Kisah Pemuda Beriman yang Dibakar dalam Parit (Tafsir QS. Al-Buruuj Ayat 4-7)

ashabul kahfi

Bila dalam tiga ayat pertama surat Al-Buruuj, Allah swt menjelaskan kehebatan gugusan-gugusan bintang dan kehancuran total alias kiamat atas alam semesta. Pada ayat berikutnya,  Allah berfirman ;

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ

4. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit,

iklan donasi pustaka2

النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ

5. yang berapi kayu bakar,

إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ

6. ketika mereka duduk di sekitarnya,

وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ

7. sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.

Ayat 4 sampai dengan 7 ini menggambarkan segolongan orang kafir yang meneror orang-orang beriman agar murtad dari ajaran Allah. Namun orang-orang beriman ini tetap istiqamah (teguh pendirian) pada keyakinannya hingga akhirnya mereka diintimidasi dengan cara diseret pada parit yang berisi kayu bakar kemudian dibakar hidup-hidup dan orang-orang kafir itu menontonnya. Bagaimana detail peristiwa ini, silakan simak riwayat berikut.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanadnya dari sahih, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ada seorang raja pada umat sebelum kamu. Dia mempunyai seorang penyihir setia. Ketika usia penyihir semakin senja, dia berkata kepada raja, ’Usiaku sudah tua dan kematianku hampir tiba, pertemukanlah aku dengan seorang pemuda yang bisa menjadi kader ilmu sihirku.”

Raja itu pun segera mempertemukannya dengan seorang anak muda yang akan menjadi kadernya dan diajarinya ilmu sihir. Namun di samping penyihir, anak muda itu pun punya guru lain yaitu seorang rahib. Pemuda itu suka datang kepada rahib, dia mendengarkan ucapannya sehingga membuatnya kagum. Bila anak muda itu tidak datang kepada penyihir, dia dipukul sambil ditanya, ”Apa yang membuat kamu tidak datang belajar?” dan bila pulang bertemu keluarganya, mereka memukulnya juga sambil ditanya, ”Apa yang membuat kamu tidak pulang?” Lalu anak muda itu mengadukan hal ini kepada rahib. Rahib memberikan jalan keluar dan berkata, ”Bila penyihir itu hendak memukulmu, katakanlah kepadanya, keluargakulah yang membuatku tidak datang belajar. Dan bila keluargamu hendak memukulmu, maka katakanlah, ”aku belajar pada penyihir itu hingga aku tidak pulang.”

Pada suatu hari, ia mendapati seekor binatang yang sangat mengerikan dan besar sehingga membuat orang-orang takut. Lalu ia mengambil batu dan berkata, ”Ya Allah, jika perintah rahib itu lebih Engkau cintai daripada perintah penyihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang dapat melewati jalan.” Kemudian dia melemparnya dengan batu dan binatang itu mati dan orang-orang dapat berlalu. Dia ceritakan hal itu kepada rahib, lalu dia mengatakan, ”Hai anakku, engkau lebih utama dariku. Engkau akan dapatkan ujian. Bila hal itu terjadi, jangan engkau memberitahu bahwa aku gurumu.”

Lalu, pemuda itu ditakdirkan jadi seorang ahli mengobati penyakit sopak, lepra, dan penyakit-penyakit lainnya. Kebetulan ada seorang ajudan raja yang buta. Dia mendengar berita tentang kepiawaian pemuda tadi. Segera ia menemuinya dengan membawa hadiah  yang sangat banyak. Dia berkata, ”Sembuhkanlah aku, engkau boleh mengambil semua yang aku bawa ini.” Dia menjawab, ”Aku tidak pernah menyembuhkan seseorang pun, yang menyembuhkan mereka hanyalah Allah saja. Bila engkau beriman kepada-Nya maka aku akan berdoa kepada Allah sehingga dia akan menyembuhkanmu.” Lalu ajudan itu beriman, pemuda pun berdoa kepada Allah dan Allah berkenan menyembuhkannya.

Kemudian ajudan itu datang menjumpai raja, duduk di dekatnya sebagaimana yang dilakukan sebelumnya. Raja bertanya, ”Siapa yang telah membuatmu dapat melihat kembali ?” Dia menjawab, ”Tuhanku” Tanya raja, ”Aku?” Ajudan itu menjawab, ”Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu, yaitu Allah.” Raja bertanya, ”Engkau mempunyai Tuhan selain aku?” Ajudan menjawab, ”Benar, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Maka sejak itu, dia disiksa terus-menerus sehingga dia memberitahukan pemuda yang telah mendoakannya itu.

Akhirnya, pemuda itu dijemput untuk menghadap raja. Katanya, ”Hai pemuda, sihirmu dapat menyembuhkan penyakit sopak, lepra, dan penyakit-penyakit seperti ini?” Pemuda tadi menjawab, ”Aku tidak pernah menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanya Allah.” Raja bertanya, ”Aku?” Jawab pemuda, ”Bukan.” Tanya raja, ”Engkau punya Tuhan lain selain aku?” jawab pemuda, ”Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Maka dia disiksa terus menerus sampai memberitahukan gurunya, yaitu Rahib.

Rahib dijemput menghadapi raja. Raja berkata, ”Tinggalkanlah agamamu itu!” Namun, dia tidak mau. Kemudian dia meletakan gergaji di pertengahan kepala Rahib itu sehingga belahlah tubuhnya. Lalu raja berkata kepada ajudannya yang disembuhkan dari buta tadi, ”Tinggalkanlah agamamu.” Namun dia menolak. Dia segera meletakan gergaji di pertengahan kepalanya, lalu membalahnya.

Lalu berkata kepada pemuda, ”Tinggalkanlah agamamu!” Namun dia menolak. Kemudian dia dibawa  oleh beberapa orang ke suatu gunung. Katanya, ”Bila kalian sudah sampai puncak gunung, bila dia meninggalkan agamanya, maka biarkanlah dia, namun bila tidak, maka gulingkanlah dia.” Mereka pun pergi bersamanya. Tatkala telah sampai di puncak gunung, dia berdoa, ”Ya Allah selamatkanlah aku dari mereka menurut kehendak-Mu.” Kemudian gunung itu bergoncang, menggetarkan mereka, lalu mereka semuanya terguling.

Pemuda tadi datang lagi menghadap raja. Penasaran, raja bertanya, ”Apa yang telah terjadi dengan pengawalku?” Dia menjawab, ”Allah telah menyelamatkan aku dari mereka.” Kemudian raja mengutus beberapa orang untuk membawanya dalam perahu. Katanya, ”Bila kalian telah sampai di tengah lautan, bila dia kembali dari agamanya maka biarkanlah dia, bila tidak maka tenggelamkan dia.” Ketika mereka telah sampai di tengah lautan, pemuda tadi kembali berdoa, ”Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka menurut kehendak-Mu.” Mereka semuanya akhirnya tenggelam.

Pemuda itu datang lagi menghadap raja. Lalu ditanya, ”Apa yang terjadi dengan para pengawalku?” Jawab pemuda, ”Allah telah menyelamatkan aku dari mereka.” Kemudian dia berkata kepada raja, ”Anda tidak dapat membunuhku kecuali bila Anda melaksanakan perintah saya. Bila Anda melaksanakannya maka Anda dapat membunuh saya.” Tanya raja, ”Apa itu?” Jawab pemuda, ”Anda kumpulkan umat manusia pada satu lapangan. Kemudian, Anda salib saya di batang pohon kurma, lalu Anda ambil panah dari tabung kepunyaanku, setelah itu ucapkanlah, ’Dengan nama Allah, Tuhan pemuda itu.’ Maka bila Anda melakukannya, Anda pasti dapat membunuh saya.’

Raja segera melaksanakannya, kemudian meletakkan panah pada busur kepunyaannya, lalu mengatakan, ”Dengan nama Allah, Tuhan pemuda itu.” Panah itu meleset tepat mengenai pelipisnya. Lalu pemuda itu memegang anak panah itu dan mati. Ketika itu orang-orang yang menyaksikan, ramai-ramai mengatakan, ”Kami beriman kepada Tuhan pemuda itu.” Lalu dikatakan kepada raja, ”Tidakkah Anda saksikan apa yang selama ini Anda khawatirkan? Demi Allah, sesungguhnya hal itu telah terjadi. Semua orang beriman kepada Allah.” Raja memerintahkan untuk menggali tanah, dan dibuatlah   beberapa parit, lalu dinyalakan api di sana. Dia berkata, ”Barangsiapa yang kembali kepada agamanya, maka biarkanlah orang itu, bila tidak, masukkanlah dia ke sana.” Mereka semua dipaksa dan didorong masuk ke parit. Datanglah seorang wanita dengan anak yang masih disusuinya, seolah-olah dia ragu-ragu masuk ke dalam api, namun anaknya berkata, ”Bersabarlah wahai ibuku! Sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran.”

Inilah riwayat yang dikutip dari Tafsir Ibnu Kastir tentang sejarah Ashaabul Ukhdud  yang disinggung dalam ayat di atas.

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment