Agar Warisan Tak Menimbulkan Perselisihan

asuransi

HARTA tetaplah harta yang senantiasa berkilau menyilaukan dan kerap diperjuangkan atau diperebutkan oleh manusia, bahkan ketika ia hadir dalam bentuk warisan. Ya, ketika seharusnya almarhum didoakan agar arwahnya tenang di alam kubur sana, tak jarang beberapa ahli waris malah memperebutkan warisan. Terlebih jika almarhum meninggalkan warisan dalam jumlah yang tidak sedikit. Keserakahan dan tidak fahamnya aturan pembagian warisan merupakan kombinasi klop yang dapat memercikkan api persengketaan.

Gara-gara berebut warisan, seorang ibu (tiri) mengusir anak (tiri)nya demi menguasai secara penuh warisan yang ditinggalkan suaminya. Gara-gara berebut warisan, dua orang kakak beradik tidak pernah bertegur sapa lagi setelah sebelumnya mereka saling gugat harta peninggalan orangtua di pengadilan. Gara-gara warisan pula, istri pertama dan kedua saling gugat sebidang tanah yang ditinggalkan mendiang suami mereka. Bahkan, seorang paman tidak segan membunuh ponakannya sendiri gara-gara birahi ingin menguasai warisan saudaranya.

promooktober

Terdengar klasik memang tapi begitulah berita di sejumlah media masa mengenai konflik keluarga memperebutkan harta warisan. Mungkin Anda bersyukur karena kejadian tersebut tidak menimpa keluarga Anda. Kami turut senang mendengarnya. Namun, hal tersebut bukan berarti Anda tidak harus mengantisipasi kejadian serupa. Ya, siapa yang bisa menjamin kerukunan keluarga Anda tidak akan terusik bila satu saat, satu di antara anggota keluarga gelap mata karena harta (warisan)?

Ada baiknya, sedari sekarang Anda mempelajari berbagai seluk beluk ilmu waris yang oleh dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Dr. H. Dedeng Rosiddin., M.Ag. dinilai sangat penting. Karena pentingnya, bahkan sampai-sampai Allah sendiri yang menentukan takarannya. Ya, dalam sejumlah keterangan Allah menjelaskan jatah harta warisan yang didapat oleh setiap ahli waris. Hal ini dilakukan mengingat harta dan pembagiannya merupakan sumber ketamakan bagi manusia. Dan, sebagaimana sering kita dengar kabarnya di berbagai media masa, perebutan harta warisan kerap merusak bahkan memutus tali silaturahmi dan persaudaraan.

Pada dasarnya, penyebab waris terdiri dari tiga hal; nikah dengan akad yang benar, nasab atau keturunan, serta perwalian yaitu ashobah yang disebabkan kebaikan seseorang terhadap budaknya dengan menjadikannya merdeka (maka dia berhak untuk mendapatkan waris). Tanpa bermaksud mendeskreditkan nikah siri, model pernikahan tersebut kerap mejadi cikal bakal konflik keluarga yang dapat pula berujung pada perebutan warisan. Dikarenakan akadnya yang tidak dilaksanakan secara terang-terangan (disaksikan oleh banyak orang), istri siri dan anak dari hasil pernikahan siri kerap dikesampingkan hak warisnya. Hal ini akan berbuntut panjang manakalah sang istri (demi memperjuangkan hak anaknya) menuntut hak pembagian waris sebagaimana terjadi pada salah seorang figur publik kita.

Selanjutnya, ada tiga hal yang menjadi penyebab terhalangnya warisan. Ketiga hal tersebut adalah perbudakan, membunuh tanpa dasar dan perbedaan agama. Perbudakan mungkin tidak menjadi penyebab perselisihan karena memang praktek perbudakan sudah tidak ada lagi saat ini. Yang menjadi ironi adalah ketika salah seorang anggota keluarga tega membunuh anggota keluarganya yang lain untuk menguasai hak waris. Selain membunuh (tanpa alasan yang dibenarkan dalam Islam) adalah dosa besar, kasus pembunuhan gara-gara berebut warisan secara otomatis menghilangkan hak waris yang bersangkutan. Kalau sudah begini, bukankah orang tersebut sudah celaka dua kali?

Sebagian orang juga mempertentangkan perbedaan jatah pembagian warisan untuk laki-laki yang lebih besar dari jatah pembagian warisan untuk perempuan. Menganggapi hal ini, Mamah Dedeh berpendapat bahwa keadilan yang hakiki itu datangnya dari Allah Swt. Bagi mereka yang menganggap ketentuan Al-Quran dan hadits kurang adil, Mamah Dedeh dengat tegas menyatakan bahwa sikap tersebut sama saja dengan meremehkan hukum Allah Swt. Sebenarnya, ada hikmah di balik perbedaan jatah tersebut yang jika dicermati lebih jauh tidak akan merugikan pihak mana pun. Hanya saja, nafsu kita akan harta benda menyebabkan setan masuk ke dalam hati dan membisikkan tuntutan yang sebenarnya tidak harus diajukan.

Jadi, selain memahami ilmu waris dengan benar, kontrol diri agar tidak tamak dan rakus terhadap warisan juga sangat diperlukan. Bukankah manusia akan meminta ‘bukit emas’ yang kedua setelah di tangannya tergenggam ‘bukit emas’ yang pertama?

Penulis : Muslik

 

(Visited 26 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment