Pengamat : Aksi Jihad di Indonesia Tidak Jelas.

Jihad adalah salah satu ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Ia merupakan ibadah yang mulia dan setiap muslim mempunyai kewajiban untuk melaksanakannya. Namun, karena ibadah ini milik dan perintah Allah Swt., maka sudah pasti untuk melaksanakannya harus sesuai dengan yang telah Allah tetapkan.

Demikian sebagian ungkapan Abu Rusydan, pakar dan pengamat harokah Islamiyah dalam acara bedah buku “Balada Jihad Aljazair”, di Bandung, Ahad (3/1/2016). Ia menambahkan, khusus di Indonesia dalam beberapa kasus yang diklaim sebagai aktivitas namun dalam timbangan syar’i belum memenuhi kriteria sebagai tindakan jihad. Menurutnya, ibadah jihad dalam arti berperang melawan musuh Allah di medan pertempuran sesungguhnya, tidak semudah dan secepat mempelajarinya yang hanya lewat buku atau ikut pengajian semata.

promooktober1

“Khusus di Indonesia, saya secara pribadi melihat masalah “aksi jihad” ini tidak jelas. Ketidakjelasannya ini bisa dilihat dari tidak jelas kawannya (ikhwan), tidak jelas musuhnya, tidak jelas medannya, tidak jelas pemimpinnya, tidak jelas alasan atau landasan syariatnya serta tidak jelas ulama yang memfatwakannya,” jelas mantan mujahidin Afghanistan ini. Hal ini, imbuh Abu Rusydan, berbeda dengan kondisi di wilayah konflik seperti di Timur Tengah seperti di Afghanistan atau Palestina dan beberapa wilayah lainnya.

Dengan melihat ketidakjelasan tersebut, ia menghimbau kepada umat Islam untuk lebih berhati-hati dalam menanggapi atau menerima ajakan untuk berjihad dari orang yang belum dikenal secara mendalam. Pasalnya, jika salah langkah maka akan berubah sebaliknya, yang tadinya ingin membangun dan memuliakan Islam justru akan merobohkan bangunan Islam.

“Ibadah ini (jihad) risikonya terlalu tinggi dan besar, bukan hanya dengan harta dan nyawa sekaligus akan tetapi membawa nama Islam di dalamnya sehingga jika salah akan menimbulkan opini yang kontra produktif dengan aktivitas dakwah Islam itu sendiri,” jelasnya.

Untuk itu, ia memberi nasehat bijak khususnya bagi generasi muda Islam tidak mudah terjebak dalam lubang yang telah di gali oleh Islam. Semua amal ibadah dalam Islam harus berdasarkan dalil yang jelas baik Al Qur’an serta ada contoh dari Rasulullah. Menurutnya, modal semangat saja tidak cukup untuk mengantarkan seorang muslim menjadi mujahid.

“Jika mengacu pada pola pendidikan atau proses pengkaderan, mereka (mujahid luar negeri) mengalami pengasuhan yang panjang. Bukan ikut kajian dua atau tiga kali atau baca dan belajar dari internet saja langsung berangkat. Lalu melakukan tindakan serampangan, akan tetapi prosesnya panjang,” pungkasnya.

Acara yang digelar di Masjid Istiqomah Bandung ini dihadiri ratusan jammah. Selain Abu Rusydan,  narasumber lain turut hadir adalah Harits Abu Ulya (Direktur The Community of Ideology Islamic Analyst/ CIIA) yang menyatakan bahwa perbedaan cara pandang dan praktik jihad di Indonesia harus disikapi secara hati-hati dan bijaksana.

“Hakikat dakwah itu mengajak orang kafir kepada Islam bukan malah mengkafirkan orang yang sudah Islam,” ungkapnya. [ ]

Rep: Iman

Editor: Candra

Editor Bahasa: Desi

(Visited 13 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment