8 Mitos Peran Orangtua Dalam Rumah Tangga

 

Rumah tangga dibentuk oleh dua insan yang terikat sebagai suami istri (ayah ibu) yang karena didasari oleh cinta dan kasih  sayang serta ingin karunia-Nya maka lahirlah keturunan sebagai pelanjut sejarah. Ketika anak-anak telah lahir maka orangtua dituntut perannya dalam mengasuh,mendidik dan membesarkannya. Namun ditengah masyarkat ada mitos tentang peran atau posisi orangtua tersebut sepert:

  1. Ayah adalah “polisi” yang bertugas mendisiplinkan dan menghukum anak.

Jika konteksnya menghukum untuk mendisiplinkan dalam rangka mendidik maka peran tersebut bukan hanya milik seorang ayah namun ibu juga. Bahkan jika seorang kakak pun bisa mendisiplinkan adiknya dengan cara bijak dan tidak bersikap sebagai seorang “senior”.

donasi perpustakaan masjid
  1. Belanja adalah “pekerjaan” ibu.

Tugas dan perkerjaan seorang sungguh berat dan sangat repot,apalagi jika mempunyai balita. Pekerjaan itu dimulai dari bangun tidur di pagi hari hingga menjelang tidur di malam hari. Jika terlihat istri begitu sibuk maka tidak ada salahnya seorang suami atau ayah yang berbelanja. Saat hari libur sambil mengajak anak,sesekali seorang ayah bisa berbelanja ke pasar atau pusat perbelanjaan. Saat ini sudah banyak pasar tradisional yang bersih,begitu pun penjualnya yang laki-laki sehingga berbelanja bisa menjadi nyaman dan tidak menimbulkan grogi. Dengan berbelanja sendiri maka suami bisa memilih bahan masakan sesuai selera dan istri akan dengan senang hati memasaknya.

  1. Tugas ayah mendidik anak laki-laki, ibu mendidik anak perempuan.

Tugas dan kewajiban mendidik adalah tanggung jawab bersama antara suami dan istri. Dalam beberapa kasus memang ada anak laki-laki yang lebih dekat kepada ayahnya,sementara anak perempuan dekat kepada ibunya. Secara psikolis memang terdapat hubungan emosional namun hal itu bukanlah aturan baku dalam mendidik anak.

  1. Ayah diambilkan koran, ibu dibantu memasak.

Mitos ini seolah-olah menempatkan bahwa ayahlah yang mengajarkan ilmu pengetahuan,sementara ibu berperan dalam memberikan ketrampilan. Suami dan istri terkadang mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda sehingga bisa diterapkan dalam mendidik anak-anaknya. Terkadang ada seorang ibu yang jago Matematika dan ilmu pengan alam (MIPA) sementara ayah lebih jago kerajinan tangan maka potensi orangtua demikian tidak harus dipaksakan sesuai mitos tersebut.

  1. Menyuapi makan dan mengganti popok adalah urusan ibu semata.

Kesibukan seorang ibu akan sangat repot sekali tatkala mempunyai bayi atau balita. Dalam kondisi demikian ibu juga dalam beberapa bulan atau tahun pertama akan selalu kurang tidur malam karena kehadiran sang buah hati. Melihat istri yang begitu repotnya maka tidak ada salahnya suami turut membantu meski hanya sekedar membantu mengganti popok atau menyiapkan pakaian sang buah hati. Aktivitas ini juga diyakini dapat mendekatkan emosional antara ayah dengan anak.

  1. Sikap ibu hamil mempengaruhi janin,sikap ayah tidak.

Emosi seorang ayah dapat mempengaruhi emosi istri begiti pun saat sedang hamil. Sementara emosi ibu yang tengah hamil baik langsung atau tidak akan mempengaruhi kondisi janin yang dikandungnya. Sesekali ayah bisa membelai perut ibu yang tengah hamil sambil berkomunikasi . Bahkan baru-baru ini ada alat yang dipasang diperut suami yang dapat mendeteksi gerak gerik janin yang tengah dikandung ibunya. Sementara gerak gerik janin juga dipengaruhi kondisi emosional sang ibu.

  1. Aturan dibuat hanya untuk ditaati anak.

Pada hakekatnya sebuah aturan itu dibuat untuk membuat suasana menjadi teratur dan harmonis. Demikian juga aturan dalam keluarga dibuat tentu agar hubungan dan kondisi seluruh keluarga nyaman,aman,bahagia dan harmonis. Tentu akan menjadi kesalahan jika anak-anak hanya dijadikan obyek peraturan yang dibuat orangtua. Agar anak paham dan mau mentaati alangkah bijaksananya jika dalam membuat aturan juga melibatkan anak untuk mendengar aspirasinya.

  1. Ayah harus berpenghasilan lebih besar dari ibu.

Tugas ayah adalah menjemput rezeki dan karunia Allah melalui bekerja sehingga dapat memberikan nafkah kepada keluarga dari rezeki yang halal dan thayyib. Namun dalam kondisi tertentu kadang penghasilan suami tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga. Dalam kondisi demikian seorang istri tidak dilarang untuk turut membantu ekonomi keluarga dengan bekerja yang dibenarkan oleh syariat. Zaman sekarang bekerja tidak harus keluar rumah,beberapa ibu juga bisa sukses bisnis dari rumah dengan omzet yang besar. Hal ini dalam Islam tentu tidak dilarang  sepanjang sesuai syariat dan tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya. Meski dalam suatu waktu penghasilan istri bisa saja lebih besar dari suami bukan berarti tugas suami memberi nafkah menjadi berpindah. Suami tetap berkewajiban menafkahi keluarga dan istri tidak boleh meremehkan penghasilan suami yang kecil disbanding dengan rezekinya.

Tentu saja masih ada beberapa mitos tentang peran ayah dan ibu (orangtua) dalam rumah tangga. Suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban masing-masing dalam rumah tangga. Orangtua mempunyai peran yang sama dalam mendidikan anak-anak untuk menjadikan mereka saleh salehah. Namun karena suami adalah pemimpin rumah tangga tentu mempunyai kewajiban yang lebih dominan ketimbang istri. Kewajiban orangtua yang utama adalah menjadikan anak-anak yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya:

“Hai, orang-orang beriman! Jauhkan diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat kasar dan tegas, yang tidak durhaka kepada Allah dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya”. (QS.Ath-Tahrim: 6) [Berbagai sumber]

 

Red: Iman

Editor: Candra

Ilustrasi foto: Norman

 

 

(Visited 23 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment