Langkah Membangun Iklim Komunikasi Keluarga

 

Oleh: Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D.*

Mengapa seorang remaja putra membentak atau mengancam ibunya yang tidak mengabulkan permintaannya membeli sepeda motor? Mengapa seorang ayah menganiaya anak balitanya yang rewel? Mengapa dalam keluarga lain seorang ibu bercengkerama penuh canda dan kelembutan tentang reproduksi dengan putrinya yang remaja? Komunikasilah salah satu faktor yang mempengaruhi suasana ini. Jika  komunikasi baik, akan tercipta suasana yang akrab dan ceria. Pun sebaliknya. Lantas, bagaimanakah agar tercipta komunikasi yang baik antara anggota keluarga, khususnya antara orangtua dengan anak-anak?

promooktober1

Satu syarat mutlak; dalam keluarga harus terdapat iklim komunikasi yang kondusif. Iklim komunikasi adalah kualitas pengalaman subjektif para anggota keluarga berdasarkan persepsi-persepsi atas ciri-ciri keluarga yang relatif langgeng, seperti perhatian, kepercayaan, kejujuran, keterusterangan, komitmen, dan kerjasama antara anggota keluarga. Hanya dalam keluarga dengan iklim komunikasi demikian, jati diri anak yang positif akan tumbuh dan berkembang. Seorang anak akan memiliki kepercayaan diri yang kuat, berani, mandiri, santun, dan sifat-sifat positif lainnya. Sebaliknya, jika anak sering disebut bodoh, nakal, malas, anak pun sangat boleh jadi akan memiliki sifat seperti itu. Banyak penelitian menunjukkan bahwa julukan yang diberikan, terutama oleh keluarga, akan menimbulkan nubuat yang dipenuhi sendiri (self-fulfilling prophecy). Seorang anak mungkin tidak dapat mengerjakan PR matematika-nya karena ia sering disebut bodoh setiap ia melakukan kesalahan, meskipun sebenarnya kecerdasan (IQ)-nya memadai. Ketidakmampuannya itu lebih disebabkan oleh ketidakpercayaan dirinya dalam menyelesaikan soal tersebut.

Memang, fungsi utama komunikasi dalam keluarga adalah fungsi sosial dengan tujuan terpenting pembentukan jati diri anak, selain fungsi-fungsi lainnya, misalnya fungsi ekspresif (untuk menyatakan perasaan) dan fungsi instrumental (untuk mencapai tujuan). Misi sosial ini bahkan dimulai dengan pemberian nama terhadap anak, misalnya nama Ahmad, Aisyah, Abdurrahman, Hanifah, Irfan, dsb. Diharapkan nama positif yang disandang anak ini, akan mendorongnya untuk berperilaku sebagaimana dicerminkan nama tersebut. Untuk menumbuhkan konsep diri yang positif pada anak-anak, orangtua harus menyadari pentingnya pengetahuan dan keterampilan berkomunikasi, bahkan bila perlu sejak anak masih dalam kandungan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas Prenatal di Amerika Serikat yang didirikan Dr. Rene Van de Carr, seorang ahli kebidanan dan kandungan di Hayward, California, pengajaran atau pelatihan komunikasi terhadap bayi dalam kandungan yang dilakukan orangtua melalui megafon (disebut pregafon) menunjukkan bahwa setelah anak lahir dan tumbuh, mereka mampu berkomunikasi lebih awal, merangkaikan kata-kata lebih dini, dan memahami sesuatu lebih cepat dibandingkan dengan anak sebayanya yang tidak mengikuti “pelatihan” tersebut (Tubbs dan Moss, 1996). Ini berarti bahwa spiritualitas anak pun dapat ditumbuhkan sejak anak masih dalam kandungan. Caranya? Perdengarkanlah kepada mereka kalimat-kalimat thayibah, doa-doa, dan bacaan Al Quran, sementara suami-istri, sebagai calon ayah dan ibu pun harus berkomunikasi satu sama lain dengan cara yang santun berdasarkan saling percaya dan kasih sayang. Jika musik klasik yang diperdengarkan kepada anak dalam kandungan dipercaya dapat meningkatkan kecerdasan anak (bahkan konon berdasarkan penelitian), mengapa kita tidak percaya bahwa bacaan Al Quran dapat pula meningkatkan kecerdasan sekaligus spiritualitas sang anak dalam kandungan.

Bangun Komunikasi Efektif

Tidak mudah untuk menciptakan iklim komunikasi yang kondusif dalam  keluarga, juga untuk terampil berkomunikasi dengan anak sendiri sekalipun. Orangtua sering menganggap bahwa komunikasi itu mudah dilakukan, seolah-olah bahwa orangtua sudah dibekali dengan keterampilan alami yang mereka bawa sejak lahir. Padahal, baik sebagai pegetahuan ataupun sebagai keterampilan, komunikasi senantiasa terikat oleh ruang dan waktu. Dengan kalimat lain, komunikasi terikat oleh budaya. Oleh karena itu, orangtua perlu memperbaharui pengetahuan dan keterampilan komunikasi dengan menambah pengetahuan dan wawasan mereka lewat bacaan, mengenai bagaimana membina keluarga sejahtera dan bahagia, juga dari sudut pandang psikologi (khususnya perkembangan anak), agama, dan kesejahteraan keluarga pada umumnya. Orangtua juga perlu mengamati perkembangan zaman, khususnya yang menyangkut pergaulan manusia, dan juga bertukar pikiran dengan orang lain yang dianggap lebih berpengetahuan dan lebih berpengalaman.

Komunikasi antarmanusia, bahkan dengan anak-anak, sebenarnya bukan hanya pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga seni bergaul. Salah satu prinsip penting adalah bahwa “kuantitas (seringnya) berkomunikasi tidak menjamin kualitasnya”. Oleh karena itulah orangtua perlu mempelajari komunikasi terus-menerus, agar orangtua tidak menghadapi kemacetan dalam berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Namun prinsip “kuantitas tidak menjamin kualitas” tidak perlu dijadikan harga mati, sebagai alasan yang dibuat-buat agar sang ibu leluasa mengembangkan karier di luar rumah dengan mengabaikan anak-anak, sehingga mereka terlantar secara sosial. Sering orangtua, khususnya ibu, berdalih “Yang penting kualitas komunikasinya bukan kuantitasnya” untuk menutupi rasa bersalah karena kurangnya perhatian mereka kepada anak-anak atau menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bekerja di luar rumah. Berdasarkan beberapa penelitian, anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orangtua mudah terserang penyakit, menjadi agresif, bahkan memiliki harapan hidup lebih pendek. Kuantitas dan kualitas berkomunikasi sebenarnya bagai dua sisi dari sekeping uang logam. Kuantitas merupakan bagian dari kualitas. Artinya, kuantitas yang memadai sebenarnya merupakan bagian dari kualitas.

Salah satu cara untuk menciptakan dan mengembangkan iklim komunikasi yang kondusif adalah dengan memberikan peluang kepada anak-anak, baik putra maupun putri, untuk mengungkapkan diri dan perasaan mereka. Di sinilah kuantitas komunikasi menjadi relevan. Lewat pengungkapan diri, anak-anak akan merasa bahwa mereka diperhatikan dan dibutuhkan. Hubungan yang hangat pun akan terjalin antara anak-anak dan orangtua. Ibu, khususnya punya peran penting untuk mendidik anak-anak agar mereka mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Bila para orangtua, khususnya kaum ibu, mampu mengembangkan keterampilan komunikasi mereka dengan anak-anak mereka, sehingga mereka mencapai tingkat empati yang optimal dan mendorong pengungkapan-diri anak yang maksimal, tidak ada kesulitan bagi kedua belah pihak untuk mengomunikasikan topik apa pun, bahkan, topik seksual (misalnya dalam rangka pendidikan seks).

Dipandang dari perspektif remaja sebagai anak, tidak ada risiko apa pun untuk mengungkapkan masalah-masalah yang bersifat pribadi dan sensitif kepada orangtua, bahkan sebenarnya menyehatkan mental, sementara pengungkapan-diri yang sama kepada orang lain (bahkan kawan terdekat sekalipun) selalu mengandung risiko, misalnya dimanfaatkan atau dimanipulasi oleh orang tersebut demi keuntungan atau kesenangannya. Pengungkapan-diri mengenai cela diri-sendiri kepada sang pacar, misalnya, boleh jadi justru membuat sang pacar tersebut meninggalkannya. Keterusterangan seseorang mengenai cintanya yang mendalam kepadaseorang pacar pun bisa dimanfaatkan oleh sang pacar untuk mengeksploitasinya dengan menuntut hal-hal yang besar dan tidak masuk akal (Rubin, 1973). Ringkasnya, hanya apabila orangtua memperlakukan anak-anak mereka sebagai sahabat –selain sebagai anak—mereka dapat membicarakan masalah apa pun dengan anak-anak mereka.

Perasaan yang harus ditumbuhkan kepada anak, bukan hanya rasa hormat, rasa segan, atau rasa takut, tetapi juga rasa dekat dan sayang. Hal ini hanya bisa dilakukan bila orangtua cukup sering kerkomunikasi dengan anak-anak. Dengan demikian, anak-anak pun akan menghargai pendapat orangtua dan mematuhi nasihat mereka. Anak-anak tidak akan terlalu menggantungkan pendapat mereka pada kelompok sebaya yang belum berpengalaman, atau dari sumber tidak resmi lainnya yang sering menyesatkan. Karena itu komunikasi orangtua, khususnya ibu, dengan anak-anaknya, haruslah diusahakan cukup intensif dan intim, terutama pada saat anak-anak masih kecil dan juga selagi mereka remaja. [ ]

 

*Penulis adalah pakar dan Guru Besar Ilmu Komunikasi Unpad serta penulis buku.

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

 

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

(Visited 17 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment