Cara Mendidik Anak Agar Bermental Tangguh

Di zaman yang serba cepat dan modern saat ini, setiap orang dihadapkan pada tantangan dan persaingan yang makin ketat.  Kenyataan ini tak bisa dipungkiri dan kita dituntut berjuang meningkatkan kapasitas dan kemampuan diri agar tidak kalah bersaing.  Selain kapasitas dan kemampuan, yang tak kalah penting adalah karakter yang kuat dan bermental baja

Pribadi yang berkarakter kuat dan tangguh akan lebih siap dalam bersiang dan bertahan dari perkembangan zaman. Oleh sebab itu, sudah seharusnya karakter ini ditanamkan dalam pribadi dan juga keluarga.  Bahkan, pembentukan karakter ini mesti diawali sejak dini dan menjadi bagian penting dari pola mendidik anak-anak di rumah.

promooktober1

Seperti dijelaskan oleh  Perwitasari, psikolog dan konselor Yayasan Kita dan Buah Hati, karakter mental baja adalah softskill yang dibutuhkan agar seorang bersifat tangguh dan mampu bertahan hidup.  Mental seperti ini dibutuhkan  setiap anak agar berkembang dengan baik. ” Yang dibutuhkan oleh anak bukanlah sikap yang tidak berperasaan, cuek atau ndablek.”

Anak yang tangguh bermental baja,  diartikan sebagai anak-anak yang percaya diri, mampu, memiliki fighting spirit yang tinggi.  Mereka tidak mudah menyerah dan  tidak mudah kecewa.

Menurut Perwitasari, ada beberapa tips yang harus diperhatikan orang tua dalam membentuk anak berkarakter seperti ini.

Pertama, orang tua harus selalu berpikir positif bahwa setiap anak mempunyai kemampuan dan talenta yang berbeda, sehingga tidak tergoda untuk membandingkan anak kita dengan siapapun.  Membandingkan, hanya akan menghancurkan konsep diri anak. Boleh saja membandingkan, tetapi dengan diri anak itu sendiri, dan bukan dengan orang lain.

Kedua,  sebagai orang tua biasakan untuk tidak mengambil alih urusan anak yang kita anggap mereka belum bisa. Orang cukup membantu dan mengajak ia melihat apa yang membuatnya kesulitan. Jangan lupa, berikan alternatif pemecahan masalahnya.

Dalam proses mendidik anak, lanjut Perwitasari, selain memberi tuntutan yang tinggi, orang tua wajib memberi  dukungan yang tinggi.  Tuntutan tinggi misalnya dalam hal memakai sepatu. Berikan dukungan tinggi pada anak dengan cara mengajarkannya dan menyediakan sepatu yang pas dengan usianya. Dua hal tersebut, ujarnya,  akan membangun kepercayaan diri dan kemandirian, sehingga membentuk karakter anak tangguh bermental baja.

Ketiga, setiap orang tua mesti memberi contoh kepada anak bagaimana peduli dan rendah hati kepada orang lain. Libatkan ia pada aktivitas yang dapat mengasah rasa kepedulian pada orang lain. Dan berikan apresiasi pada tiap perilaku baik yang ditunjukkannya.

Membentuk dan mendidik anak supaya tangguh, kata Perwitasari, bukanlah dengan cara kekerasan, melainkan ketegasan, dan mengajarkan mereka tentang konsekuensi. Bila anak laki-laki punya mental cemen dan penakut, ajarkan dia tentang keberanian. Caranya dengan memberi kesempatan ia memimpin kegiatan di keluarga. Beri kesempatan ia menjalani perannya.

Dalam mendidik anak laki-laki agar tangguh tapi tidak kasar, orangtua harus menggunakan kalimat positif.  Hindari kalimat negatif. Kalimat positif selalu diawali dengan memahami perasaan anak. Agar tidak kasar, latih pula anak  untuk mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata.   Beberapa anak mungkin belum bisa mengungkapkan isi hatinya dengan kata-kata, dan orang tua berkewajiban mengajarkannya, misalnya dengan berpura-pura menjadi anak.

Saat anak pulang sekolah dalam keadaan menangis, misalnya beri kesempatan anak kita untuk melampiaskan emosinya. Terima dulu perasaannya. Beri kesempatan ia lampiaskan emosi dengan mengajak ia mau bercerita. Setelah kondisinya tenang, ajak anak berpikir dan merespons apa yang perlu dilakukan anak selanjutnya. Respon tersebut tidak harus dengan satu cara, pancing anak untuk mempunyai beberapa alternatif penyelesaian masalah sesuai kondisi mereka.

Perwitasari menegaskan, bila anak tidak mandiri dan tidak percaya diri, jangan-jangan itu karena kesalahan kita mendidik mereka. “Cek pola asuh kita, apakah kita membanding-bandingkan ia dengan orang lain? Apa kita mengambil alih masalah anak?”

Ia berpesan, orang tua harus adil dalam melihat kondisi anak. Setiap anak punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jangan melihat dari satu sisi saja, tapi lihat dari berbagai aspek perkembangan anak. Berikan apresiasi pada setiap kelebihan yang dimiliki oleh anak kita.

Seorang anak yang tangguh memiliki daya juang tinggi. Beri kesempatan anak kita untuk selesaikan masalahnya sendiri sampai tuntas. “Karena yang terpenting adalah proses. Orang tua mesti percaya dan mengajarkan kepada anak bahwa ada Tuhan yang akan menolongnya dan kita orang tua adalah orang yang bisa dipercaya.”

Keyakinan ini membuat anak menjadi lebih percaya diri, bahwa ia tidak akan sendiri dalam menghadapi masalah.  Ia memang perlu menyelesaikannya sendiri, tetapi ia tahu ada Tuhan yang selalu menjaganya dan ada kita yang selalu mendukungnya. (asep)

Editor Bahasa: Desi

Credit Foto : Norman Rhamdhani

(Visited 130 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment