, dan membaca Al-Quran. Sebab para ahli Al-Quran itu berada dalam naungan singgasana Allah pada hari yang tidak ada perlindungan selain daripada perlindungan-Nya.” (H.R. At-Thabrani)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Nabi Muhammad Saw. memerintahkan agar para orangtua menyuruh anaknya mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sebab, hal itu akan menjaganya dari api neraka. Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi memerintahkan agar orangtua memerintahkan shalat kepada anaknya sejak umur tujuh tahun. Kemudian, jika pada usia sepuluh tahun anak tidak shalat, maka Nabi memerintahkan orangtua untuk memukul mereka.

Secara umum, Rasulullah mendidik anak dengan penuh kasih sayang, kehangatan, telaten, penuh perhatian dan tanggung jawab serta senantiasa diiringi doa. Beliau bersabda, “Alzimu auladakum” yang artinya “Dekati anak-anakmu!” Beliau sering menggendong anak sahabat yang dibawa berkunjung ke rumahnya. Beliau juga memangku Hasan di atas paha yang satu dan memangku anak sahabat di atas paha lainnya kemudian memeluk mereka berdua. Dan, dalam suasana seperti itu keluarlah doa-doa untuk anak-anak itu, di antaranya, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia dan cintai pula orang yang mencintainya”. Beliau tidak melakukan sesuatu yang membahayakan anak. Walau sedang shalat, beliau tidak bangkit dari sujud karena cucunya sedang duduk di pundaknya. Beliau pun kerap menyuruh untuk mencium dan mengusap kepala anak.

Masih banyak lagi hadits yang menggambarkan besarnya kepedulian Nabi terhadap anak-anak. Bahkan, Nabi pernah bersabda, “Siapa yang mempunyai anak, hendaklah dia ‘menjadi anak’ pula (yakni memahami, bersahabat, dan menjadi teman bermain anaknya).”
Pada dasarnya, Rasulullah Saw. mengajarkan perilaku lemah lembut dalam mendidik anak dan tidak mengajarkan kekerasan. Perintah beliau untuk memukul anak yang tidak mau shalat pada usia sepuluh tahun bukanlah perintah untuk melakukan kekerasan. Pukulan yang dilakukan adalah dharban rafiiqan, pukulan yang disertai rasa kasih sayang, bukan pukulan sebagai luapan kemarahan. Pukulan itu tidak boleh mengenai wajah (falyajtanib al-wajha) atau anggota tubuh yang vital. Pukulan itu juga tidak boleh menimbulkan bekas (dharban ghaira mubarrih). Pukulan baru diberikan sebagai sanksi kepada anak yang tetap membangkang setelah menjalani proses pendidikan selama empat tahun terus-menerus, dari usia tujuh tahun sampai sepuluh tahun.

Nabi Saw. bersabda, “Gunakanlah cinta dan kasih sayang dalam mendidik dan membina, dan jangan menggunakan kekejaman. Sebab, seorang penasihat yang bijak adalah lebih baik ketimbang seorang yang kejam.

SebeNarnya, sanksi tidak harus dengan pukulan. Sabda Rasul, “Wa lan yadhriba khiyaarukum (orang baik di antara kamu tidak akan pernah memukul)”. Selalu ada jalan untuk memberi sanksi tanpa harus memukul. Yang paling penting adalah anak yang salah perlu diberi sanksi.

Yang perlu diingat oleh para orangtua adalah jangan membiasakan mendidik anak dengan pukulan. Hikmah pemberian pukulan dalam mendidik anak adalah agar orangtua jangan menyerah kepada keinginan anak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Orangtua harus berani mengalahkan kasih sayang yang bersifat hawa nafsu dengan memberikan hukuman yang bersifat keselamatan dunia akhirat. Hikmah bagi anak adalah untuk mengingatkan bahwa perbuatan yang dilakukannya sudah keterlaluan.

Nabi lebih banyak memberikan arahan tindakan preventif agar anak tidak sering membantah. Dari keseluruhan cara Nabi mendidik anak, semua dilakukan dengan cara pendekatan dan upaya menyelami jiwa anak serta selalu dikaitkan dengan nilai-nilai ilahi. Dengan demikian, menghadapi anak yang sering membantah orangtua harus dengan cara terus didekati, diketahui, dan dipahami penyebab dari perilakunya. Tentu saja, diperlukan kelapangan dada dari orangtua untuk introspeksi. Doa merupakan metode yang ampuh untuk menyertai usaha.

Semua perilaku Nabi dalam mendidik anak merupakan nasihat agar anak tersentuh hatinya, dari membangun kedekatan dengan anak, melatih kehalusan sikap dan ucapan, usaha menyelami pikiran anak, dan tentu saja penanaman nilai-nilai ilahi. Anak harus diingatkan akan kekuasaan Allah dan masa depan yang akan dihadapi di dunia, terlebih kehidupan di akhirat.

Namun, dalam perilaku lembut nan penuh cinta kasih, bukan berarti Nabi menganjurkan kita memanjakan buah hati. Fathimah, putri Nabi, melakukan semua pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu rumah, membuat tepung dan memanggang roti, serta mengambil air dari sumur. Semua perkerjaan ini membuat warna kulitnya gelap dan tangannya kasar. Ketika Fatiman menemui Nabi untuk meminta seorang pembantu, beliau bersabda, “Orang-orang Suffah sangat miskin dan lebih membutuhkan bantuan daripada engkau. Akan kuajarkan kepadamu tentang suatu hal yang lebih baik daripada memiliki seorang pembantu. Apabila engkau pergi tidur, bertasbihlah sebanyak tiga puluh tiga kali, bertahmid sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah sebanyak tiga puluh empat kali.”

Contoh ini menunjukkan bahwa walaupun Nabi sangat mencintai anaknya, beliau tidak pernah mengorbankan prinsip-prinsipnya dalam kondisi apa pun. [Ilyas, berbagai sumber]

 

(Visited 45 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment