Mengumpulkan Bekal Ke Surga

 

Oleh: Abdurrahim Dany Suganda *

Dalam kehadirannya di alam dunia yang fana ini , seorang manusia bukan sekedar numpang lewat untuk melanjutkan perjalanan panjang berikutnya. Sebagai sebuah tempat transit maka seorang manusia yang cerdas akan berusaha mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya sebagai teman perjananan selanjutnya. Ia sadar bahwa kehidupan di dunia bukanlah kehidupan yang sejati.

iklan donasi pustaka2

Secara sederhana ini bisa dilihat dari apa yang ada disekitarnya,matahari yang terik pun akan tenggelam di ujung barat, bulan yang lembut pun akan hilang saat pagi datang, daun berguguran,sungai yang mengering hingga teman – teman bermain pun akan menua dan pergi meninggalkannya.

Lalu bekal apa kiranya dapat dibawa yang ringan dibawa (tidak berwujud materi) namun mampu menyelamatkan perjalanan selanjutnya itu?Jawaban manusia yang cerdas cukup singkat yakni  sebaik-baik bekal itu adalah takwa.

Bawalah bekal karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku, hai orang berakal!” (QS. Al Baqarah : 197)

Namun sebagaimana melihat sejarah manusia mulia dan sukses membawa bekal tersebut, yakni para Nabi dan Rasul-Nya maka proses memperoleh bekal takwa itu bukan hadiah yang langsung melekat pada manusia begitu ia lahir di dunia.

Pelajari bagaimana kisah Nabi Musa, Nabi Ayub, Nabi Ibrahim, Nabi Isa hingga Rasulullah Saw dalam perjalanan hidupnya. Pada hakekatnya untuk meraih bekal takwa tersebut mereka melakukan serangkaian aktivitas dakwah merubah keyakinan manusia dari yakin kepada makhluk menjadi yakin kepada Allah, dari yakin kepada dunia menjadi yakin kepada akhirat, dari yakin kepada harta (mal) menjadi yakin kepada amal. Semua itu dilakukan dalam rangka memperoleh ridho dan mengharap rahmat Allah Swt.

Ciri orang yang bertakwa ini bisa merujuk pada Al Quran khususnya surat Al Baqarah ayat 2 hinga ayat 5. Dan di surat Ali Imran ayat 133. Sementara aplikasi dari usaha takwa tersebut bisa disimak dalam firman-Nya:

Sesungguhnya, orang-orang ber-iman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. “( QS. Al Baqarah: 218)

Dari penjelasan ayat tersebut secara sederhana,minimal ada tiga aktivitas yang harus dikerjakan agar memperoleh bekal takwa dan mengharap rahmat Allah tersebut:

  1. Beriman.

Menurut pendapat jumhur ulama, secara bahasa iman berarti pembenaran hati sedangkan menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan. Ciri –ciri iman yang benar  yakni percaya kepada Allah dan Rasul-Nya serta tidak ragu-ragu dengan keimanannya.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan se-bagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” (QS. Al-Anfal: 2-4)

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih yang paling utama adalah ucapan “la ilaha illallahu” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan, sedang rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim)

Demikian juga ciri dan keberuntungan serta balasan bagi orang-orang yang beriman secara detail dijelaskan dalam suart Al-Mu’minun ayat 1 hingga ayat 11.

  1. Berhijrah.

Setelah seseorang menyatakan keimanannya maka harus dibuktikan dengan pengorbanan tidak cukup lewat pengakuan lisan semata atau cukup di dalam hati saja. Salah satu bentuk pengorbanan dari sebuah keimanan adalah dengan berhijrah. Arti hijrah sendiri adalah pindah,namun secara maknawi adalah meninggalkan sesuatu menuju yang lebih baik lagi. Makna hijrah sendiri bukan sekedar berpindah fisik atau jasadiyah semata melainkan secara mental, ruhiyah dan psikologis.

Seseorang yang sebelumnya kafir (dalam kegelapan) kemudian menjadi beriman adalah hijrah menuju cahaya Islam. Seseorang yang sebelumnya bergelut dengan ribawi kemudian bertaubat dan meninggalkannya lalu menuju ekonomi syariah adalah bagian dari hijrah. Ragam dan keutamaan hijrah ini banyak sekali serta dapat kita temui dalam Al-Qur’an atau Hadis.

Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.An-Nisa: 100)

  1. Berjihad.

Bagi sebagian orang, jihad hanya dipahami sebagai aktivitas berperang mengangkat senjata, padahal maknanya lebih  luas lagi. Secara bahasa jihad diartikan bersungguh-sungguh. Sementara menurut syariat Islam jihad adalah berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan misi utama dakwah dengan maksud menegakkan Dinullah ( Agama Allah) dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-Quran.

Bagi kaum muslimin yang berada didaerah konflik seperti Palestina misalnya maka jihadnya adalah mengangkat senjata untuk mengusir kaum penjajah Israel. Sementara bagi yang tinggal diwilayah damai tentu jihadnya akan berbeda seperti belajar dengan bersungguh-sungguh, mencari rezeki yang halal atau mengasuh dan mendidik anak-anak untuk menjadi generasi yang saleh dan salehah. Ada banyak ayat Al-Quran atau Hadis yang menjelaskan tentang jihad ini, seperti:

Sesungguhnya, orang-orang mukmin sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka sangat yakin dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Hujurat :15).

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa berjihad itu dengan harta dan jiwa atas dasar perwujudan keimanan. Dan sebagai bukti keimanan yg haq. Bagi yang berada didaerah perang maka jelas jihadnya dengan harta dan jiwanya. Sementara yang tinggal di wilayah damai berjihad dengan harta bisa dimaknai dengan membangun sarana dan prasana untuk kepentingan ummat seperti membangun madrasah, masjid atau sarana kesehatan.

Jihad hartanya orang yang berada di wilayah damai bisa juga dilakukan dengan memberikan sokongan kepada Perjuangan Dakwah Al-Qur’an, menyantuni anak-anak yatim , memberikan bantuan kesehatan dan sebagainya. Berwakaf mushaf Al-Qur’an, mengajarkan Al-Qur’an, berdakwah dan aktivitas amal shaleh lainnya baik yang dilakukan sendiri maupun berjamaah bisa dikategorikan sebagai aktivitas jihad.

Orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk mencari keridhoan Kami, akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami kepada mereka. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS.Al Ankabut: 69).

Demikianlah tiga hal yang dapat kita lakukan dalam rangka mengumbulkan bekal takwa untuk menempuh perjalanan panjang berikutnya.  Namun sungguh sayang,masih ada sebagian orang yang terlena dengan dunia yang sementara ini hingga lupa tidak sempat membawa bekal dan nasibnya akan merugi di akhirat kelak. Semoga kita bukan termasuk orang-orang lupa dan senantiasa berupaya mengumpulkan bekal takwa tersebut sehingga kelak akan mendapat keberuntungan di akhirat. Wallahu’alam. [  ]

 

Abd. Dani

*Penulis adalah :

– Nara sumber Tadabbur Al-Qur’an MQTV dan tiap hari rabu jam 4 sore & (Maghrib Mengaji MQFM),

– Nara sumber Ta’lim Rutin Tadabbur Al-Qur’an di Masjid Agung Trans Studio Bandung tiap Sabtu sore jam 15.30.

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

 

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini.

(Visited 11 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment